Seandainya Aspal Buton Terdapat di Kabupaten Kulonprogo

Rabu, 5 Juni 2024 12:40 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mampukah pak Prabowo membayangkan bagaimana makmur dan sejahteranya rakyat di kabupaten Kulonprogo seandainya saja aspal alam buton terdapat di Kabupaten Kulonprogo? Mungkin kesejahteraan rakyat di Kulonprogo akan jauh lebih makmur daripada kesejahteraan rakyat di Swedia.

Ada kisah yang menarik yang perlu diketahui oleh pak Prabowo sebagai presiden RI yang baru, pengganti pak Jokowi. Baru-baru ini ada berita mengenai DPR melakukan studi banding ke Swedia untuk mempelajari Program Makan Siang Gratis. Kalau berita ini memang benar, maka mohon diberitakan juga apa hasil dari studi banding tersebut? Studi banding ini telah menggunakan uang rakyat. Oleh karena itu rakyat berhak dan perlu tahu apa saja hasil dari studi banding tersebut. Dan apakah hasil studi banding tersebut dapat diadopsi di Indonesia?

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Seharusnya kalau DPR serius ingin melakukan studi banding untuk menyelidiki atau mempertanyakan kebijakan-kebijakan pemerintah, sebaiknya DPR datang berkunjung ke Kabupaten Kulonprogo, di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sudah tentu biaya studi banding ke Kulonprogo akan jauh lebih murah daripada studi banding ke Swedia. Dan hasilnya akan sangat bermanfaat sekali.

 

Mungkin DPR tidak tahu bahwa ada berbagai kebijakan di Kabupaten Kulonprogo lewat Program Bela dan Beli, ternyata mampu menurunkan angka kemiskinan di Kulonprogo dari 22,54% pada tahun 2013, menjadi 16,74% pada tahun 2014. Informasi ini sangat menarik sekali, dan memancing tanda tanya besar. Berapa angka kemiskinan di Kulonprogo di tahun 2024 sekarang ini? Apakah DPR tidak ingin tahu? Mungkin DPR dapat belajar banyak dari Kabupaten Kulonprogo daripada Swedia, karena Kabupaten Kulonprogo adalah di Indonesia. Keberhasilan penurunan persentase kemiskinan di Kabupaten Kulonprogo seharusnya menjadi acuan dan panutan untuk daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.

 

Hal apa yang paling menarik dari Kabupaten Kulonprogo yang perlu dicontoh di tempat-tempat lain, sebagai salah satu jurus rahasia keberhasilan untuk menurunkan persentase angka kemiskinan? Bupati Kulonprogo, Bapak Hasto Wardoyo, telah meletakkan dasar ahlak kepemimpinannya melalui spirit kemandirian sebuah bangsa. Beliau mengajak warganya untuk keluar dari kemiskinan dengan kemampuan dan kekuatannya sendiri. Mungkin hal inilah yang tidak dimiliki oleh pak Jokowi selama berkuasa dua periode.

 

Salah satu kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pak Bupati Kulonprogo adalah dengan mewajibkan para pelajar dan PNS untuk mengenakan seragam batik Geblek Renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu. Ternyata dengan jumlah 80.000 pelajar dan 8.000 PNS, kebijakan ini mampu mendongkrak industri batik lokal. Puryanto, seorang pengusaha batik di Desa Ngentarejo, mengaku omzetnya meningkat bahkan pernah hingga mencapai 500 persen. Sungguh sangat luar biasa bukan?.

 

Kebijakan lain yang juga perlu ditiru di daerah-daerah lain adalah mewajibkan setiap PNS untuk membeli beras produksi petani Kulonprogo sebanyak 10kg/bulan. Selain itu Bupati Kulonprogo mengembangkan usaha dengan memproduksi air kemasan merk Airku (Air Kulonprogo) yang menguasai seperempat ceruk pasar air kemasan di Kulonprogo. Dan masih banyak kebijakan-kebijakan yang pro rakyat, seperti pelayanan rumah sakit, dan menampung produk-produk UKM untuk dipasarkan, dll.

 

Melihat keberhasilan Kabupaten Kulonprogo untuk menurunkan persentase kemiskinan dengan angka yang cukup signifikan, timbul pertanyaan kita. Apakah di Kabupaten Kulonprogo terdapat sumber daya alam yang melimpah? Selain air tentunya. Kelihatannya tidak ada. Tetapi bagaimana mungkin rakyatnya bisa hidup makmur dan sejahtera?. Jadi sumber daya alam yang melimpah itu bukan merupakan jaminan dan persyaratan utama untuk membuat rakyat lebih makmur dan sejahtera. Lantas apa kiatnya? Jawaban dari Bupati Kulonprogo caranya adalah dengan mengurus daerahnya bertolak belakang dengan cara pimpinan di pusat yang lebih mengutamakan kebijakan impor. Beliau lebih utama untuk membangkitkan kebanggaan warga setempat dengan menggunakan, memanfaatkan, dan mengkonsumsi produk-produk sendiri.

 

Ada sebuah kebijakan Bupati Kulonprogo yang membuat hati kita trenyuh. Di Kulonprogo, kita  tidak akan dapat menemukan papan iklan rokok. Baik besar maupun kecil. Pemerintah Kabupaten Kulonprogo memang menolak sponsor dari perusahaan rokok. Kebijakan ini tentu mengurangi pendapatan daerah. Namun, memimpin daerah bukan cuma soal menggenjot pendapatan. Tetapi seharusnya menempatkan posisi moral yang lebih memihak kepada rakyat.

Alangkah indahnya negara Republik Indonesia, apabila semua kebijakan-kebijakan yang telah berlaku di Kabupaten Kulonprogo, seharusnya akan berlaku juga di semua daerah-daerah di seluruh Indonesia. Oleh karena itu DPR wajib datang ke Kabupaten Kulonprogo untuk melakukan studi banding. Khususnya untuk merekomendasikan kepada pemerintah pusat, dalam hal membuat kebijakan-kebijakan strategis, bukan cuma soal mengenjot pendapatan negara. Tetapi wajib menempatkan posisi moral yang lebih memihak kepada rakyat. Terutama masalah kebijakan-kebijakan impor.

Masukan untuk DPR, setelah selesai melakukan studi banding ke Kabupaten Kulonprogo, DPR wajib melakukan studi banding ke Kabupaten Buton, di Sulawesi Tenggara. Silahkan DPR bandingkan bagaimana di Kabupaten Kulonprogo yang tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi mampu menurunkan persentase kemiskinan rakyatnya secara signifikan. Sedangkan di Kabupaten Buton, yang kaya dengan sumber daya aspal alamnya yang sangat melimpah, kemiskinan masih berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Inilah gunanya DPR melakukan studi banding di daerah di Indonesia sendiri, agar DPR dapat belajar dari daerah-daerah lain yang telah berhasil menyejahterakan rakyatnya. Dan meminta pertanggungjawaban kepada pemerintah agar keberhasilan yang telah dicapai di Kabupaten Kulonprogo wajib di wujudkan juga di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia. Khususnya di daerah-daerah lain yang kaya akan sumber daya alamnya, seperti di Kabupaten Buton.

Mungkin mimpi yang paling indah adalah apabila aspal Buton terdapat di Kabupaten Buton. Sehingga industri aspal Buton akan mampu menyumbangkan PAD yang sangat besar untuk membangun daerah Kabupaten Kulonprogo. Khususnya untuk mengentaskan kemiskinan. Mungkin yang perlu melakukan studi banding datang ke Kabupaten Kulonprogo ini bukan saja anggota-anggota DPR, tetapi juga semua Menteri, Gubernur, Bupati, dan semua para pihak yang membuat kebijakan-kebijakan negara. Termasuk presiden sendiri.

Fenomena Kabupaten Kulonprogo ini dapat dikiaskan dengan pepatah: “Rumput tetangga selalu lebih hijau”. Rumput di Swedia lebih hijau daripada rumput di Kulonprogo. Adapun rumput di Swedia adalah rumput sintetis, yang meskipun di musim dingin warnanya tetap hijau. Sedangkan rumput di Kabupaten Kulonprogo, meskipun warnanya tidak sehijau rumput di Swedia, tetapi rumput tersebut tumbuh subur sepanjang tahun. Dan menjadi makanan ternak yang lezat.

Kapan pak Prabowo akan datang ke Kabupaten Kulonprogo untuk melakukan studi banding? Mampukah pak Prabowo membayangkan bagaimana makmur dan sejahteranya rakyat di kabupaten Kulonprogo seandainya saja aspal alam buton terdapat di Kabupaten Kulonprogo? Mungkin kesejahteraan rakyat di Kulonprogo akan jauh lebih makmur daripada kesejahteraan rakyat di Swedia. Ha..ha..ha..

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua