Mendalami Petunjuk Hari Kebangkitan Dalam Doa Nabi Ibrahim a.s.

Rabu, 5 Juni 2024 12:36 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam doa itu Nabi Ibrahim menggunakan kata mereka dibangkitkan bukan kami dibangkitkan dalam doanya, artinya bisa berbeda. Hal ini mengacu kata mereka dibangkitkan memberikan kemungkinan, bahwa yang dimaksud mereka adalah umat akhir zaman yang mendekati hari kebangkitan di alam dunia.

Saya mendalami surat Asy-Syu'ara ayat 83-89 sebagai berikut:

"Rabbi hab lī ḥukmaw wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn(a). Waj‘al lī lisāna ṣidqin fil-ākhirīn(a). Waj‘alnī miw waraṡati janatin na‘īm(i). Wagfir li'abī innahū kāna minaḍ-ḍāllīn(a). Wa lā tukhzinī yauma yub‘aṡūn(a). Yauma lā yanfa‘u māluw wa lā banūn(a). Illā man atallāha biqalbin salīm(in)."

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

(Ibrahim berdoa) “Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh. Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan. Ampunilah ayahku! Sesungguhnya dia termasuk orang-orang sesat. Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Dari doa Nabi Ibrahim diatas, ada beberapa poin penting yang dapat di petik:

Poin pertama, "Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukan aku dengan orang-orang saleh"

Al-Qur'an sejatinya dilengkapi dengan ilmu tingkat tinggi sebagai hukum penentu karakteristik manusia hingga menegaskan nasibnya kelak, seperti karakteristik orang-orang yang diberikan petunjuk lagi beruntung yang ditegaskan pada surat Al-Baqarah ayat 2-5. Kemudian penjelasan perilaku, karakter dan nasib orang-orang kafir, fasik dan munafik yang banyak dibahas dalam Al-Qur'an. Dan masih banyak lagi perilaku, karakter dan nasib manusia yang tertulis dalam Al-Qur'an.

Kemudian pada poin ini pula, disebutkan keutamaan dan kemuliaan orang-orang saleh, sehingga sekelas Nabi Ibrahim pun ingin dipertemukan dengan mereka. Maka dapat disimpulkan, apabila terdapat segolongan manusia memusuhi orang-orang saleh, sesungguhnya mereka mengadakan permusuhan dengan otoritas Maha Besar yang Allah miliki, dan mereka bukan termasuk orang yang beruntung lagi selamat.

Poin kedua, "Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."

Di poin diatas disebutkan "... pada hari mereka dibangkitkan." Ini menunjukkan umat manusia di alam dunia yang masih bertahan di masa di mana mereka dibangkitkan di alam dunia.

Beberapa ulama menyepakati hari kebangkitan itu ialah hari di mana manusia dibangkitkan dari alam kubur untuk berkumpul di padang mahsyar. Bagi saya ini dapat dibenarkan karena merujuk pada surat Al-Ma'idah ayat 109 yang berbunyi:

Yauma yajma‘ullâhur-rusula fa yaqûlu mâdzâ ujibtum, qâlû lâ ‘ilma lanâ, innaka anta ‘allâmul-ghuyûb.

(Ingatlah) pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)-mu?” Mereka (para rasul) menjawab, “Kami tidak tahu (tentang itu). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

Namun dalam doa itu Nabi Ibrahim menggunakan kata "Mereka dibangkitkan" bukan "Kami dibangkitkan" dalam doanya, artinya bisa berbeda. Hal ini mengacu kata "Mereka dibangkitkan" memberikan kemungkinan, bahwa yang dimaksud mereka adalah umat akhir zaman yang mendekati hari kebangkitan di alam dunia.

Dunia sendiri jika kita menggunakan pendekatan pengetahuan Veda terutama Bhagavad Gita, bahwa sifat alam dunia sendiri ada 3 jenis yakni Sattvam (Kebaikan) yang menjadi potensi hati, Rajas (Nafsu) yang menjadi potensi fisik, dan Tamas (Kegelapan/Kebodohan) yang menjadi potensi akal jika dalam gradiasi positif (Cahaya/Kepintaran).

Saat ini dunia memasuki zaman kegelapan (zaman akhir), dimana sifat Tamas yang mendominasi, dan saat dunia memasuk zaman baru yakni zaman dimana Sattvam, Rajas, dan Tamas ketiganya beresonasi dan seimbang, maka pada hari itulah hari kebangkitan manusia terjadi.

Saat hari kebangkitan itu terjadi, manusia mengalami kebangkitan kekuatan potensi hati yang beresonasi dengan kekuatan mistis serta penguasaan elemen kehidupan (seperti api, air, angin, tanah), kebangkitan potensi fisik, dan kebangkitan potensi akal, menjadikan manusia menjadi sangat berdaya untuk menghadapi tantangan yang akan datang.

Pada hari manusia dibangkitkan di alam dunia, pengaruh iblis memudar sebab iblis mati di hari itu. Sebagaimana dalam ayat Al-Qur'an surat Al-Hijr ayat 36 yang berbunyi:

Qāla rabbi fa anẓirnī ilā yaumi yub‘aṡūn(a).

(Iblis) berkata, “Wahai Tuhanku, tangguhkanlah (usia)-ku sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.”

Sebab pengaruh Iblis memudar, maka artinya manusia sudah tidak lagi dalam pengaruh godaan iblis yang menyesatkan, semua manusia yang tersisa di hari kebangkitan seluruhnya dalam kesadaran dirinya sendiri yang sejati, kecuali orang-orang jahat lagi zalim sepanjang hidupnya, sebab mereka terbiasa hidup dalam kejahatan dan kezaliman, yang menegaskan karakter mereka yang sulit diubah sepanjang hayat.

Dan tantangan di hari kebangkitan itu dijelaskan dalam surat Al-Anbiya ayat 96-97 yang berbunyi:

Ḥattā iżā futiḥat ya'jūju wa ma'jūju wa hum min kulli ḥadabiy yansilūn(a). waqtarabal-wa‘dul-ḫaqqu fa idzâ hiya syâkhishatun abshârulladzîna kafarû, yâ wailanâ qad kunnâ fî ghaflatim min hâdzâ bal kunnâ dhâlimîn.

Hingga apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibuka dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (Apabila) janji yang benar (yakni hari Kiamat) telah makin dekat, tiba-tiba mata orang-orang yang kufur terbelalak. (Mereka berkata,) “Alangkah celakanya kami! Kami benar-benar lengah tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang zalim.”

Maka dari ayat diatas disimpulkan, setelah manusia mengalami kebangkitan potensi dirinya yang sejati, tantangan mereka selanjutnya ialah menghadapi kejahatan dan kekejaman bangsa perusak Ya'juj dan Ma'juj. Dimana dijelaskan pada doa Ibrahim sebelumnya, pada hari yang dijanjikan itu tiada lagi berguna harta dan anak-anak.

Sebab apakah Bangsa Ya'juj dan Ma'juj tertarik pada harta dan anak-anak kita? Tentu tidak. Sebab yang bangsa mereka inginkan adalah kehancuran umat manusia yang merasakan kehidupan diluar tembok Dzulqarnain.

Namun Nabi Ibrahim berkata pada ujung doanya, "Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." Ini berarti umat akhir zaman yang termasuk golongan yang disebutkan Nabi Ibrahim, yakni yang bersih hatinya dari segala penyakit hati (sombong, dengki, dendam, dan lainnya) ketika menghadap Allah, merekalah termasuk orang-orang beruntung lagi diselamatkan di hari yang Allah janjikan.

Demikian pendalaman petunjuk dari doa Nabi Ibrahim yang terabadikan dalam Kitab Suci Al-Qur'an.

Semoga bermanfaat!

Cimahi, 5 Juni 2024.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Hamba Allah dan Umat Muhammad Saw. Semakin besar harapan kepada Allah melebihi harapan kepada makhluk-Nya, semakin besar pula potensi dan kekuatan yang kita miliki.

1 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua