x

Ilustrasi Putus Sekolah (Freepik)

Iklan

Nurmalita Herdiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Juni 2024

Senin, 3 Juni 2024 12:04 WIB

Mampukah Kecerdasan Masyarakat Menjadi Benteng Melawan Komersialisasi Pendidikan?

Komersialisasi pendidikan terlihat dari berbagai aspek, seperti tingginya biaya pendidikan, maraknya sekolah swasta yang berorientasi profit, dan sistem penilaian yang menekankan nilai akademis semata.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendidikan merupakan kunci utama kemajuan bangsa. Namun, di era globalisasi ini, pendidikan di Indonesia dihadapkan pada realitas pahit. Terjadi di masyarakat saat ini bagaimana pendidikan dijadikan ladang untuk komersialisasi. Sistem pendidikan yang seharusnya mencerdaskan dan membangun karakter bangsa, kini terjerat dalam pusaran bisnis dan kepentingan. 

Komersialisasi pendidikan terlihat dari berbagai aspek, seperti tingginya biaya pendidikan, maraknya sekolah swasta yang berorientasi profit, dan sistem penilaian yang menekankan nilai akademis semata. Hal ini membuat pendidikan menjadi barang yang mahal dan hanya bisa diakses oleh segelintir orang kaya.

Sehingga munculah pertanyaan pertanyaan di masyarakat saat ini. Apakah orang miskin tidak pantas untuk mempunyai cita cita yang tinggi bisa berkuliah? Lalu mengapa pendidikan saat ini miris justru rakyat dijerat untuk menjadi mampu. Apa yang diharapkan pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Bukankah itu adalah menjadi cita cita bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa untuk memiliki sumber daya yang berkualitas? 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Tentu saja, orang miskin pantas memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki pendidikan yang tinggi, termasuk berkuliah. Pendidikan adalah hak asasi setiap individu tanpa memandang latar belakang ekonomi. Namun, realitas yang dihadapi seringkali berbeda. Banyak anak dari keluarga kurang mampu harus menghadapi berbagai rintangan untuk mengejar pendidikan tinggi. Dari biaya pendidikan yang mahal, akses terhadap sumber belajar yang terbatas, hingga tekanan ekonomi yang memaksa mereka bekerja untuk membantu keuangan keluarga.

 

Lantas, apa yang diharapkan dari pemerintah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa? Pertama, pemerintah harus memastikan akses pendidikan yang merata dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Ini bisa dimulai dengan memperbaiki sistem beasiswa, mengurangi biaya pendidikan, dan meningkatkan kualitas sekolah-sekolah negeri di seluruh pelosok negeri. Selain itu, perlu ada perhatian khusus terhadap anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui program-program dukungan yang lebih konkret, seperti bantuan biaya hidup dan fasilitas pendidikan yang memadai.

 

Pemerintah juga memastikan bahwa kurikulum yang diajarkan relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan perkembangan teknologi. Dengan demikian, lulusan pendidikan di Indonesia tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis yang dibutuhkan di dunia kerja. Hal ini penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

 

Pemerintah juga perlu menggalakkan program-program yang mendorong partisipasi masyarakat dalam pendidikan, seperti pelatihan keterampilan, pembinaan wirausaha, dan akses terhadap pendidikan non-formal. Program-program ini tidak hanya membantu meningkatkan keterampilan individu tetapi juga memberdayakan masyarakat secara keseluruhan.

 

Tidak hanya pemerintah yang memiliki peran untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi masyarakat juga berperan penting, namun dalam konteks ini, kecerdasan yang dimaksud bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan sosial dan emosional. Masyarakat harus cerdas dalam memahami dan menganalisis akar permasalahan komersialisasi pendidikan, serta cerdas dalam mencari solusi yang tepat.

 

Kecerdasan sosial dan emosional masyarakat dapat menjadi benteng dalam beberapa hal seperti, masyarakat harus memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan ijazah, tetapi juga tentang membangun karakter dan mencerdaskan bangsa. Selain itu, Masyarakat harus berani menyuarakan kritik dan saran untuk membangun sistem pendidikan yang lebih adil dan berkualitas. Kecerdasan ini tidak hanya mencakup kemampuan akademis, tetapi juga pemahaman kritis terhadap dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang mempengaruhi sistem pendidikan.

 

Pertama, kesadaran kritis masyarakat terhadap masalah komersialisasi pendidikan dapat mendorong perlawanan kolektif. Masyarakat yang cerdas akan lebih mampu memahami dan mengkritisi kebijakan pendidikan yang cenderung komersial. Dengan demikian, mereka dapat menuntut pemerintah untuk memberikan pendidikan yang lebih adil dan merata. Kesadaran ini dapat diwujudkan melalui gerakan sosial, advokasi, dan kampanye publik yang menekankan pentingnya pendidikan sebagai hak dasar setiap warga negara.

 

Kedua, kecerdasan masyarakat juga tercermin dalam kemampuan mereka untuk menemukan dan mendukung alternatif pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Misalnya, pengembangan sekolah-sekolah berbasis komunitas, program pendidikan non-formal, dan inisiatif pendidikan digital yang terjangkau. Masyarakat yang cerdas dapat berkolaborasi untuk menciptakan solusi yang tidak bergantung pada model pendidikan yang mahal dan eksklusif.

 

Kecerdasan masyarakat dapat menjadi benteng melawan komersialisasi pendidikan, namun hal ini tidak dapat dilakukan sendirian. Diperlukan juga peran aktif dari pemerintah untuk membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat, meningkatkan kualitas guru, dan memperkuat pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan.

 

Bersama-sama, kita dapat membangun sistem pendidikan yang berkualitas dan mencerdaskan bangsa Indonesia.

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Nurmalita Herdiana lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler