Malaysia: We Stole Everything from Indonesia

Sabtu, 1 Juni 2024 18:29 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam hal sejarah, Malaysia membuat propaganda Konsep Alam Melayu yang mengadopsi konsep Austronesia. Sejarah tidak bisa digunakan sebagai alat hegemoni maupun propaganda. Tidak ada tempat dogma dalam sains. Kalau sejarah digunakan sebagai alat hegemoni dan propaganda, tentu yang dicari bukan kebenaran tapi sibuk mencari pembenaran.

Malaysia : We stole everything from Indonesia. Ini ungkapan dari Christian Giacobbe, stand up comedian dari Italia yang mengkritik slogan pariwisata Malaysia. Malaysia ditertawakan Indonesia, bahkan dunia karena sering membuat narasi propaganda untuk mendominasi sejarah dan budaya Melayu. Hegemomi Malaysia atas Melayu banyak diupayakan berbagai kalangan masyarakat bahkan lembaga resmi pemerintahan Malaysia.

Dari propaganda tersebut sebetulnya banyak narasi-narasi dari Malaysia yang dirasa ambigu jika ditinjau dari perspektif Indonesia. Hegemoni Malaysia atas Melayu yaitu dengan berusaha menutupi sebagian sejarah bahkan ada yang sampai terjadi pembelokan sejarah, terutama sejarah yang berkenaan dengan Indonesia. Apa propaganda tersebut hanya upaya pencurian sistematis budaya dan bahasa Indonesia oleh Melayu Malaysia?

Dalam hal bahasa, sudah jamak Malaysia mengatakan bahwa Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu. Penutur Bahasa Indonesia disebut sebagai penutur Bahasa Melayu. Bahkan pascapenetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Unesco, Malaysia masih melabeli Bahasa Indonesia dengan sebutan Bahasa Melayu Indonesia.

Sedang di Malaysia sendiri, sesuai perkara 152 Perlembagaan Persekutuan menjelaskan bahwa bahasa Melayu yang dikenali juga sebagai bahasa Malaysia. Di sini tampak ambigu sekali menyebut bahasa Melayu yang dikenali juga sebagai bahasa Malaysia. Bahasa Melayu itu Bahasa Malaysia? Atau Bahasa Melayu itu berasal dari Malaysia? Kenapa menyebut yang dikenali juga sebagai Bahasa Malaysia saja, bukan Bahasa Melayu Malaysia? Sedang Bahasa Indonesia sering dilabeli sebagai Bahasa Melayu/Bahasa Melayu Indonesia. Beberapa kali juga Malaysia mengganti penyebutan bahasa resminya sebagai Bahasa Melayu dan Bahasa Malaysia.

Dalam perspektif Indonesia, Indonesia menyebut sesuai fakta bahwa Bahasa Indonesia berakar dari Bahasa Melayu tingkat tinggi (Bahasa Melayu tulis) dialek Melayu Riau-Lingga dan Belanda atau bahasa Melayu Hindia. Inilah yang sesungguhnya yang dikembangkan dan menjadi induk Bahasa Indonesia.

Dalam hal sejarah Malaysia membuat propaganda Konsep Alam Melayu yang mengadopsi konsep Austronesia. Sejarah tidak bisa digunakan sebagai alat hegemoni maupun propaganda. Sejarah merupakan sebuah kajian ilmu dan pembelajaran (sains) yang sifatnya  kronologis atau dikaji berdasarkan dengan tempo atau urutan waktu di segala sisi sosial budaya dari suatu masyarakat.

Tidak ada tempat dogma dalam sains. Kalau sejarah digunakan sebagai alat hegemoni dan propaganda, tentu yang dicari bukan kebenaran tapi malah sibuk mencari pembenaran. Pembenaran tentu justru akan jadi jebakan timbulnya keabsurdan, dari sains menjadi non sains.

Sejarah itu harus ditelusur dengan metodologi yang sangat kuat dan dalam. Karena sejarah itu berjalan di segala sisi sosial budaya dari suatu masyarakat, sudah pasti berhubungan dengan sosiologi, geografi, demografi dan segala aspek kemasyarakatan lainnya. Akibat hegemoni Malaysia atas sejarah dan budaya Melayu sehingga banyak sejarah versi Malaysia menjadi tampak absurd hingga paradox.

Keganjilan sejarah yang dipakai alat hegemoni dan propaganda tersebut nampak saat Bapak Ismail Sabri mantan PM Malaysia menyebut Alam Melayu itu diaspora Malaysia. Juga ada Prof Dr Solehah Yaacob yang berilusi sejarah Nusantara itu berpusat di Semenanjung Medini (Malaysia). Bahkan beliau sampai menyebut bahwa nabi Adam turunnya di Semenanjung.

Penelitian terkait Melayu menurut Stephen Oppenheimer belum sepenuhnya selesai. Tentunya ilmuwan dari bidang sejarah, geografi, sosiolog bahkan para ahli bahasa masih terus akan melakukan penelitian terbaru. Uraian berikut merupakan perspektif lain sebagai kontra narasi Konsep Alam Melayu yang dijadikan alat hegemoni dan propaganda Malaysia.

Sejarah dan teori asal suku-suku di Indonesia dimulai dari zaman es (The Last Glacial Maximum / LGM). LGM mengacu pada periode sejarah bumi saat gletser berada pada posisi paling tebal dan permukaan laut paling rendah. Pada waktu itu pulau Sumatra, pulau Jawa, pulau Kalimantan masih menyatu dengan semenanjung Medini (Wilayah Malaysaia sekarang ini) yang disebut Paparan Sunda / Sundaland. Migrasi ke wilayah Nusantara dipilih karena Nusantara merupakan wilayah hangat. Migrasi di wilayah Nusantara paling mudah tentunya masuk lewat laut / pantai. Pantai Sumatra, Jawa dan Borneo bagian timur, Sulawesi, Maluku, Papua, dan pulau Nusantara lainnya. Karena di wilayah tropis tentu sulit jika migrasi lewat daratan yang berupa hutan belantara. Yang pastinya Semenanjung Medini saat itu masih berupa pedalaman / hutan belantara.

Jadi Sejarah Semenanjung itu ada setelah jaman Es. Yang berarti lebih tua sejarah Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, Maluku, Timor dan Papua. Jadi suku Aceh, Batak, Mentawai, Minang, Sunda, Jawa, Dayak, Bugis, Ambon, Papua juga suku-suku lain punya sejarah yang lebih awal dibandingkan dengan Melayu Semenanjung. Sebaran wilayah Melayu di Sumatra bagian Timur (Palembang, Jambi dan Riau), Semenanjung, Tumasik dan Borneo bagian Barat semakin menunjukkan Melayu ada setelah jaman Es (setelah timbulnya selat Malaka).

Ditinjau dari aspek demografi dan juga geografis, garis pantai Sundaland itu merupakan lempeng tektonik, garis pantai berpalung dan sekaligus merupakan jajaran gunung berapi yang berpotensi sering ada erupsi dan gempa. Jumlah populasi etnis terbesar berada di ujung Sundaland yaitu etnis Jawa. Secara logika migrasi itu dari pantai Sundaland masuk ke pedalaman (Semenanjung sekarang) atau apa mungkin sebaliknya?

Sampai jaman modern sekarangpun migrasi sejalan demikian itu. Jaman kolonial dahulu Belanda mengekspor tenaga kerja sampai ke Suriname, yang terbesar juga dari etnis Jawa. Sebaliknya kolonial Inggris di Semenanjung justru mengimpor tenaga kerja dari China dan India, karena jumlah populasi di Semenanjung sedikit. Fakta sampai sekarang yang disebut Melayu di Semenanjung itu diaspora suku-suku yang ada Nusantara.

Melayu sesuai Perkara 160 (2) Perlembagaan Malaysia, orang Melayu itu mestilah beragama Islam, mengamalkan adat budaya Melayu, bertutur menggunakan bahasa Melayu. Ini menunjukkan bahwa Melayu sebagai kelompok linguistik. Di Semenanjung kesulitan untuk menyebut Melayu itu suatu ras / etnis tersendiri karena Melayu di Semenanjung itu diaspora suku-suku yang ada di Nusantara.

Dari aspek bahasa, Bahasa Melayu terbentuk dari interaksi perdagangan antar etnis di Nusantara dan juga bangsa-bangsa luar. Ini bisa diteliti dari kosa kata yang digunakan. Jumlah kosa kata juga sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah kosa kata dari bahasa yang dituturkan asli dari etnis tertentu. Sebagai contoh jumlah kosa kata Bahasa Melayu kalah jauh dengan jumlah kosa kata Bahasa Jawa atau Bahasa Sunda.

Menurut Prof. Emeritus Dr.James T. Collins, ahli linguistik dari Amerika Serikat, Bahasa Melayu yang otentik itu Bahasa Melayu Maluku, bukan Bahasa Melayu Semenanjung. Maluku, merupakan daerah asal lagu Rasa Sayange yang pernah diklaim Malaysia. Bisa jadi Bahasa Melayu yang asli itu berasal dari Maluku. Maluku merupakan salah satu daerah penghasil cengkeh terbesar yang merupakan komoditas asli Nusantara yang banyak dicari bangsa-bangsa luar.

Setelah digunakan sebagai bahasa perdagangan, Bahasa Melayu juga berkembang karena digunakan sebagai bahasa penyebaran agama di Nusantara. Dari penyebaran agama Hindu, Budha dan kemudian Islam bahasa Melayu mengalami banyak perkembangan kosa kata.

Ditinjau dari aspek istilah, kata Melayu pernah muncul pada 644 M dalam catatan Kerajaan China. Berdasarkan catatan tersebut, Melayu yang ditulis “Moleyeo” merupakan nama sebuah kerajaan yang pernah mengirim utusan ke negeri China untuk melakukan kerja sama. Karena istilah Melayu belum popular, awal penyebaran Islam, orang Arab menyebut orang Nusantara dengan sebutan Bani Jawi. Dibuatkan huruf dari huruf hijaiyah gundul yang disebut huruf Jawi. Jawi merupakan istilah halus dari Jawa.

Fakta-fakta istilah Sundaland, Bani Jawi, huruf Jawi menunjukkan istilah Melayu itu ada belakangan. Pendukung propraganda Konsep Alam Melayu beralasan itu cuma istilah. Tapi sekali lagi sifat ambigu dan hipokrit itu ditunjukkan dengan mengekalkan istilah Kepulauan Melayu warisan dari Inggris untuk penyebutan Nusantara. Sedangkan Indonesia tidak mau mengekalkan istilah Hindia Belanda warisan Belanda untuk penyebutan Nusantara atau kepulauan Indonesia.

Fakta Melayu Semenanjung adalah diaspora suku-suku yang ada di Nusantara hanya menunjukkan bias budaya yang sama. Melayu Semenanjung tidak akan bisa membuktikan bahwa budaya-budaya itu asli muncul disana. Jadi klaim-klaim budaya bahkan bahasa tidak akan bisa terjadi. Jaman dahulu saja masih bisa dibuktikan dengan adanya artefak dan prasasti (batu bertulis). Apalagi di jaman era digital internet sekarang. PM Anwar Ibrahim bilang google saja tahu. Algoritma penggunaan Bahasa Indonesia juga akan mempengaruhi Malaysia.

Sayangnya akibat propaganda itu juga menyebabkan sebagian warga Melayu Malaysia merasa superior terhadap warga negara Indonesia. Di Indonesia tidak ada superioritas etnis tertentu, tidak pula mempermasalahkan etnis di Nusantara ini yang paling tua etnis mana, maka di Indonesia semua etnis dianggap setara. Jadi sebetulnya propaganda superioritas etnis Melayu akan merugikan Malaysia sendiri karena akan menghambat perpaduan kaum.

 

https://nangnayokoaji.blogspot.com/2024/05/malaysia-we-stole-everything-from.html#more

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Nang Nayoko Aji

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler