Pilgub Banten 2024 (1): Konstelasi Politik Menjelang Kandidasi

Minggu, 9 Juni 2024 06:10 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Proses kandidasi Pilgub Banten potensial berlangsung rumit dan tidak mudah jika proses pemaketan pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur mengedepankan platform ideologis dan marwah masing-masing partai politik. Sebaliknya, jika alas pijak kandidasi semata-mata pragmatika politik maka proses kandidasi akan berlangsung mudah, bahkan mungkin tanpa dinamika yang berarti.

Perhelatan Pilgub Banten potensial berlangsung sangat dinamis di fase kandidasi dan kompetitif di fase kontestasi. Beberapa faktor dapat mendorong ke arah situasi ini.

Pertama, berdasarkan perolehan suara Pemilu 2024 tidak ada satupun partai yang mencapai angka ambang batas (threshold) pencalonan kepala daerah. Bahkan juga tidak ada pemenang tunggal karena perolehan kursi terbanyak diraih bersama oleh tiga partai politik. Yakni Golkar, PDIP, dan Gerindra, masing-masing meraih 13 kursi di DPRD Provinsi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Situasi yang demikian akan memaksa partai-partai untuk membangun koalisi agar dapat mengusung pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Dalam konteks ini komunikasi dan penjajagan antar partai untuk menyiapkan tiket-tiket Paslon potensial akan ramai diwarnai oleh berbagai manuver politik.

Kedua, kedigdayaan politik keluarga Ratu Atut yang selama ini mendominasi kontestasi pemilihan di Banten cenderung melemah. Saat yang sama telah muncul aktor-aktor politik baru yang lebih mandiri dan tidak terafiliasi atau berjejaring dengan dinasti di Banten, seperti Arief Wismansyah (Nasdem), Andra Soni (Gerindra), atau Rano Karno (PDIP) yang nampaknya bakal kembali maju.

Ahmad Syauqi, putra Wakil Presiden Ma'ruf Amin saat di wawancara di DPW PKB Banten, Senin 20 Mei 2024. ANTARA/Desi Purnama Sari

Situasi ini akan membuat medan pertarungan elektoral menjadi terbuka dan kompetitif. Airin Rachmi Diany, yang nampaknya disiapkan oleh keluarga Ratu Atut untuk merebut kembali momentum hegemoni kepolitikan di Banten bukanlah figur yang (sangat) kuat. Airin tidak sekuat Atut di Pilkada 2006 dan 2011.

Ketiga, dua figur mantan petahana terakhir, yakni Wahidin Halim (mantan Gubenur) dan Andika Hazrumy (mantan Wakil Gubernur) hampir pasti tidak akan maju kembali. Kabar terakhir, Wahidin dalam posisi wait and see, masih akan melihat perkembangan karena takut “Jebakan Batman” (Kompas.com, 8 Mei 2024). Sementara Andika sudah memutuskan untuk maju dalam Pilkada Kabupaten Serang.

Dengan demikian Pilgub Banten bakal diramaikan oleh figur-figur yang benar-benar baru, kecuali Rano (jika jadi dimajukan PDIP) yang pernah menjadi Wagub di era Gubernur Ratu Atut periode kedua.  

Keempat, dari nama-nama yang sudah beredar hingga saat ini, belum ada satupun figur yang unggul secara telak dibanding para kompetitornya. Dari hasil sigi dua lembaga survei terakhir (IPRC dan ARCHI Research and Strategy) sekira sebulan yang lalu, Airin memang unggul. Tetapi besaran gap angkanya belum cukup siginfikan dibanding pesaing-pesaingnya sebagaimana dapat dibaca dari data berikut ini.

Hasil survei IPRC (dalam prosentase) menunjukan Airin unggul dengan perolehan suara 20,2. Disusul Rano 14,2, Wahidin 10,6, Iti Jayabaya 6,6, dan Zaki Iskandar 5,8. Sementara berdasarkan hasil survei ARCHI Research and Strategy, Airin meraih 22,22, Rano 14,81, Iti Jayabaya 13,58, Arief Wismansyah 11,11, Ratu Ageng Rekawati 9,88, Wahidin, 8,64 dan Gembong Sumedi 7,41. (Radar Banten, 21 April 2024).

Keunggulan sementara Airin (versi lembaga survei) atas figur-figur lainnya boleh jadi karena sokongan efektif dari media sosialisasi yang sudah ditebar di antero Banten jauh sebelum nama-nama lain muncul di ruang publik. Baliho, poster, dan spanduk Airin sudah bertebaran bahkan jauh sebelum Pemilu 2024 digelar. Jadi, wajar jika responden yang tersasar sebagai sampel dalam survei banyak yang menyebut nama Airin.

Kerumitan Kandidasi

Bertolak dari konstelasi elektoral diatas proses kandidasi mungkin bakal diwarnai kerumitan-kerumitan politik karena berbagai faktor yang akan diulas nanti. Tetapi situasi ini hanya akan terjadi jika proses pemaketan pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur mengedepankan platform ideologis dan marwah masing-masing partai politik. Sebaliknya, jika alas pijak kandidasi semata-mata pragmatika politik maka proses kandidasi akan berlangsung mudah, sat-set, bahkan mungkin tanpa dinamika yang berarti.

Potensi kerumitan pertama bermuara pada peta perolehan kursi di DPRD Banten hasil Pemilu 2024. Tiga partai politik yang meraih suara tertinggi, yakni Golkar (932.670), Gerindra (886.432), dan PDIP (853.565) tentu akan sangat berkepentingan untuk memajukan kadernya sebagai kandidat Gubernur.

Diantara ketiga partai tersebut, Golkar yang paling mungkin dan realistis untuk dapat memajukan kadernya sebagai Cagub. Selain perolehan suaranya paling tinggi, Golkar sudah lama mempersiapkan Airin sebagai bakal calon Gubernur. Yang kedua tentu PDIP, terutama karena memiliki Rano Karno yang sudah berpengalaman sebagai Wagub dan Gubernur. Gerindra hanya mungkin karena faktor perolehan suara. Dari sisi kader yang saat ini sedang dipromosikan, yakni Andra Soni, popularitas dan level pengalaman politiknya masih dibawah Airin maupun Rano.

Di bawah ketiga partai tersebut, ada PKS yang meraih suara sebanyak 773.102 dengan 13 kursi di DPRD Banten. Meski berada di urutan keempat pemenang Pemilu, PKS sudah fix bakal memajukan Dimyati Natakusumah sebagai calon Gubernur. Ambisi PKS terbilang wajar, karena dari sisi perolehan suara tidak terlampau jauh perbandingannya dengan Golkar, Gerindra dan PDIP. Di sisi lain, Dimyati sebagai kadernya sudah mempersiapkan diri lebih awal dibandingkan Rano dan Andra Soni.

Tetapi sekali lagi, keempat partai itu tidak bisa mengusung sendirian pasangan calon karena perolehan suara maupun kursi di DPRD Banten hasil Pemilu 2024 gagal menembus ambang batas (threshold) pencalonan. Maka koalisi (kerjasama) dengan partai lain adalah pilihan yang tidak bisa dihindari untuk dapat mengajukan pasangan calon. Nah, soal pembentukan koalisi ini potensial bakal melahirkan kerumitan berikutnya (bersambung).

Bagikan Artikel Ini
img-content
Agus Sutisna

Penulis Indonesiana | Dosen | Pegiat Sosial

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua