Prasasti Kedukan Bukit: Munculnya Angka Nol dan Lahirnya Kota Palembang

Minggu, 16 Juni 2024 09:08 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Penggunaan bilangan desimal baru familiar ketika ditemukan angka nol oleh ilmuwan India bernama Brahmagupta abad VII M. Setelah ditelusuri lebih mendalam, angka nol sudah digunakan bangsa Melayu lewat Prasasti Bukit Seguntang (604 S).

Dahulu masyarakat dunia awalnya hanya mengenali angka romawi. Penggunaan angka bilangan desimal baru familiar ketika ditemukan angka nol oleh ilmuwan India bernama Brahmagupta abad VII M. Setelah ditelusuri lebih mendalam, keberadaan angka nol sudah digunakan oleh bangsa Melayu dimana penemuan tersebut berada pada penjelasan Prasasti Bukit Seguntang (604 S). Jejak historis tersebut telah membuktikan bahwa orang Melayu memiliki kegeniusan dalam berpengetahuan. Peninggalan prasasti itu juga menandakan kelahiran Kota Palembang sebagai kota tertua di Indonesia.

Pada tahun 1920, Batenburg menemukan Prasasti Kedukan Bukit (682 M) dalam sebuah rumah orang Malayu di Desa Bernama Kedukan Bukit. Prasasti inilah yang pertama kali ditemukan di Daerah Palembang bersamaan dengan Prasasti Talang Tuwo (684 M). Prasasti ini memuat penjelasan secara singkat namun memberikan informasi yang sangat padat dan penting bagi penulisan sejarah (Munandar et al., 2012:74).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kedukan Bukit merupakan suatu prasasti yang ditemukan dengan angka tahun tertua di Indonesia. Dalam prasasti ini terdapat tiga pertanggalan yang memuat angka tahun 682 M. Penjelasan prasasti ini menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Malayu Kuno, serta jumlahnya hanya 10 baris Suwardono (2013:37). Untuk lebih mengenali prasasti ini lebih lanjut kemudian diberi nama Prasasti Sriwijaya I dan disimpan di Museum Nasional, Jakarta, bernomor D.146 (Poesponegoro & Notosusanto, 2008:52).

Berikut hasil kutipan dari (Boechari, 1993:1-2) mengenai isi dari Prasasti Kedukan Bukit, sebagai berikut:

  1. Swasti sri sakawarsatita 604 ekadasi su
  2. Klapaksa wulan waisaka dapunta hiyam nayik di
  3. Samwau manalap siddayatra di saptami suklapaksa
  4. Wulan jyestha dapunta hiyam marlapas dari minana
  5. Tamwan mamawa yam wala dua laksa danan kosa
  6. Dua ratus cara di samwau danan jalan sariwu
  7. Tlu ratus sapuluh dua wanakna datam di mukha …
  8. Sukhacitta di pancami suklapaksa wula (n asadha)
  9. Laghu mudita datam marwuat wanua (ini …)
  10. Sriwijaya jaya siddhayatra subhiksa ni (t) y (akala)

Berdasarkan isi dari prasasti tersebut mengungkapkan bahwa keberhasilan ekspedisi yang dilakukan oleh Dapunta Hyang, yang kemudian mendirikan sebuah kota bernama Sriwijaya. Tentunya prasasti ini sebagai bukti bahwa Kedatuan Sriwijaya telah terbentuk dan berdiri di Kota Palembang. Selain itu juga dibuktikan dengan keberadaan beberapa prasasti lain, seperti Talang Tuwo, Telaga Batu, dan Kota Kapur.

Menurut L.R. Retno Susanti, dosen pendidikan sejarah Universitas Sriwijaya, menyatakan pada 13 Juli 2023 dalam kegiatan seminar di Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya (TWKS), sebagaimana penyebutan angka nol telah ada sejak dibuatnya Prasasti Kedukan Bukit. Hal ini dibuktikan pada baris pertama yang menyebutkan tahun 604 S. Hal senada juga diungkapkan oleh Ninny Susanti Tejowasono dalam Seminar Membaca Kembali Prasasti Sriwijaya koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan pada 17-18 Juli 2023. Ia menyatakan bahwa sebelum angka nol muncul, pada masa sebelumnya menggunakan angka berupa romawi. Faktanya orang-orang Melayu sudah menggunakan angka nol. Artinya peradaban ilmu pengetahuan sudah berkembang dan maju, sehingga diimplementasikan pada masa kejayaan Kedatuan Sriwijaya.

Menurut Brandes, seorang ahli kebudayaan Nusantara, menjelaskan menjelang masuk ke periode sejarah (mulai mengenal tulisan) penduduk Nusantara telah mengenal beberapa kepandaian, diantaranya dapat membuat figur manusia atau hewan (patung atau arca), mengenal pola-pola hias, mengenal instrumen musik, mengetahui cara mengecor logam, mengembangkan tradisi lisan, mengenal alat tukar, mengenal teknik navigasi, mengetahui ilmu astronomi, melaksanakan irigasi pertanian, dan mengenal tatanan masyarakat yang sudah teratur dan tertata baik (Suryanegara, 2018:9).

Kebudayaan Melayu memiliki peran penting dalam upaya penguatan nasionalisme bangsa. Hal ini disebabkan oleh latar belakang sejarah dan peradaban Nusantara yang menempatkan kebudayaan Melayu sebagai salah satu unsur berpengaruh. Bahkan, bahasa pemersatu yang dicetuskan dalam Kongres Pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menunjuk bahasa Melayu sebagai elemen terpenting dalam penyusunan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional (Mudra, 2012).

Dengan demikian, kemajuan peradaban ilmu pengetahuan sudah ada semenjak orang-orang Melayu. Mereka memperdalam ilmu pengetahuan sebagai upaya untuk menjalin hubungan perdagangan dengan negara-negara besar, seperti Cina, Arab, dan Eropa. Hal yang dilakukannya dengan cara mempelajari bahasa sebagai komunikasi yang sangat penting dalam melakukan sebuah diplomasi.

Lahirnya Kota Palembang

Prasasti Kedukan Bukit dikeluarkan pada tanggal 16 Juni 682 M. Intinya menceritakan tentang pembangunan sebuah wanua (perkampungan) oleh Dapunta Hyang setelah meraih kemenangan dan menaklukan beberapa wilayah dalam ekspedisinya yang disebut sebagai “Perjalanan Suci atau Mangalap Siddhayatra” dari sebuah tempat yang bernama Minanga Tamwan. Dari pendirian kampung tersebut, posisi kekuasaan Kedatuan Sriwijaya diindikasi berada di Palembang. Selain dibuktikan dengan temuan berupa Prasasti Kedukan Bukit, ini juga menandakan hari lahirnya Kota Palembang pada tanggal 16 Juni, sesuai acuan dari prasasti yang menyebut “Datang ke Palembang”.

Namun ada teori lain: “Kembali ke Palembang”. Kalau mencermati isi Prasasti Kedukan Bukit, Kerajaan Sriwijaya itu sebenarnya sudah ada sebelum tahun 682 Masehi, sebelum Dapunta Hyang membangun wanua baru di akhir perjalanan sucinya. Rombongan Dapunta Hyang sudah berada di bawah panji-panji Sriwijaya ketika bertolak dari Minanga Tamwan. I-tsing, bhiksu Tiongkok, menyebutkan Fo-Shih sebagai ibukota Shih-Li-Fo-Shih (Sriwijaya), ketika singgah pertama kali di Sumatera pada tahun 671 M dalam perjalanannya menuju Kanton (India).

Bila Fo-Shih dianggap lafal Cina untuk menyebut (sungai) Musi, maka pusat Sriwijaya sebelum tahun 682 itu mungkin juga sudah berada di tepian Sungai Musi, Palembang. Minanga Tamwan sendiri dapat dianggap sebagai daerah taklukan, yang harus dicari di tempat lain. Bisa jadi di sekitar pantai timur Sumatera Selatan atau Jambi, karena penelitian terakhir di sana banyak menemukan bukti-bukti pemukiman. Prasasti Kedukan Bukit akhirnya dapat ditafsirkan sebagai “perjalanan kembali” Dapunta Hyang setelah menaklukkan penguasa di wilayah pantai timur. Wanua baru yang kemudian dibangun di daerah Kedukan Bukit, di selatan Bukit Siguntang, Palembang, boleh diartikan sebagai perluasan dari pusat Sriwijaya sebelumnya (Sahid, 2017:17).

Menurut George Coedes menyatakan Prasasti Kedukan Bukit memuat keterangan pembentukan negeri Sriwijaya. Demikian pula yang disampaikan oleh Poerbatjaraka. Lanjut penyampaian dari Muhammad Yamin secara menegaskan bahwa prasasti ini merupakan proklamasi pembentukan Kedatuan Sriwijaya. Kemudian, pendapat para ahli tersebut dijadikan rujukan dalam penyusunan buku Sejarah Nasional Indonesia, buku yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai buku standar bagi mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.

Menurut Slametmulyana mengungkapkan bahwa Kedatuan Sriwijaya selamanya beribukota di Palembang dan tidak pernah berpindah-pindah. Isi Prasasti Kedukan Bukit tidak ada hubungannya dalam pembuatan Kota Sriwijaya, dan Minanga yang disebutkan dalam prasasti itu hanyalah sebuah daerah taklukan Sriwijaya. Slametmulyana juga menyatakan lokasi Minanga berada di Muara Teluk (Jambi). Namun kembali direvisi, pernyataannya mengungkapkan bahwa lokasi Minanga di Binanga yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatra Timur.

Anggapan bahwa isi dari Prasasti Kedudukan Bukit menyatakan pembentukan negeri Sriwijaya, bersumber pada ungkapan “marwuat wanua” yang tercantum pada baris kesembilan prasasti itu. Para ahli sejarawan mengartikannya “membuat kota”, sehingga timbul pendapat bahwa pada tahun 682 Dapunta Hyang datang ke Palembang untuk mendirikan negeri Sriwijaya (Irfan, 1983:45-46).

Daftar Referensi

Boechari. (1993). Prasasti Kedukan Bukit (p. 12). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Irfan, N. K. S. (1983). Kerajaan Sriwijaya (Cet-I). PT. Girimukti Pasaka.

Mudra, A. (2012). Bunga Rampai Peradaban Melayu Islam (M. Sirozi, A. Bakri, & Bukhori (eds.)). Badan Kajian dan Penerbitan ICMI Sumatera Selatan.

Munandar, A. A., Utomo, B. B., Wurjantoro, E., Astra, I. G. S., Ardika, I. W., Suhadi, M., Mustopo, M. H., Nur, M., Julianto, N. S., Rahardjo, S., & Nastiti, T. S. (2012). Kerajaan Hindu-Budhha (T. Abdullah & A. B. L. (alm) (eds.)). PT Ichtiar Baru van Hoeve.

Poesponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (2008). Sejarah Nasional Indonesia II (Cet-2). Balai Pustaka.

Sahid, N. (2017). “Kedatuan Sriwijaya” Perjalanan Suci (B. B. Utomo (ed.)). Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Suryanegara, A. E. (2018). Membaca Sriwijaya (Cet I). Yayasan Kebudayaan Tandipulau dan Dinas Kebudayaan Kota Palembang.

Suwardono. (2013). Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha. Penerbit Ombak.

Seminar

Ninny Susanti Tejowasono. Dosen Arkeologi UI & Sekretaris PAEI (Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia).

L.R. Retno Susanti. Dosen Pendidikan Sejarah dan Teknologi Pendidikan di Universitas Sriwijaya.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Made Darme

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua