Obrolan dari Kuta ke Bandara

Selasa, 4 Juni 2024 14:40 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seorang perantau dari satu kabupaten di Jawa menceritakan pengalamannya menjadi pengemudi taksi daring di Bali. “Wajah” untuk kelompok yang tetap bergulat dengan kondisi kesejahteraannya yang jalan di tempat.

Saya bertemu Syahrul (sebut saja begitu), pengemudi taksi daring, pada siang di hari pertama pekan ini. Dialah yang kebetulan terjaring aplikasi untuk melayani orderan saya, mengantar ke Bandara I Gusti Ngurah Rai dari satu lokasi yang sudah mulai menggeliat dengan keramaian turis di kawasan Kuta.

Dalam perjalanan, sebagai basa-basi, saya melayani ajakannya untuk mengobrol--ajakan yang, tentu saja, tidak terang-terangan ditawarkan, melainkan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti mau ke mana, ada urusan apa ke Bali, dan seterusnya. Saya sengaja mengabaikan dulu beberapa hal terkait dengan pekerjaan yang mendistraksi pikiran.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Setelah percakapan berlangsung beberapa waktu, dia seketika beralih ke Bahasa Jawa setelah saya bilang kampung halaman saya adalah Madiun. “Kula saking Banyuwangi, Pak,” katanya.

Perbincangan itu pun kemudian berlangsung seterusnya dalam bahasa yang saya sendiri sebetulnya berkemampuan buruk kalau harus menggunakan krama. Saya jelas harus berusaha keras. Tapi saya tak punya pilihan karena saya tak ingin menempatkan diri seakan-akan kami sudah akrab dan cukup ngoko saja.

Dia bercerita bahwa di Bali dia dan keluarganya sudah “sak suwi-suwine, kula nggih tasih kadang-kadang wangsul wonten kampung“. Dan bahwa karena pekerjaannya saat ini--bagian dari apa yang disebut gig jobs, sebagai pengemudi salah satu layanan taksi daring--dia jadi jarang bisa berada di rumah dalam waktu yang cukup untuk quality time, berbual-bual atau bercengkerama dengan istri dan anaknya. Sebab, “Kula wangsul dalu sak ben dinten,” katanya.

Menurut dia, bahkan dengan jam kerja seperti itu, kesejahteraannya tak juga bergerak naik. Pendapatannya tak sepenuhnya lebih baik ketimbang kalau tetap di kampung dan melanjutkan bekerja sebagai buruh tani. Setiap hari, katanya, sudah pasti dia harus mengeluarkan uang untuk membeli bensin dan makan serta rokok, yang mencapai Rp 300 ribu. Padahal bisa mendapatkan Rp 500 ribu per hari saja sudah terhitung bagus. Tidak jarang, dalam kenyataannya, dia hanya mampu menyisakan beberapa puluh ribu rupiah.

Dengan pengalaman tersebut, bisa dibilang dia termasuk dalam kelompok 35 persen pengemudi ojek dan taksi daring (atau mitra, begitu istilahnya) yang, menurut riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia tahun lalu terhadap mitra salah satu perusahaan teknologi yang membuat aplikasi layanan taksi daring, tidak mendapatkan kenaikan pendapatan. Dengan kata lain, fleksibilitas waktu yang dia miliki tidak berpengaruh signifikan bagi kesejahteraannya.

Sangat mungkin hal itu terjadi karena dia tak cukup terampil untuk memanfaatkan fleksibilitas tersebut. Tapi bukan tak mustahil pula penyebabnya adalah tingkat kemacetan di jalan yang kelewat tinggi di Denpasar sehingga peluangnya untuk mendapatkan jumlah trip yang lebih banyak (dan karenanya pendapatan yang lebih besar) setiap hari menyempit. Kemacetan yang parah membuat durasi per perjalanan lebih lama--dengan konsekuensi boros energi, boros bensin.

Tetapi, bagaimanapun, mengemudi itu buat dia adalah alternatif yang lebih baik ketimbang bertani. “Minimal nyopirlah,” katanya.

Dia memastikan akan berhenti sebagai sopir kalau ada pilihan yang lebih baik. Pilihan ini “wajib”, termasuk kalau harus kembali ke kampung halaman. Kalau tidak ada, dia akan bertahan di Denpasar, seperti banyak orang Banyuwangi lainnya yang merantau ke Bali. Ada nada pasrah dalam kata-katanya.

Syahrul, tentu saja, adalah “wajah” untuk fakta bahwa ada masalah kronis di sektor pertanian kita. Sektor yang sebenarnya relevan dengan keberadaan sumber daya alam, juga dengan realitas kebutuhan pangan, kita ini tidak sungguh-sungguh diperhatikan dan didorong dengan insentif sehingga tetap menarik untuk digeluti, terutama karena ia dapat memberikan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan. Maka, inilah pekerjaan rumah buat pemerintah di negeri ini, yang sebetulnya sudah sangat jelas: meningkatkan nilai tukar petani agar sektor pertanian tetap menarik sebagai ladang untuk mencari nafkah sekaligus yang menyejahterakan.

Saya tidak tahu harus bilang apa untuk merespons curhat colongan Syahrul--walau sebetulnya saya sadar dia pun tak bermaksud meminta saran. Untunglah ada “bel” yang menyelamatkan saya dari kekikukan: perjalanan telah sampai di tujuan, terminal pemberangkatan.

Bagikan Artikel Ini
img-content
purwanto setiadi

...wartawan, penggemar musik, dan pengguna sepeda yang telah ke sana kemari tapi belum ke semua tempat.

2 Pengikut

img-content

Menambang atau tidak Menambang

Senin, 8 Juli 2024 14:40 WIB
img-content

Obrolan dari Kuta ke Bandara

Selasa, 4 Juni 2024 14:40 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua