Sampai Kapankah Indonesia akan Impor Aspal Terus?

Jumat, 14 Juni 2024 14:46 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Rakyat Indonesia merasa sedih dan kecewa, karena tanda-tanda dan upaya-upaya untuk pemerintah mau segera beralih kepada aspal Buton masih belum tampak.

Impor adalah transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Pada umumnya, pembelian barang impor adalah barang-barang yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri sendiri. Sebagai contoh, Indonesia merupakan negara yang tidak memiliki produk gandum. Maka, agar bisa memenuhi kebutuhan gandum di dalam negeri, Indonesia harus mendatangkan produk gandum dari negara lain (impor gandum).

Yang menjadi perhatian kita sekarang ini adalah bahwa Indonesia sudah mengimpor aspal selama 45 tahun. Sampai kapankah Indonesia akan mengimpor aspal terus ? Mengapa hal ini harus ditanyakan? Karena masa 45 tahun adalah waktu yang sangat lama sekali. Dan mirisnya, sampai saat ini pemerintah masih belum memiliki misi dan visi untuk mau berswasembada aspal. Padahal deposit aspal alam di Pulau Buton sangat melimpah. Oleh karena itu, melihat fakta dan kondisi di lapangan seperti ini, maka dapat disimpulkan bahwa sejatinya pemerintah akan mengimpor aspal terus selamanya?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mengutip berita dari money.kompas.com, tanggal 30 November 2022, dengan judul: “Mngenal Apa itu Impor: Pengerian, Tujuan, Manfaat, dan Jenisnya”, impor adalah kegiatan yang melibatkan dua negara diwakili oleh kepentingan antar negara tersebut.

Salah satu tujuan utama dari kegiatan impor adalah untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Tujuan lain dari kegiatan impor adalah meningkatkan neraca pembayaran dan mengurangi adanya keluar devisa pada negara lain.

Setelah kita mengetahui definisi impor dan tujuan, serta manfaat impor, maka timbul pertanyaan di dalam hati kita. Bagaimana dengan kebijakan pemerintah mengenai impor aspal? Padahal sejatinya, impor itu adalah bertujuan untuk membeli barang yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri. Sedangkan aspal adalah komoditas yang sudah mampu diproduksi di dalam negeri. Jadi bagaimana ini, pemerintah?

Kalau ditanya, apakah aspal sudah bisa diproduksi di dalam negeri? Jawabannya adalah sudah. Pertamina sudah mampu memproduksi aspal dari kilangnya di Cilacap sebesar 300 – 400 ribu ton per tahun. Tetapi mengapa Indonesia mengimpor aspal? Karena kebutuhan aspal nasional adalah sangat besar. Kurang lebih sebesar 2 juta ton per tahun. Oleh karena itu pemerintah terpaksa harus mengimpor sejumlah kekurangannya tersebut. Jadi tidak ada masalah, bukan?

Benar. Memang tidak ada masalah untuk mengimpor aspal untuk memenuhi kebutuhan aspal di dalam negeri. Tetapi masalahnya adalah Indonesia sudah memiliki potensi aspal alam yang terdapat di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, yang mampu mensubstitusi aspal impor tersebut dengan kualitas yang lebih bagus, dan harga yang bisa lebih murah. Seharusnya pemerintah sudah paham benar mengenai masalah penting ini. Tetapi mengapa seolah-olah impor aspal ini sudah dianggap sebagai satu-satunya solusi yang paling benar untuk memenuhi kebutuhan aspal nasional? Apakah tidak ada alternatif lain yang lebih baik lagi?

Tujuan lain dari kegiatan impor adalah meningkatkan neraca pembayaran dan mengurangi adanya keluar devisa pada negara lain. Atas dasar pertimbangan ini, seharusnya pemerintah melakukan introspeksi dan evaluasi diri mengenai kebijakan mengimpor aspal yang sudah dilaksanakan selama 45 tahun. Apakah benar sejatinya aspal Buton itu mampu mensubstitusi aspal impor dengan kualitas yang lebih baik, dan harga yang bisa lebih murah?

Disamping itu pemerintah harus menghitung berapa besar kerugian negara dengan adanya kebijakan impor aspal ini? Dengan asumsi dimana harga aspal impor secara pasti akan naik terus, sejalan dengan naiknya harga minyak bumi dunia. Ditambah lagi, pada saat ini kurs Dollar terhadap Rupiah sudah naik juga di atas Rp 16.000. Bagaimana kebijakan pemerintah akan mampu memenuhi kebutuhan aspal di dalam negeri, apabila pada suatu saat di masa yang akan datang harga minyak bumi dunia akan naik ke harga di atas US$ 100 per barel, dan kurs Dollar naik ke atas Rp 20,000. Masihkah kita mampu membeli aspal impor?

Rasanya aneh, kalau pemerintah tidak tahu bahwa sejatinya harga aspal impor akan cenderung akan naik terus di masa yang akan datang. Dan lebih aneh lagi, mengapa pemerintah tidak mau mengambil tindakan konkrit untuk mengantisipasi kenaikan harga aspal impor yang sangat signifikan di masa yang akan datang tersebut? Apakah urusan potensi kenaikan harga aspal impor yang signifikan di masa yang akan datang adalah urusan pemerintahan yang akan datang? Kalau memang benar seperti ini logika pemikirannya, maka segala sesuatunya sudah akan sangat terlambat.

 Mumpung sekarang sudah terpilih presiden baru, pak Prabowo Subianto. Diharapkan sekarang sudah tiba saatnya yang paling tepat untuk pak Prabowo berani mengkoreksi kebijakan impor aspal yang telah berjalan selama 45 tahun. Sekarang coba pemerintahan baru menghitung berapa besar keuntungan negara, apabila Indonesia sudah mampu berswasembada aspal. Berapa besar devisa negara yang akan dapat dihemat?? Berapa banyak lapangan pekerjaan baru yang akan dapat diciptakan? Berapa banyak jalan-jalan baru yang akan dibuat di seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan aspal Buton untuk tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi?

 Dan hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh presiden-presiden sebelumnya adalah dimana Indonesia yang sebelumnya merupakan salah satu negara pengimpor aspal terbesar di dunia, mudah-mudahan di tangan pak Prabowo, sekarang Indonesia akan menjadi negara pengekspor aspal terbaik di dunia. Betapa bangga dan bahagianya rakyat Indonesia melihat kemungkinan mimpi ini akan terwujud. Tetapi di sisi lain, rakyat Indonesia merasa sedih dan kecewa, karena tanda-tanda dan upaya-upaya untuk pemerintah mau segera beralih kepada aspal Buton masih belum tampak.

 Apakah pemerintah akan mengimpor aspal terus sampai harga aspal impor naik terus secara signifikan, sehingga Indonesia sudah tidak mampu lagi untuk membelinya? Dan kemudian baru mau beralih kepada aspal Buton? Kalau hal ini yang diinginkan, maka segala sesuatunya sudah sangat terlambat. Tidak ada kata maaf dengan ucapan: “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”. Adapun, bukankah kita memiliki nalar dan rasa untuk berpikir secara jernih? Berpikir gagal, artinya kita sudah gagal. Semoga pemerintahan pak Prabowo akan lebih baik daripada pemerintahan pak Jokowi. Khususnya dalam hal mensyukuri nikmat harta karun aspal Buton.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua