Paradoks Amandemen UUD 1945, Salahkan Amien Rais atau Tidak Ada Sistem Demokrasi yang Sempurna?

Sabtu, 8 Juni 2024 14:24 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bergulirnya kembali amanadem UUD 1945 oleh berbagai pihak disinyalir hanya akan menambah deretan panjang hambatan bangsa Indonesia menuju sebuah negara yang demokratis. Setidaknya para elite politik sudah membuang waktu 26 tahun berlalu tanpa ada hasil bagi kemajuan pendidikan politik dan implementasinya.

Demokrasi yang sudah di bangun hampir 26 tahun hanya membuahkan pemerintah oligarki dan menciptakan Dinasti Politik setiap pemerintah berganti. Tujuan diagendakan Reformasi total terhadap segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara mengalami kegagalan total. Akhirnya bangsa ini saat ini sedang terjangkit krisis moral dan mental secara keseluruhan dari pemerintah tingkat RT ke tingkat Presiden. Tujuan demokrasi untuk menemukan dan juga melaksanakan keadilan sosial dan politik serta ekonomi sudah berakhir alias punah. 

Saatnya dibutuhkan Reformasi jilid II atau mungkin lebih ekstrim dilakukan revolusi total. Banyak perubahan dan pengorbanan yang bakal muncul dan juga terjadinya kekalutan politik secara masif dan massal. Mungkin hanya cara tersebut bakal tersapunya rezim oligarki dan antek-antek nya. 

Adakah terbuka jalur damai untuk mengembalikan kedaulatan di tangan rakyat? Jawabanna bisa dan tidak. Tergantung bagaimana stage holder bahwa ini untuk memiki integritas dan juga loyalitas serta keberpihakan pada rakyat. Jika tercapai permusyawaratan tentu menjadi awal baik untuk merebut kembali Mandat Rakyat yang sudah dikuasai oleh rezim. Bila tidak tercapainya konsensus nasional, maka haram untuk rakyat semesta mematuhi rezim yang sedang berkuasa dan saatnya rakyat membangkang hingga proses pengadilan rakyat bergulir dan menghasilkan gerakan revolusi. 

Amien Rais Turun Gunung

Sebagaimana diketahui jika turunnya Ordr Baru di bawah kendali Soeharto selama 32 tahun dioivii oleh gerakan sosial yang akhirnya mengarahkan ke pelawanan politik nasional. Terjadinya gelombang rakyat untuk melengserkan kab Rezim Soeharto yang sudah didaulat pelanggaran konstitusional dan juga sudah mengambil alih mandat rakyat untuk kepentingan rezim berkuasa. Lahirnya gerakan Reformasi jilid 1 sebagai bukti perlawanan masih dan terstruktur hingga dapat meluluhkan kekuasaan absolut Orde Baru. 

Gerakan Reformasi tidak terlepas dari mantan Ketua MPR periode 1999-2004, Amien Rais. Mantan Dosen Fisipol UGM ini yang paling getol berjihad menumbangkan rezim Orde Baru. Dengan menyuarakan gerakan People Power akhirnya tenk Soeharto dapat ditumbangkan dan mengakhiri Pemerintah Soeharto yang baru 2 tahun berjalan dari hasil Pemilu 1997.

Amien Rais dan tokoh pro demokrasi berjaya serta merta menghasilkan berbagai produk pemahaman dan perubahan baik konstitusi dan juga proses demokrasi yang akan dibentuk dan dijalankan.

Amien Rais tak hanya berhenti sebagai pelopor Reformasi, Ia berkiprah mendirikan Partai Amanat Nasional ( PAN) dengan mengagas spirit Reformasi dan penataan ulang proses bernegara dan berbangsa yang baik dan udeal. Lahirnya proses pesta demokrasi di awal Reformasi. Pemilu pertama tahun 1999 paska Reformasi berhasil dilakukan dan menobatkan Amien Rais sebagai Ketua MPR periode 1999-2004.

Reformasi Yang Kebablasan

Amien Rais yang juga Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah merasakan bersalah dan tydak berfikir jika apa yang dicita-citalkan dalam proses Reformasi alan mengalami jalan buntu yang diyakini sebagai malapetaka gagalnya produk kebijakan yang pada akhirnya kembali lagi dalam sistem pemerintahan otoriter. Apa yang menjadi kemuliaan Reformasi telah dikooptasi secara menyeluruh untuk kepentingan oligarki. Inilah yang sedang disesalkan dan membuat Amien Rais harus turun gunung kembali. 

Amien Rais mengkoreksi apa yang telah diyakini nya sebelumnya. Konon Ia menyampaikan alasannya dulu saat ia menjadi Ketua MPR mengubah aturan pemilu presiden yang awalnya dipilih oleh MPR, mejadi secara langsung atau dipilih rakyat.Keyakinan Amien Rais sudah ambyar dan seorang Amien Rais sendiri tydak bisa berbuat banyak secara politik karena keterbatasan kendaraan politik. 

Dalam Pemilu 2024 Partainya yakni Umat tidak lolos ke Senayan, artinya apa yang dikehendaki oleh Amien Rais tidak terwakili di legislatif sehingga suara politik Amien Rais seperti pepesan kosong atau disebutkan Amien Rais dianggap tong kosong nyaring bunyinya. 

Amandemen UUD 45

Reformasi dianggap sudah dianggap kebablasan hingga menuai berbagi distorsi politik yang najis. Awalnya Amien menganggap konsep pemilu langsung akan jauh dari praktik politik uang dan demokrasi sepenuhnya di tangan rakyat. Namun keyakinan Amien Rais keliru, justru pemilu dilaksanakan dengan brutal dan bar-bar. Hak suara rakyat dibeli, caleg dan kepala daerah dipenuhi oleh kelompok oligarki, penggunaan kekuasaan untuk memenangkan pemilu dan ketiadaan netralitas penyelengara serta pengawasan pemilu. 

Kondisi kian panik dan runyam yang dihadapi bangsa Indonesia. Akar masalahnya akhirnya tertuju pada aturan dasar penyelenggaraan pemerintahan dan ketatanegaraan. Oleh karena nya banyak tokoh dan juga elite partai memproklamirkan dilakukan amandemen UUD 45 untuk sekalian kalinya. Salah satu point krusial adalah dikembalikannya pilpres dipilih MPR.

Banyak pihak akhirnya tidak mempermasalahkan jika presiden dipilih kembali oleh MPR melalui amendamen UUD 1945. Dengan begitu, MPR kembali kepada fungsinya sebagai lembaga tinggi negara.

Amien Rais berpendapat setuju dilakukan amandemen. "Jadi sekarang kalau mau dikembalikan dipilih MPR, mengapa tidak? MPR kan orangnya berpikir, punya pertimbangan," kata Amien Rais usai menggelar pertemuan dengan pimpinan MPR di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (5/6/2024).

Penyesalan Amien Rais

Tidak ada rasa penyesalan datang di salah dan pasti diakhir sebuah peristiwa yang gagal atau telah menyakiti banyak pihak. Xenikina juga yang dirasakan oleh Mantan Ketua MPR RI periode 1999-2004 . Seorang Amien Rais mengaku menyesal karena telah memperjuangkan metode presiden dipilih rakyat. Inisiator Reformasi ini telah menjerumuskan demokrasi berpindah tangan ke golongan oligarki dan antek-anteknya. 

Permintaan maaf itu disampaikan Amien Rais saat bertemu dengan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat pada Rabu

"Sekarang saya minta maaf, jadi dulu kita mengatakan kalau dipilih langsung one man one vote mana mungkin orang sogok 120 juta pemilih, butuh puluhan triliun, tapi ternyata mungkin,” ucap Amien Rais.

Paradoks Amandemen 

Ironinya dukungan Amandemen UUD 45 kembali mencuat dan tokoh Reformasi tersebut kembali menjadi bagian pendukung amandemen. Mengingatkan kembali jika kerja Reformasi yang digulirkan Amien Rais dan kawan-kawan yang berlangsung hampir 26 tahun akhirnya dikembalikan dalam skema PilPres atau pun Pilgub dan Pilkada seperti yang berlaku di saat orde baru (Orba) berkuasa. Artinya, sebenarnya perjuangan menumbangkan Orde Baru dan melahirkan Rezim Reformasi tidak ada manfaat dan justru membuang waktu dan tenaga rakyat dan juga negara dirugikan waktu dan biaya. 

Masihkah percaya gagasan untuk amanadem UUD 45 akan mengembalikan keutuhan demokrasi ataukah sebenarnya tidak ada Rezim dan aturan yang ideal untuk menciptakan demokrasi yang sesungguhnya?

Bagikan Artikel Ini
img-content
Heru Subagia

Penulis, Pengamat Politik dan Sosial

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua