Bahaya Laten Ketidakjujuran Akademik di Lingkungan Kampus

Kamis, 6 Juni 2024 12:47 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah penelitian mengungkapkan 2,9% peneliti mengaku memalsukan atau menjiplak karya orang lain. Lalu ada 15,5% pernah menyaksikan pelanggaran tersebut dan 39,7% menyadarinya.

Perspektif Pribadi: Merenungkan kenyataan pahit dan implikasinya

Wawasan Utama

  • Penelitian menunjukkan berbagai tingkat pemalsuan dan plagiarisme di kalangan akademisi, termasuk profesor tetap.
  • Konsep "yang terbaik dan tercerdas" dipertanyakan ketika ketidakjujuran mendasari kesuksesan mereka.
  • Tekanan untuk sukses dapat mendorong ketidakjujuran akademis.
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tekanan untuk sukses di bidang akademis dapat mengarah pada pelanggaran etika yang signifikan, seperti yang terungkap baru-baru ini yang melibatkan tokoh-tokoh pendidikan terkemuka yang mengakui atau menyangkal tuduhan plagiarisme dalam karya-karya penting mereka. Bahkan sebelum skandal ini terungkap, saya sudah memikirkan tekanan kuat yang ada di kalangan akademis dan konsekuensinya.

Sebuah Anekdot Pribadi

Berkaca pada pengalaman saya sendiri di kelas tujuh, saya ingat melihat sekilas makalah teman sekelas saat ujian bahasa Inggris. Guru saya segera memindahkan saya ke belakang kelas, meninggalkan saya dengan rasa malu namun bersyukur atas kesempatan kedua. Kejadian ini mengajarkan saya nilai integritas, namun tidak pernah terpikir oleh saya bahwa bahkan anak-anak yang "lebih pintar" pun bisa saja berbuat curang—dan lolos begitu saja. Hal ini menimbulkan pertanyaan kritis: Apakah ini arti sebenarnya dari kesuksesan?

Temuan Penelitian

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Science and Engineering Ethics mengungkapkan bahwa 2,9% peneliti mengaku memalsukan, memalsukan, atau menjiplak karyanya. Selain itu, 12% peserta menyatakan keprihatinannya mengenai praktik penelitian yang meragukan di kalangan rekan-rekan mereka, dengan 15,5% pernah menyaksikan pelanggaran tersebut dan 39,7% menyadarinya. Angka-angka ini menunjukkan bahwa ketidakjujuran akademis lebih luas daripada yang diperkirakan banyak orang.

Bobot Harapan

Orang tua saya, yang tidak pernah kuliah, sangat menjunjung tinggi pendidikan tinggi dan menanamkan dalam diri saya pentingnya prestasi akademik. Mereka percaya bahwa memperoleh gelar sangat penting untuk kesuksesan dan menghormati elit intelektual. Jika mereka masih hidup saat ini, saya membayangkan mereka akan terkejut dan kecewa dengan maraknya ketidakjujuran di dunia akademis. Kesadaran ini telah menghancurkan ilusi saya tentang integritas pendidikan tinggi.

Paradoks Kode Etik

Mengapa individu yang berbuat curang dan terlibat dalam perilaku tidak etis sering kali mempertahankan jabatannya dan bahkan menerima promosi? Sebuah artikel di Harvard Business Review berjudul "Why Do Toxic People Get Promoted? For the Same Reason Humble People Do: Political Skill" (Mengapa Orang Beracun Dipromosikan? Untuk Alasan yang Sama yang Dilakukan Orang Rendah Hati: Keterampilan Politik) memberikan satu penjelasan. Penelitian terkait, yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Individual Differences, menunjukkan bahwa keterampilan politik dapat membantu individu yang beracun dan rendah hati untuk maju dalam karier mereka, terlepas dari perilaku etis mereka.

Realitas Pelanggaran Akademik

Meskipun banyak sumber yang memperingatkan mahasiswa terhadap plagiarisme, kejadian ketidakjujuran akademis di kalangan profesor tetap dan akademisi berpangkat tinggi lainnya tidak jarang terjadi seperti yang diharapkan. Banyak artikel yang mendokumentasikan kasus-kasus profesor tetap yang mencuri uang mahasiswanya dan melakukan bentuk-bentuk pelanggaran akademik lainnya.

Menemukan Cahaya dalam Kegelapan

Leonard Cohen pernah menulis, "Ada celah, celah dalam segala hal; begitulah cara cahaya masuk." Kutipan ini sejalan dengan kesadaran saya bahwa mereka yang mencapai puncak tidak selalu melakukannya semata-mata karena prestasi, kecerdasan, dan orisinalitas. Mengakui adanya kesenjangan dalam persepsi integritas dunia akademis merupakan hal yang mengecewakan sekaligus mencerahkan. Hal ini meyakinkan saya bahwa berdiam diri sementara orang lain tampak maju tidak selalu mencerminkan kegagalan pribadi; tidak semua orang seperti yang terlihat.

Memahami kenyataan pahit ini dapat membantu kita menavigasi dunia akademis yang kompleks dan menjaga integritas kita, bahkan ketika dihadapkan pada tekanan untuk berkompromi. Pada akhirnya, mengenali dan mengatasi pelanggaran etika ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan akademis yang lebih jujur ​​dan adil.

***

Solo, Rabu, 5 Juni 2024. 1:54 pm

Suko Waspodo

Bagikan Artikel Ini
img-content
Suko Waspodo

... an ordinary man ...

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler