Ancaman Spionase Kabel Bawah Laut di Laut China Selatan

Kamis, 30 Mei 2024 05:12 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Spionase kabel bawah laut di Laut China Selatan, khususnya melalui penggunaan kapal reparasi, berdampak signifikan terhadap keamanan dan kedaulatan Indonesia. Mereka dapat meningkatan pengawasan aktivitas militer dan pemerintahan di wilayah maritim. Mereka dapat mengganggu operasi militer dan menimbulkan ancaman keamanan nasional.

Kabel bawah laut merupakan komponen vital dalam infrastruktur jaringan global, berperan penting dalam memfasilitasi komunikasi internet dan telekomunikasi antar negara. Kabel serat optik ini terbentang di dasar laut, menghubungkan berbagai benua dan mengantarkan hampir seluruh lalu lintas data internasional, termasuk komunikasi internet, telepon, dan militer. Fungsinya yang krusial menjadikan kabel bawah laut sebagai tulang punggung konektivitas global, memungkinkan pertukaran informasi dan data secara cepat dan efisien.

Secara geografis Asia Tenggara dan Oceania sangat bergantung pada infrastruktur kabel bawah laut untuk konektivitas internasional yang melintasi Laut China Selatan (LCS). Data dari TeleGeography menunjukkan  kabel bawah LCS sangat komplek dan terus berkembang. Hal ini diperkuat dengan rencana investasi besar senilai 6 Miliar Dollar untuk pembangunan kabel baru yang dijadwalkan beroperasi antara tahun 2022 dan 2024, dengan fokus utama menghubungkan kedua wilayah tersebut.

Laut china selatan

Kabel Echo dan Bifrost akan menjadi yang pertama menghubungkan Singapura secara langsung ke Amerika Serikat, melampaui jalur barat tradisional. Di sisi lain, kabel Apricot akan membuka jalur baru dengan menghubungkan Jepang dan Singapura melalui rute di sebelah timur Filipina.

Peta Kabel bawah laut Asia Tenggara – Oceania 2023, sumber : https://submarine-cable-map-2023.telegeography.com/

Kabel Echo, Bifrost, dan Apricot adalah semua kabel bawah laut yang sedang dibangun atau direncanakan untuk menghubungkan berbagai negara di Asia dan Oceania. Mereka penting untuk meningkatkan konektivitas internasional di kawasan tersebut.

Ancaman Spionase

Spionase kabel bawah laut melibatkan penyadapan, manipulasi, atau perusakan kabel-kabel ini secara tidak sah untuk mengakses data sensitif. Jenis spionase ini dapat dilakukan oleh aktor negara, organisasi kriminal, atau entitas lain yang berusaha mengeksploitasi informasi berharga yang ditransmisikan melalui kabel-kabel ini. Dengan mengakses fisik kabel, mata-mata dapat menyadap aliran data untuk mencegat komunikasi. Ini memerlukan peralatan khusus dan keahlian teknis, tetapi dapat menghasilkan jumlah informasi yang sangat besar.

Peningkatan cepat kekuatan militer Tiongkok di Laut Cina Selatan telah memperburuk kekhawatiran tentang kerentanan kabel bawah laut. Intelijen AS telah lama mewaspadai potensi risiko spionase yang terkait dengan pemeliharaan dan perbaikan infrastruktur kritis ini.

Media AS Wall Street Jurnal (WSJ) menuliskan bahwa Amerika Serikat khawatir kabel bawah laut rentan terhadap spionase dari kapal-kapal perbaikan milik Tiongkok yang dioperasikan oleh S.B. Submarine Systems. S.B. Submarine Systems yang didirikan pada tahun 1995 di Shanghai, China, SBSS merupakan hasil kerjasama antara China Communications Services dan Global Marine Group, UK. Perusahaan ini bergerak di bidang pemasangan dan perawatan kabel bawah laut terkemuka di Asia, saat ini China Telecom, perusahaan yang dimiliki negara ini hampir menguasai seluruhnya melalui proses pembelian sisa saham dari perusahaan Inggris tersebut.

Perusahaan ini mengoperasikan kapal kapal perbaikan (repair ship) Tiongkok, hal ini menjadi sebuah kekhawatiran tentang potensi risiko keamanan terhadap kabel bawah laut yang menghubungkan dan melintasi Samudra Pasifik. Kabel-kabel ini sangat kritis dan penting bagi komunikasi komersial dan militer, bisa rentan terhadap manipulasi oleh kapal – kapal tersebut.

Modus dan Perilaku Kapal yang Mencurigakan

Data dari Marine Traffic, penyedia komersial, menunjukkan bahwa kapal-kapal seperti Fu Hai, Fu Tai, dan Bold Maverick secara berkala menghilang dari sistem pelacakan saat beroperasi di wilayah sensitif seperti Taiwan dan Indonesia. Celah-celah data ini dapat menandakan bahwa bahwa kapal-kapal tersebut mungkin terlibat dalam kegiatan seperti penyadapan aliran data secara diam-diam, pengintaian terhadap komunikasi militer, atau pencurian kekayaan intelektual

Kapal perbaikan yang ditugaskan untuk memperbaiki kabel yang rusak dapat menjadi vektor untuk spionase. Selama perbaikan, kabel diangkat ke permukaan, membuatnya rentan terhadap pemasangan perangkat pengawasan atau manipulasi lainnya. Pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menandai perilaku mencurigakan dari kapal perbaikan milik S.B. Submarine Systems, yang sering menghilang dari layanan pelacakan radio dan satelit, sebuah anomali yang tidak memiliki penjelasan jelas. Aktivitas mencurigakan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kapal-kapal tersebut mungkin sengaja menyembunyikan pergerakan mereka untuk melakukan operasi rahasia. Kapal perbaikan juga dapat digunakan untuk memetakan dasar laut dan mengidentifikasi lokasi kabel bawah laut. Informasi ini dapat digunakan untuk tujuan strategis, termasuk merencanakan kegiatan spionase atau sabotase di masa depan.

Aktifitas kapal perbaikan China di South China Sea berdasarkan AIS

Meskipun ada kekhawatiran ini, S.B. Submarine Systems belum memberikan pernyataan resmi, beberapa orang dalam industri mengatakan bahwa anomali data AIS/lokasi kapal dapat disebabkan oleh masalah teknis seperti cakupan satelit yang tidak merata, bukan penyembunyian yang disengaja. Mereka juga menyampaikan bahwa pemilik kabel sering memiliki perwakilan di kapal perbaikan, sehingga membuat aktivitas rahasia lebih sulit dilakukan.

Dampak Terhadap Indonesia

Dampak terhadap keamanan Indonesia meliputi peningkatan pengawasan oleh RRT terhadap aktivitas militer dan pemerintahan di wilayah maritim Indonesia, terutama di sekitar Natuna yang berbatasan dengan Laut China Selatan. Pengawasan ini dapat mengganggu operasi militer Indonesia dan menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional. Teknologi dan sensor yang digunakan oleh kapal-kapal reparasi memungkinkan RRT untuk mendeteksi dan melacak aktivitas kapal militer, meningkatkan risiko eskalasi militer dan ketidakstabilan regional. Hal ini menciptakan lingkungan yang penuh ketidakpastian dan berisiko tinggi bagi keamanan maritim Indonesia. Aktivitas kapal reparasi RRT dapat dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan, terutama jika pengawasan dan pemeliharaan kabel dilakukan di wilayah yang dekat dengan perairan Indonesia. Ini menambah rumit klaim wilayah di sekitar Natuna dan dapat memicu sengketa maritim antara Indonesia dan RRT. Penggunaan kapal reparasi untuk memantau dan mengendalikan jaringan kabel bawah laut di Laut China Selatan menunjukkan upaya sistematis RRT untuk memperkuat dominasi mereka di wilayah tersebut.

Dalam konteks ekonomi maritim, pengawasan ketat oleh kapal reparasi RRT dapat mengganggu lalu lintas maritim komersial di sekitar perairan Indonesia, yang vital bagi perekonomian negara. Gangguan terhadap jalur perdagangan utama ini dapat mempengaruhi kepercayaan investor dan pelaku bisnis yang bergantung pada jalur perdagangan yang aman dan bebas hambatan.

Secara keseluruhan, spionase kabel bawah laut oleh kapal reparasi RRT menimbulkan tantangan serius bagi keamanan dan kedaulatan Indonesia. Untuk mengatasi ancaman ini, Indonesia perlu mengembangkan strategi yang efektif, meningkatkan kemampuan pertahanan maritim, dan memperkuat kerjasama dengan negara-negara di kawasan guna menjaga stabilitas dan keamanan di Laut China Selatan. Diplomasi yang kuat dan langkah-langkah defensif yang tepat menjadi kunci untuk melindungi kedaulatan dan keamanan nasional Indonesia.

Isi dari artikel merupakan pandangan pribadi dan tidak mewakili Institusi Penulis

Daftar Pustaka

Sumber Berita:

  • Centris: Spionase China Sebagai Sistem Pengintaian Bawah Laut Terintegrasi: https://mediaindonesia.com/internasional/555260/centris-ingatkan-indonesia-atas-upaya-spionase-tiongkok
  • Reuters: US Revives Cold War Spy Sub Program to Counter China: https://www.reuters.com/investigates/special-report/usa-china-tech-surveillance/
  • The Diplomat: The Spy Cables of the South China Sea: https://thediplomat.com/tag/south-china-sea/
  • CNBC Indonesia: AS Tuduh China Sadap Kabel Bawah Laut, Bahaya untuk Keamanan Global? https://www.cnbcindonesia.com/news/20230120195435-4-407243/perusahaan-garap-proyek-kabel-bawah-laut-melintas-ri-bangkrut
  • Kompas: China Dituduh Sadap Kabel Bawah Laut di Laut China Selatan, AS dan Sekutunya Waspada: https://voi.id/teknologi/115312/takut-data-internet-disadap-china-biden-izinkan-google-dan-meta-gunakan-jaringan-kabel-bawah-laut-as

Laporan dan Analisis:

  • CSIS: Undersea Cables and China’s Espionage Threat: https://www.csis.org/analysis/securing-asias-subsea-network-us-interests-and-strategic-options
  • IISS: The Undersea Cables War: A New Front in Global Conflict: https://www.csis.org/analysis/securing-asias-subsea-network-us-interests-and-strategic-options
  • ORF: The Spy War Beneath the Waves: Understanding the Threat of Undersea Cable Espionage: https://unidir.org/wp-content/uploads/2023/05/UNIDIR_Wading_Murky_Waters_Subsea_Communications_Cables_Responsible_State_Behaviour.pdf
  • RAND Corporation: Securing the Undersea Cables: Challenges and Opportunities: https://www.rand.org/pubs/commentary/2024/03/vital-yet-vulnerable-undersea-infrastructure-needs.html

Jurnal Akademik:

  • Marine Policy: The Security of Undersea Cables: A Multi-Dimensional Approach: https://www.ofcs.it/internazionale/the-importance-of-protecting-submarine-cables-in-an-interconnected-world/
  • International Journal of Cyber Warfare and Terrorism: The Threat of Undersea Cable Espionage: A Case Study of the South China Sea: [URL yang tidak valid dihapus]

Buku:

  • Undersea Cables: The Hidden Infrastructure of the Internet: 
  • Spying in the Deep: The Underwater World of Intelligence Gathering: 
  • Cybersecurity in the Age of Great Power Competition: 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua