Swasembada Aspal, Pekerjaan Rumah yang Tidak Dikerjakan Pemerintah

Senin, 17 Juni 2024 05:42 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kesimpulannya, kalau Indonesia sudah hampir 79 tahun merdeka, dan masih belum mau mewujudkan Indonesia berswasembada aspal, berarti pemerintah malas untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Pekerjaan rumah adalah tugas mandiri terstruktur yang diberikan guru kepada muridnya untuk dikerjakan di rumah sebagai latihan tambahan. Namun ada orang yang berpikir bahwa pekerjaan rumah itu hanya merupakan tugas tambahan biasa saja. Dan dianggap tidak penting untuk dikerjakan, karena bukan sebagai tugas utama. Sehingga dengan demikian, pantas saja banyak urusan-urusan besar dan penting yang terbengkelai.

Kita semua sudah pernah bersekolah, bukan?. Apakah kita pernah menganggap bahwa pekerjaan rumah itu adalah tidak penting? Sehingga kita tidak merasa perlu untuk mengerjakannya?. Tetapi setiba di sekolah, ketika pekerjaan rumah itu harus dikumpulkan, kita dengan terburu-buru berusaha untuk mencontek dari teman. Tetapi seandainya tidak ada satupun teman yang mau memberikan contekannya, maka kita sudah siap dan pasrah untuk dihukum oleh guru.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mungkin ilustrasi di atas ini bisa memberikan sedikit gambaran kepada kita, mengapa Indonesia sudah hampir 79 tahun merdeka, tetapi mengapa Indonesia masih belum mampu berswasembada aspal?. Padahal deposit aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara jumlahnya sangat berlimpah. Mungkin jawaban yang paling tepat adalah karena pemerintah tidak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan baik untuk berswasembada aspal.

Mengapa pemerintah tidak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya untuk berswasembada aspal? Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri. Ketika kita bersekolah dulu, mengapa kita tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah? Apa alasannya? Alasannya adalah antara lain, karena kita sedang asyik bermain dengan teman-teman, sehingga kita lupa untuk mengerjakan pekerjaan rumah tersebut. Kadang-kadang, mengapa kita tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah adalah karena pekerjaan rumah itu terlalu sulit, sehingga kita merasa tidak bisa mengerjakannya.

Nah, sekarang kira-kira apa alasan pemerintah, mengapa tidak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya untuk berswasembada aspal? Alasan yang mungkin dianggap paling tepat adalah karena pemerintah sedang asyik bermain dengan teman-temannya yang bernama aspal impor, maka Indonesia lupa untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya untuk berswasembada aspal. Siapakah yang salah dan harus bertanggung jawab dalam hal peristiwa ini?

Kalau kita sebagai seorang pelajar tidak mengerjakan pekerjaan rumah, maka yang salah dan harus bertanggung jawab adalah orang tua kita. Karena mereka wajib untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang cerdas dan pintar, sehingga dapat naik kelas. Dan supaya bisa naik kelas, tentu saja selain belajar dengan rajin, juga harus mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Analog dengan paragraf di atas, kalau pemerintah tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya, maka yang salah dan harus bertanggung jawab adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Karena tugas dan fungsi DPR adalah wajib untuk mengawasi jalannya pemerintahan sesuai dengan peraturan-peraturan dan Undang-Undang. DPR wajib “mendidik” pemerintah agar menjadi pemerintah yang “cerdas dan pintar”, sehingga negara dapat naik kelas menjadi negara yang lebih makmur dan sejahtera. Dan supaya negara bisa naik kelas, maka selain pemerintah melaksanakan kewajiban-kewajiban pemerintahan lainnya, juga harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumahnya. Antara lain, mengerjakan pekerjaan rumah untuk berswasembada aspal.

Apakah selama ini DPR sudah pernah “mendidik” pemerintah agar mau mengerjakan pekerjaan rumahnya untuk berswasembada aspal? Rasanya tidak pernah, meskipun gagasan untuk Indonesia berswasembada aspal itu untuk pertama kalinya telah digaungkan oleh pak Rahmat Gobel, yang merupakan anggota DPR juga. Tetapi gagasan untuk Indonesia berswasembada aspal ini tidak mendapatkan tanggapan dari pemerintah. Tetapi anehnya, mengapa DPR diam saja? Seolah-olah tidak ada sesuatu yang telah terjadi. Adapun yang terdengar oleh rakyat hanyalah suara sunyi, sepi, dan senyap. Rakyat tidak bisa mendengarkan apa-apa.

Kalau DPR wajib mendidik pemerintah, dan pemerintah tidak menghiraukan nasehat baik dari DPR, maka DPR seharusnya marah sama pemerintah. Karena sejatinya DPR adalah wakil rakyat. Rakyat tidak bisa marah kepada pemerintah. Dan yang bisa marah kepada pemerintah  hanyalah DPR. Apakah DPR mau bertanggung jawab apabila pemerintah tidak naik kelas? Sebagai orang tua yang baik, sudah pasti kita tidak mau anak kita tidak naik kelas. Karena kalau anak kita tidak naik kelas, maka yang salah bukan anaknya. Tetapi yang salah adalah orang tuanya, karena tidak mampu mendidik anaknya dengan baik.

Alasan lain mengapa kita tidak mengerjakan pekerjaan rumah adalah karena kita merasa pekerjaan rumah itu sulit, sehingga kita tidak mampu mengerjakannya. Apakah alasan ini benar? Guru tidak mungkin akan memberikan pekerjaan rumah yang sulit, karena guru paham benar bahwa kalau murid diberikan pekerjaan rumah yang sulit, maka murid yang malas pasti tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah terebut.

Sama halnya dengan pekerjaan rumah untuk berswasembada aspal. Apakah ini merupakan pekerjaan rumah yang sulit bagi pemerintah? Sejatinya tidak ada sesuatu yang sulit untuk dikerjakan, apabila kita benar-benar ingin mewujudkan cita-cita untuk naik kelas. Jadi kelihatannya, kalau pemerintah menganggap bahwa pekerjaan rumah untuk berswasembada aspal itu adalah sulit, maka berarti pemerintah tidak benar-benar ingin mewujudkan cita-cita kemerdekaan untuk naik kelas dengan menjadikan negara Republik Indonesia lebih makmur dan sejahtera.

Mengutip dari almasoem.sch.id, tanggal 28 Maret 2023, dengan judul: “Seberapa Penting Pekerjaan Rumah bagi Siswa?”, Pekerjaan Rumah memiliki manfaat seperti:

  1. Sebagai sarana bagi siswa untuk bisa mengulang pelajarannya di rumah.
  2. Sebagai sarana stimukus hati dan otak siswa agar memilki sifat panasaran akan ilmu.
  3. Sarana melatih tanggung jawab siswa akan tugas yang mereka miliki.
  4. Diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa.
  5. Diharapkan dijadikan sebagai bahan untuk peningkatan penguasaan materi.
  6. Belajar mengatasi masalah secara mandiri.
  7. Melatih kerja keras dan meningkatkanpenggunaan waktu selama di rumah.
  8. Mendorong kreatifitas siswa.

Hal ini merupakan kejutan bagi diri kita sendiri, ternyata manfaat dari mengerjakan pekerjaan rumah itu banyak sekali. Setelah kita mengetahuinya, apakah kita sekarang merasa menyesal bahwa dulu kita pernah dengan sengaja tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah kita?  

Sekarang mari kita coba dengan mengganti kata “siswa” dengan kata “pemerintah”. Apa yang akan terjadi? Untuk butir 3, kalimat itu akan menjadi: “Sarana melatih tanggung jawab pemerintah akan tugas yang mereka miliki”. Apa tugas pemerintah? Tugas pemerintah adalah untuk mewujudkan negara Republik Indonesia menjadi negara yang adil, makmur dan sejahtera. Dan Indonesia berswasembada aspal hanya merupakan salah satu dari ribuan pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh pemerintah agar dapat naik kelas.

Kesimpulannya, kalau Indonesia sudah hampir 79 tahun merdeka, dan masih belum mau mewujudkan Indonesia berswasembada aspal, berarti pemerintah malas untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Tetapi mirisnya, sebagai orang tua yang anaknya nakal, mengapa DPR diam membisu saja?.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua