x

Iklan

Christian Saputro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Juni 2022

Senin, 3 Juni 2024 08:37 WIB

Ditampart “Hysteria” Mencipta Ruang Panggung Ekspresi dan Apresiasi Publik Seni

Founder Hysteria Akhmad Horidin mengatakan Ditampart merupakan metode, support system sekaligus platform inisiasi Kolektif. Sebagai metode Distampart bergerak untuk mencipta ruang-ruang alternatif

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kolektif Hysteria Semarang memasuki usia 20 tahun perjalanan sebagai komunitas budaya. Dua dekade masih eksis dengan mengusung aktivitas kesenian (budaya) bukanlah hal yang gampang.

Hal ini  dipertegas oleh Kapordi S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro   Dr. Sukarjo Waluyo, S.S. M.Hum, ketika membuka gelaran puncak Ditampart 2024 di Semarang, belum lama ini

Kaprodi S1 Sastra Indonesia FIB Undip mengapresiasi dan bangga dengan kiprah yang telah dilakukan Kolektif Hysteria hingga tetap eksis hingga saat ini. Kiprah perjalanan Hysteria selama 20 tahun merupakan hal istimewa untuk aktivisme kebudayaan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Kontribusi Hysteria yang hadir dengan kejujurannya untuk perkembangan kota Semarang dan Jawa tengah patut kita apresiasi bersama, kegigihannya bisa menjadi model bagi komunitas-komunitas di Semarang dan sekitarnya,” ujar Sukarjo.

Beranjak kiprahnya dari kos-kosan kini Hysteria mencatatkan perjalananan kreativitas para anggotanya tak hanya sekadar bermain  di kandangnya Kota Semarang. Kini kiprahnya menyasar ke berbagai kota tak hanya dilingkungan Jawa Tengah tetapi nusantara bahkan mancaneagara.

Dari markasnya di Stonen, Gajahmungkur, Semarang, para seniaman di bawah panji Hysteria terus berkresiasi, berekspresi, dengan semangat kolaborasi membangun jejaring. Salah satu program Hysteria yang unik dan menarik yaitu: Dinas Cipta Tempat dan Ruang Terpadu (Ditampart).

Founder Hysteria Akhmad Horidin mengatakan Ditampart merupakan  metode, support system sekaligus platform inisiasi Kolektif Hysteria.

Ditandaskannya, sebagai metode Distampart bergerak untuk mencipta ruang-ruang alternatif, sebagai daya dukung melengkapi diri dengan berbagai alat untuk eksekusi event (pameran, pertunjukan, gigs dst) dan sebagai platform mempunyai programnya sendiri untuk aktivasi ekosistem.

“Ditampart secara fisik item utamanya berbentuk motor roda tiga yang dimodifikasi menjadi panggung berukuran 6 meter kali 10 meter yang difungsikan sebagai ruang pamer maupun pertunjukan,” bebernya.

Ketika disigi Ide mengenai Ditampart ini bisa dilacak sejak 2007 saat Kolektif Hysteria menginisiasi ‘Serikat Menonton’, yakni program putar film di kos-kosan dengan menggunakan personal computer (PC) dengan layar TV Tabung.

Program pemutaran film ini berlanjut dengan kerjasama Widya Mitra selama beberapa tahun dengan difasilitasi LCD proyektor dengan barter logo dan program. Program ini lantas mendapat dukungan dari ruangrupa yang sejak 2011 membuat program Gerobak Bioskop.

Pemutaran rutin oleh Hysteria lantas malih rupa menjadi Grobak Bioskop (tanpa e untuk membedakan dengan program umum ruangrupa). Selama 2011- 2016 Grobak Bioskop membuat program pemutaran sekitar 77 kali dengan penonton hampir 2000an penonton.

“Kegiatannya dibagi menjadi Grobak Bioskop Masuk Kelas/ Kampus, Grobak Bioskop Masuk Kampung, Grobak Bioskop Masuk Kafe, Grobak Bioskop Masuk Kampung/ Kota. Prototipe instalasi awalnya didesain oleh Purna Cipta Nugraha dan Prabowo Novanto dan proses pengerjaannya oleh Lek Wi dari Dusun Sekararum, Rembang, ” jelas Adin panggilan karib founder Hysteria ini.

Kemudian karena dirasa sevisi dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), lanjut Adin,  tahun 2017 mereka mendonasikan dua unit viar dan Grobak Bioskop berevolusi menjadi Dinas Cipta Tempat dan Ruang Terpadu (Ditampart).

Artefak Grobak Bioskop dihibahkan ke Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Undiversitas Diponegoro, selanjutnya instalasi sekarang yang didesain Tomy Ari Wibowo dan tim Hysteria Artlab menjadi bentuk yang sekarang.

“Pelengkapan instalasi dan atap panggung baru direalisasi 2024 sekaligus dibawa keliling dan dipamerkan di 17 kota/ kabupaten Jawa Tengah,” pungkas Adin.

Adin menegaskanDitampart diharapkan menjadi jembatan antar stakeholder. Idenya sendiri berangkat dari mekanisme pertahanan dan strategi Kolektif Hysteria yang teruji selama 20 tahun terakhir ini di Semarang. Ditampart membawa temuan dan metode untuk dibagi dan sebarluaskan.

“Kegiatan ini sekaligus sebagai medium belajar bersama terutama kolektif di berbagai daerah di Jateng., Ditampart berisikan rekam jejak, aneka temuan dan pengalaman di berbagai daerah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Adin menambahkan Ditampart) bermaksud menjadi ajang berbagi nilai, pengetahuan, dan strategi yang dilakoni Hysteria selama 20 tahun terakhir ini. Selain berbagi, tujuannya adalah memperbesar kemungkinan dan menguatkan peranan para pemangku kepentingan untuk bersama-sama memikirkan dan berkontribusi pada ekosistem.

“Dari event tersebut bisa bertukar pengetahuan, berteman, sekaligus merintis kerja sama terbuka untuk jangka panjang antar berbagai kolektif dengan konteks masing-masing, ” tandas Adin.

Ditampart 2024 : Menuju 20 Tahun Kolektif Hysteria

Sementara itu, Project Director Tommy Ari Wibowo Ditampart 2024,  mengatakan,  Ditampart setelah  mengarungi Provinsi Jawa Tengah, mulai dari Brebes hingga Rembang dan Wonogiri sampai Cilacap dengan menempuh jarak 1.119 Kilometer sekira hampir dua bulan perjalanan. Kegiatan tour  dan pameran tersebut melibatkan 128 seniman dari 17 kota di Jawa Tengah, diapresiasi 3.294 penonton, dan disaksikan nyaris setengah juta viewer.

“Setelah Ditampart menyambangi Kota Pekalongan,  Kota Tegal, Brebes, Purwokerto, Cilacap, Kebumen, Temanggung, Kota Magelang, Klaten, Wonogiri, Kota Surakarta, Grobogan, Rembang, Jepara, Demak, Sragen,  akhirnya tiba kembali di Kota Semarang,” terang Tommy.

Lebih lanjut, Tommy mengatakan tour dan pameran Ditampart merupakan bagian perjalanan Menuju 20 Tahun Kolektif Hysteria yang mengusung tajuk: "Tulang Lunak Bandeng Juwana".

 “Ditampart di Kota Semarang disisi dengan berbagai aktivitas kesenian antaralain; pameran jejak 20 tahun Hysteria, workshop, diskusi dan gigs,” pungkas Tommy.

 

Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis, Pengamat Seni Bermukim di Semarang.

 

Ikuti tulisan menarik Christian Saputro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler