x

Iklan

BungRam

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 1 Juni 2023 16:30 WIB

Benarkah ChatGPT Jadi Ancaman bagi Guru?

ChatGPT telah banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan terutama dalam hal mendukung guru dan tugas mereka yang tak ada habisnya. Di sisi lain, ini peluang bagi siapa saja menambah jendela-jendela pengetahuan baru. Sebelumnya mungkin kita sulit menemukan akses yang lebih cepat dan sesuai preferensi setelah mesin pencari Google.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Saat ChatGPT muncul, gelombang kekhawatiran melanda dunia akademik. Rektor, dosen, guru dan para peneliti profesional mempertanyakan tentang kemunculan teknologi chatbot yang dikembangkan oleh OpenAI dan dirilis pada November 2022 itu.

Nama "ChatGPT" menggabungkan "Chat", mengacu pada fungsionalitas chatbotnya, dan "GPT", yang merupakan singkatan dari Generative P re -trained T ransformer , sejenis model bahasa besar (LLM).  ChatGPT dibangun di atas model GPT dasar OpenAI , khususnya GPT-3.5 dan GPT-4 , dan telah disesuaikan (suatu pendekatan untuk mentransfer pembelajaran) untuk aplikasi percakapan menggunakan kombinasi teknik pembelajaran yang diawasi dan penguatan .

ChatGPT adalah asisten virtual yang dapat menjawab pertanyaan dan menghasilkan teks secara real time. Teknologi bertenaga AI ini dilatih menggunakan algoritma pembelajaran mesin, yang memungkinkannya menghasilkan jawaban dan tanggapan atas pertanyaan, seperti halnya mesin pencari – Google, Yahoo, Safari, atau Bing.

Bagaimana itu semua mengubah cara orang belajar dan mengajar? Cara orang menemukan solusi “cepat” dengan bantuan kecerdasan buatan dari sumber data yang tak terhingga?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kontroversi menjadi niscaya yang dimulai dengan kekhawatiran penyalahgunaan. Chatbot AI  tersebut dipandang sebagai ancaman – threat, namun sekaligus harapan.   Open AI membuat para praktisi memiliki hubungan cinta-benci karena kemampuannya memecahkan masalah. Tetapi seperti kebanyakan teknologi baru,  akan memiliki tempatnya di ruang kelas jika digunakan dengan baik dan bijak.

Sejak diperkenalkan, telah banyak pemanfaatan ChatGPT untuk  pendidikan, terutama dalam hal mendukung guru dan tugas mereka yang tampaknya tak ada habisnya. ChatGPT membantu sangat banyak dan memberikan efisiensi bagi guru dalam mempersipakan pembelajarannya.

Di sisi lainnya, ini peluang bagi siapa saja menambah jendela-jendela pengetahuan baru, yang mungkin setiap kita sebelumnya sulit menemukan akses yang lebih cepat dan sesuai preferensi kita setelah mesin pencari Google.

Bagaimana kita memanfaatkan ChatGPT dalam kegiatan di kelas?

Sebagai dosen, sebagai guru, kecerdasan buatan (AI) lewat aplikasi ChatGPT memfasilitasi sarana untuk menjawab berbagai macam pertanyaan.

Sesungguhnya menurut saya sendiri, itu nampak seperti medium teman diskusi yang jujur. Meskipun pada prinsipnya sebagai ‘human’, kita tetap tidak boleh meninggalkan kemampuan kita dalam berpikir natural dan kritis. 

“Keterbatasan” manusia adalah “modal” besar untuk melahirkan daya imajinasi dan kreatifitas. Yakinlah, dua hal itu (imajinasi dan kreatifitas) tidak akan pernah tergantikan oleh AI!

Melalui penggunaan ‘prompt’ yang spesifik dan pertanyaan yang berurut, kita dapat mengidentifikasi hubungan dunia nyata dengan topik pembelajaran yang kita laksanakan, menghubungkannya dengan minat siswa, dan membuat pengembangan berbagai bahan ajar untuk digunakan di kelas.

Untuk memanfaatkan teknologi AI seperti ChatGPT di kelas, berikut hal-hal yang dapat dilakukan oleh guru:

1.  Fungsikan ChatGPT sebagai search engine alternatif

Di awal tahun ajaran Anda dapat memanfaatkan ChatGPT untuk membuat kerangka pemetaan siswa, tujuannya adalah mengetahui secara data yang bersumber dari data digital berbagai sumber yang disesuaikan dengan ‘prompt’ pertanyaan atau fokus Anda dalam mencari tau hal-hal yang berkaitan secara algoritma mengenal siswa Anda—minat dan aspirasi mereka. Apakah menggunakan survei formal atau observasi kelas umum, Anda telah membangun repertoar pengetahuan tentang topik apa yang menurut mereka relevan dan apa yang paling menarik minat siswa Anda. Melalui informasi inilah Anda dapat memfilter jawaban melalui ChatGPT.

Satu contoh promt yang saya gunakan lewat ChatGPT terkait topik di atas:


“Dapatkah anda memberikan kerangka acuan jika saya ingin membuat pemetaan tentang minat dan bakat siswa di awal tahun ajaran.  Rekomendasikan 5 aplikasi online yang dapat saya gunakan”.

ChatGPT akan mengarahkan Anda kepada penentuan tujuan pemetaan, kemudian alasan Anda membuat pemetaan, metode pemetaan, area yang ingin digali, Instrumen pemetaan beserta langkah yang perlu dilakukan agar relevan.

ChatGPT kemudian merekomendasikan aplikasi online yang mungkin dapat Anda gunakan (tentu akan disesuaikan berdasarkan konsentrasi data yang sering tertangkap oleh algoritma) dalam pencarian Anda menggunakan internet. Di tahapan ini menurut saya AI sedang membantu Anda lewat fasilitasi program yang mendorong Anda melakukan pemikiran yang lebih mendalam dan valid sesuai data yang dimiliki oleh tim ChatGPT.  Lihat selengkapnya di sini.

2.  Fungsikan ChatGPT sebagai pintu ide membuat konten pelajaran

Anda dapat menggunakan ChatGPT untuk membantu mendapatkan ide membuat konten pelajaran dan memberikan pengalaman yang menarik bagi siswa Anda.

Anda dapat bayangkan, saat Anda membolak-balik buku panduan, buku pegangan siswa atau sumber materi ajar lain secara manual, berapa lama waktu yang Anda butuhkan? Bagaimana Anda menentukan pilihan yang lebih relevan agar integratif dengan hasil pemetaan yang Anda lakukan sebelumnya?

ChatGPT membantu Anda dengan pilihan yang bisa dibilang super lengkap! Tentu Anda tidak dapat menjadi plagiator, alih-alih,  Anda dapat memaksimalkan pengalaman mengajar Anda dengan saran yang cukup lengkao dan lebih terus didalami, dieksplorasi sesuai kata kunci yang sesuai berdasarkan kebutuhan Anda.

3.  Fungsikan ChatGPT untuk merancang rubrik penilaian yang tepat

Banyak proses pembelajaran menjadi kekurangan nilai dan relevansinya dengan konteks kehidupan karena guru tidak mampu membuat rancangan penilaian / asesmen secara tepat dan menantang kemampuan belajar siswa.  Format penilaian sering monoton dan tidak memberikan dampak kepada peningkatan motivasi belajar.

Rubrik penilaian tentu menjadi satu instrumen yang patut dibuat oleh setiap guru. ChatGPT sangat mampu memberikan advice dan opsi serta uraian yang lengkap dengan ‘prompt’ pertanyaan yang tepat.

Langkah-langkah untuk membuat rubrik penilaian yang disarankan oleh ChatGPT bisa dilihat di sini.

4.  Fungsikan ChatGPT untuk menyusun tugas kinerja yang lebih baik

Untuk mengeksplorasi pembuatan berbagai tugas kinerja, di mana siswa terlibat dalam keterampilan berpikir kritis tingkat tinggi untuk mengaplikasi pengetahuan mereka. Anda dapat membuatnya dengan dan tanpa scaffolding (pijakan).

Satu contoh promt yang saya gunakan lewat ChatGPT terkait tugas kinerja untuk siswa SMP:

“Bagaimana cara membuat penilaian tugas kinerja yang baik untuk siswa menengah?  Berikan uraian lengkap untuk 3 contoh tugas kinerja berkenaan dengan pelajaran pengetahuan alam”.

ChatGPT kemudian merekomendasikan kegiatan eksperimen sains. Memberikan uraian langkah-langkah sederhana untuk membuat penilaian tugas unjuk kinerja; identifikasi tujuan, petunjuk pelaksanaan tugas, pelaksanaan eksperimen, analisis kesimpulan serta penilaian.

Kemudian saya disarankan memberikan tugas penulisan laporan penelitian bagi siswa. Tugas ini mengharuskan siswa melakukan penelitian dan menyajikan temuan mereka dalam sebuah laporan.

Uraian ChatGPT membuat tugas kinerja untuk siswa menengah dapat dilihat di sini.

5.  Fungsikan ChatGPT untuk menyusun tugas proyek dan kegiatan berbasis inkuiri.

Proyek dan aktivitas berbasis inkuiri membantu siswa berpikir kritis dan berkolaborasi. Melalui bantuan ChatGPT, guru dapat mempersingkat waktu penulisan rencana pembelajaran dan dengan mudah mencari berbagai alternatif proyek, topik kegiatan, kriteria penilaian, serta sumber-sumber bacaan yang mendukung.

Dengan kolaborasi kerja antara guru dengan platform berbasis AI tersebut, menurut saya membuka banyak kesempatan bagi siswa mendapat pengalaman lebih komprehensif.

Meskipun tidak diragukan lagi bahwa ChatGPT memiliki potensi yang mengesankan untuk mendukung guru  dalam berbagai tugas, penting untuk diingat bahwa sentuhan manusialah yang penting. Menggunakan ChatGPT sebagai batu loncatan, guru dapat menggunakan pengetahuan tentang minat dan keterampilan siswa untuk merancang pelajaran dan aktivitas terbaik untuk memenuhi kebutuhan siswa. Kemampuan guru untuk menghubungkan siswa dan standarlah yang membuat pengalaman belajar berdampak, bukan cara cepat yang mengesankan di mana pelajaran atau aktivitas dirancang.

Peran kecerdasan buatan akan semakin berkembang dan bertambah kompleks. Hal ini sudah banyak didiskusikan, bahkan diperdebatkan oleh kalangan yang berpendapat, bahwa peran manusia harus didahulukan sebagai eksistensi yang utama dalam pembentukan peradaban. Teknologi adalah buah pikiran dan evolusi kecerdasan. Ia seperti layaknya teknologi secara umum, dapat menjadi mulia di tangan orang yang bijak dan memahamai nilai kemanusiaan. Sebaliknya kecerdasan buatan bisa juga menjadi ancaman yang menakutkan, mulai dari dehumanisasi, hingga kepunahan akibat eksploitasi pemikiran  dan hasrat yang tidak bertanggungjawab.

Jadi, ChatGPT sesungguhnya bisa menjadi asisten diskusi virtual yang efektif dan menyenang, bukan ancaman.

Ikuti tulisan menarik BungRam lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler