Menyambut Euro2024: Bola Sang Alkemis

Minggu, 16 Juni 2024 09:49 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content1
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apakah persamaan bola dengan sastra? Mengapa penulis sekaliber Paulo Coelho yang dikenal dengan karya gemilangnya, Sang Alkemis, itu pernah hadir di perhelatan Piala Dunia? Eforia saat ini tengah melanda penggila bola menyambut Euro2024, mereka datang dari segala lapisan. Bersiaplah!

Di Fan Fest, dekat Jembatan Brandenburg, Berlin, itu Paulo Coelho berdiri takjub. Di hadapan layar raksasa yang menayangkan pertarungan dua tim, ribuan manusia berbagai bangsa tumplek di sana. Kibasan bendera. Kor membahana. Dan nasionalisme menggelegak ke udara. "Inikah sebuah festival?," bisiknya kepada diri sendiri.

Tampaknya ia merasakan umat manusia tengah merayakan impian kolektif dan
menitipkannya pada 22 laki-laki yang berlaga di lapangan.

Impian tentang kemuliaan sebuah bangsa? Tidak, karena Coelho lalu menyaksikan pendukung tim yang berbeda saling bergandengan tangan begitu pertempuran usai. Saat itu musik kembali dimainkan. Fan Fest senantiasa dalam keriaan. Dan dia melihat impian anak manusia untuk bisa hidup saling berdampingan telah dihantarkan sebuah permainan bernama sepak bola. Tanpa kecanggungan.

Mungkin ia segera teringat pada Santiago, tokoh utama dalam novelnya yang menggetarkan, Sang Alkemis. Santiago adalah bocah penggembala yang memilih berpihak pada mimpi-mimpinya. Bedanya, Santiago mencarinya dalam pengembaraan sepanjang Andalusia hingga Mesir--dalam kesendirian. Sedangkan mereka yang di Fan Fest itu, juga khalayak pemuja sepak bola sejagat yang tengah tersihir perhelatan Piala Dunia 2006, mengusung mimpinya dalam ephoria global.

Kepada Santiago, dalam Sang Alkemis, Coelho seperti mecangkingkan mimpinya tentang dunia yang ia harapkan. Apakah Coelho telah terpilih untuk memberikan kesaksian: bahwa sastra dan sepak bola sama-sama memberikan harapan membuat dunia menjadi lebih baik?

Ini kedengarannya mengada-ada. Tetapi dia tak sendiri. Lihatlah, Klaus Maine ternyata memberikan kesaksian serupa. "Musik dan sepak bola dapat mengubah dunia. Karena inilah bahasa dunia," titah vokalis Scorpions itu.

Tetapi mari kita yakini kebenaran berikut. Sastra lebih dari sekadar bahasa dunia. Dia bahasa kemanusiaan. Padanyalah harapan paling sederhana dari kemanusiaan kerap dibisikkan. Kenapa? Karena sastra merawat mimpi kemanusiaan jauh dari hiruk-pikuk. Juga dengan kesabaran (yang demikian revolosioner).

Dr Zhivago, yang ditulis Boris Pasternak, misalnya, baru bisa dinikmati publiknya sendiri setelah 25 tahun. Nasibnya mirip tetralogi Pulau Buru. Umat manusia perlu waktu yang panjang untuk dapat mencecap nilai-nilai kemanusiaan yang dikandung buku tersebut.

Beberapa pekan sebelum Piala Dunia (2006) dibuka, sebuah simposium bertema "Sastra Dunia Jumpa Sepak Bola Dunia " digelar di Berlin. Acara yang dihadiri sastrawan terkemuka beberapa negara ini hendak melacak relasi sastra dan sepak bola dalam merespons zaman.

Hanning Mankell, penulis kondang Swedia, berceloteh, sastra dan sepak bola berurusan dengan hal sama, yakni konflik, kontradiksi, solusi. "Sastrawan dan pemain sepak bola harus membuatnya menarik, agar bisa dinikmati," katanya.

Menarik atau tidak adalah soal lain. Tapi misi suci sastra ataupun sepak bola tak bisa dicapai secara instan. Dia tetap harus diperjuangkan. Masih terngiang kata-kata Santiago," Kemungkinan mewujudkan mimpi menjadi kenyataan akan membuat hidup lebih menarik."

Impian itulah yang selalu menjaga daya hidup. Pasternak bersedia menunggu 25 tahun sebelum kitabnya dibaca. Sepak bola sudi menunggu lebih lama lagi. Lihatlah Sheffield, klub sepak bola pertama di dunia yang didirikan pada 1875. Saat itu, pertandingan hanya dimainkan antaranggota klub, tim yang sudah menikah melawan tim para lajang. Atau anggota yang sudah bekerja melawan pengangguran. Sepak bola, pada waktu itu, seperti hanya pengisi waktu senggang sekeompok orang saja.

Kini, 131 tahun kemudian, anak segala bangsa saling bertemu di Jerman untuk merawat persahabatan (dan empat tahun kemudian di Afrika Selatan). Sepak bola telah menjadi koridor paling lega, agar warga dunia kian menyadari bahwa mereka tidak berbeda.

Dan Coelho pelan-pelan merasa sang mimpi mulai mengetuk pintu kenyataan.

*) Tulisan ini (dengan versi editing) telah dimuat sebagai Kolom di Koran Tempo, 2 Juli 2006

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bagikan Artikel Ini
img-content
tuluswijanarko

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua