Harga Aspal Impor Sangat Mahal, Beralihlah ke Aspal Buton!

Kamis, 6 Juni 2024 12:40 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Harga aspal impor sangat mahal, beralihlah kepada aspal Buton yang harganya bisa lebih murah!. Ini adalah seruan akal sehat. Semoga pemerintah masih memiliki akal sehat untuk mau beralih kepada aspal Buton.

Mungkin di dunia ini, hanya di Indonesia saja ada orang yang mau membeli barang dengan harga yang lebih mahal. Padahal ada barang lain yang lebih bagus, dan harganya bisa lebih murah. Apakah ada hukum ekonomi baru yang menyatakan bahwa membeli barang dengan harga yang lebih mahal akan lebih menguntungkan? Lebih menguntungkan bagi siapa? Bagi si pembeli, atau bagi si penjual, atau bagi kedua-duanya? Mungkin para ahli dan pakar ekonomi di Indonesia harus berani mengemukakan argumentasi ilmiah yang benar mengenai fenomena ini.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa Indonesia sudah 45 tahun mengimpor aspal. Ada pendapat yang mengatakan bahwa harga aspal impor lebih murah daripada harga aspal Buton ekstraksi yang kualitasnya setara. Pendapat ini tidak salah. Adapun menurut data dari Maryland Asphalt Index, harga aspal minyak rata-rata pada tahun 2016 – 2017 adalah US$ 400 per ton. Setelah itu harga aspal minyak merangkak naik terus secara bertahap sampai mencapai harga rata-rata US$ 600 per ton di tahun 2021. Bahkan pada tahun 2022, harga aspal minyak pernah mencapai harga tertinggi hingga US$ 795 per ton, akibat adanya perang antara Rusia dengan Ukraina. Dan pada tahun 2023 - 2024 harga rata aspal minyak mulai stabil di harga US$ 620 per ton.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pendapat yang mengatakan bahwa harga aspal impor lebih murah daripada harga aspal Buton ekstraksi, adalah benar, berlaku untuk tahun 2016 – 2017. Tetapi pendapat itu sekarang sudah terbantahkan. Karena pada saat ini di tahun 2024, harga aspal minyak sudah naik mencapai US$ 620 per ton, atau ada kenaikan sebesar 55% dibandingkan dengan harga pada tahun 2016 – 2017. Data dari Maryland Asphalt Index ini adalah data aspal minyak di USA. Tentunya saja harga aspal impor di Indonesia akan jauh lebih mahal, karena ada biaya-biaya logistik dan biaya-biaya lain. Antara lain dengan adanya kenaikan harga karena hukum ekonomi: “Supply and Demand”.

Bagaimana cara kita menghakimi bahwa harga aspal impor itu sejatinya sangat mahal? Mana data-data dan bukti-buktinya? Seharusnya pertanyaan ini ditujukan kepada pemerintah yang telah mengeluarkan kebijakan impor aspal. Mungkin justifikasi yang biasa diajukan oleh para importir aspal adalah Indonesia perlu mengimpor aspal, karena harga aspal impor lebih murah daripada harga aspal Buton ekstraksi. Dan lagi pula, Indonesia masih belum mampu memproduksi aspal Buton ekstraksi. Maka satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan aspal di dalam negeri adalah dengan jalan mengimpor aspal.

Kalau pemerintah masih menyetujui juga permohonan-permohonan impor aspal tersebut dengan justifikasi seperti yang disebutkan di atas, maka mungkin pemerintah masih belum tahu bahwa pada tahun 2020, Research and Technology Center (RTC) Pertamina sudah pernah melakukan studi kelayakan untuk membangun pabrik ekstraksi aspal Buton. Dan hasil dari studi kelayakan ini menyatakan bahwa harga aspal Buton ekstraksi lebih murah daripada harga aspal minyak. Pada tahun 2020, harga aspal minyak Rp 7.000 per kg. Sedangkan harga aspal Buton ekstraksi Rp 5.500 kg. Jadi apabila pemerintah memerlukan bukti dan data terpercaya, bahwa harga aspal Buton ekstraksi adalah lebih murah daripada harga aspal minyak, mohon pemerintah bisa langsung menanyakannya kepada RTC Pertamina.

Masalah impor aspal versus aspal Buton ekstraksi jangan dianggap sebagai masalah kecil atau sepele. Indonesia sudah mengimpor aspal selama 45 tahun. Dan harga aspal impor itu ada kecenderungan akan naik terus, mengikuti kenaikan harga minyak bumi dunia. Disamping itu, harga aspal minyak akan naik secara signifikan di masa depan, karena teknologi pengilangan akan semakin canggih, sehingga aspal minyak yang merupakan residu dari produk-produk BBM, akan semakin sedikit. Akibatnya harganya akan semakin mahal.

Setelah kita dapat meramalkan bahwa harga aspal minyak akan semakin mahal di masa depan, mengapa Indonesia tidak mau beralih kepada aspal Buton? Ini pertanyaan yang wajar, bukan? Di sisi lain, kalau Indonesia tidak mau beralih kepada aspal Buton, malah dianggap aneh. Bagaimana logika akal pikiran yang digunakan oleh pemerintah, sehingga Indonesia lebih memilih aspal impor yang harganya lebih mahal, daripada mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton yang harganya bisa lebih murah?.

Mungkin untuk menjelaskan kepada pemerintah bahwa harga aspal impor sangat mahal, dan oleh karena itu kita harus beralih kepada aspal Buton yang lebih murah, kita perlu bantuan dari Bapak Rocky Gerung, sebagai Bapak Akal Sehat. Dalam setiap omongannya, dan tulisannya soal akal sehat, selalu dikumandangkan oleh Rocky Gerung, seolah-olah dengan hilangnya akal sehat pemerintah, maka telah menjadi penyebab keterpurukan bangsa Indonesia. Dan aspal Buton telah menjadi saksi bisu dan korban selama 1 abad dalam hal ini.

Kalau pemerintah masih juga cuek dengan himbauan untuk beralih kepada aspal Buton, karena harga aspal impor mahal, mohon direnungkan bahwa kurs Dollar sekarang telah naik dari Rp 15.000 ke Rp 16.000. Apa artinya ini ? Artinya Indonesia harus membayar aspal impor sebanyak 2 juta ton per tahun, dengan harga Rp 1000 lebih mahal untuk setiap US Dollar. Dan sudah pasti ada kenaikan juga dari biaya-biaya lain, karena kalau kita mengimpor barang, tentu semuanya kita harus membayarnya dalam bentuk mata uang US Dollar.

Harga aspal impor sangat mahal, beralihlah kepada aspal Buton yang harganya bisa lebih murah!. Ini adalah seruan akal sehat.  Semoga pemerintah masih memiliki akal sehat untuk mau beralih kepada aspal Buton. Aspal Buton adalah milik sendiri. Mungkin Pak Prabowo, sebagai presiden baru, harus mau belajar dari Bupati Kulonprogo, Bapak Hasto Wardoyo, yang telah meletakkan dasar ahlak kepemimpinannya melalui spirit kemandirian sebuah bangsa. Beliau mengajak warganya untuk keluar dari kemiskinan dengan kemampuan dan kekuatannya sendiri. Mungkin hal inilah yang tidak dimiliki oleh pak Jokowi selama berkuasa dua periode.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua