Menulis: Situs Peradaban dan Tugas Historis

Minggu, 2 Juni 2024 07:21 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bagaimana kita menjadi abadi? Dengan air suci, titual, atau dengan mitos-mitos feodal? Selama ini kita terlalu pesimis untuk abadi. Menulislah! Menulis adalah tugas historis, artefak intelektual, dan preseden positif bagi peradaban.

Akhir-akhir ini, keabadian menjadi diskursus saya bersama teman-teman. walaupun percakapan tersebut terdengar sedikit utopis. Tentu, pertanyaan paling pertama sifatnya pasti filosofis, "Apakah manusia bisa abadi?". Banyak jawaban-jawaban mistis dan tidak ilmiah. seperti keyakinan bahwa keabadian bisa didapatkan dari air-air suci, jimat, dan ritual-ritual kuno. ada juga yang menjawab ilmiah, bahwa tubuh manusia adalah sistem yang mengalami kerusakan dan penuaan seiring berjalannya waktu. Tetapi, dari semua jawaban itu, ada jawaban yang sedikit berbeda, yaitu menulis.
 
 
Menulis memang menjadi pilihan. ada yang menjadikan menulis sebagai pekerjaan, ada yang menulis karena kegemaran, ada yang menjadikan menulis sebagai medium berbicara. tepat seperti kalimat yang diucapkan oleh Seno Gumira Ajidarma "Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang".
 
Alasan-alasan tentang keabadian tersebut, saya cermati, cukup umum. terkecuali, jawaban tentang menulis. Bagi saya cukup rasional saat menulis adalah cara untuk abadi. karena abadi tidak hanya perihal ruh yang bersatu dengan jiwa. artinya, kita bisa bergerak, bernafas, dan berjalan. tetapi abadi bisa juga diletakan pada pemaknaan bahwa karya, lukisan, tulisan kita menjadi sebuah preseden bagi antar generasi. artinya, nama dan apa yang kita hasilkan bagi peradaban akan ada terus-menerus, dikenang secara historis. maka dari itu saya ingin meminjam kalimat Helvy Tiana Rosa, "Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi"
 
Sedari kecil memori kepala kita telah memotret berbagai peristiwa. Sedikit banyaknya, peristiwa-peristiwa tersebut ada yang tersimpan rapih sebagai sebuah kenangan, dan sebagian lainnya dikonversi menjadi sebuah ide. Sebab, tumbuh kembang peradaban tidak lahir secara alamiah. peradaban tumbuh subur, akibat aktivitas produksi manusia. aktivitas produksi manusia juga dipengaruhi oleh faktor eksternal (alam) yang melahirkan ide untuk berproduksi. sehingga, lahir peradaban yang modern seperti saat ini.
 
Peradaban modern, bagi saya adalah hasil dari proses sejarah. tetapi pertanyaan yang timbul, "bagaimana orang-orang sekarang bisa memahami masa lampau? lalu bagaimana orang-orang masa lampau bisa belajar?". kita ketahui bahwa ada batasan tertentu, tentang penyampaian. Yaitu, umur. tubuh kita rentan, ingatan semakin menurun, kemampuan semakin berkurang. selain dari suara, maka jawaban itu adalah menulis pelajaran, pengalaman, dan kejadian-kejadiannya. sehingga generasi selanjutnya bisa dan akan mengetahui secara historis kehidupan masa lampau.
 
Sehingga, menulis adalah salah satu cara untuk abadi, menjadikan diri tidak hilang dalam sejarah. seperti ucapan Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Menulis juga artinya memberikan sumbangsih pada peradaban secara periodik. kontribusi yang tiada umur apalagi hilang sekejap. Memulai menulis berarti melawan rasa takut. karena keraguan yang akan menghancurkan kreativitas.

Bagikan Artikel Ini
img-content
damar afda

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua