Pemimpin Besar Sedang Kami Siapkan

Senin, 17 Juni 2024 09:45 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tak apa Pak Menteri, waktuku sebentar lagi habis, pengaruhku pun pasti akan memudar. Anak-anakku juga mantuku yang menggantikan pun akan merasakan yang kurasakan. Tak mudah untuk menaklukan penguasa zaman modern di negeri barat sana, karena mereka lebih diminati zaman, ketimbang kita semua.

Sang Presiden duduk termenung di meja kerjanya, ia menatap foto anaknya yang nanti bakal mengisi jabatan wakil presiden di negeri Pancawarna. "Anakku, kau pasti bisa memenuhi tugas ini dengan baik, sampai tiba pemimpin besar yang usianya dibawahmu, pantas menjadi pemimpin negeri ini."

Loker meja kerja dipenuhi dokumen dan persuratan yang sesak. Sesekali sang presiden membaca surat kiriman seorang pemuda yang sangat berani, independen menyuarakan gagasannya untuk pemerintahan dan kepentingan rakyat.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Tunggulah pemuda harapan bangsa, waktumu tak lama lagi untuk memimpin bangsa ini. Kami semua berjuang. Semua berkorban untukmu, tidak peduli apa kata rakyat aku membangun dinasti, sesungguhnya anak dan mantuku itu tumbal untuk kejayaanmu wahai pemuda!" Sang Presiden bangkit berdiri dari kursi kerjanya, menatap langit biru dipenuhi awan dari jendela kantor yang terbuka.

Presiden

Sang Presiden yang seakan berteriak dalam hati, sembari menatapi keadaannya itu, tiba-tiba didatangi oleh rekan setianya, yakni Sang Kementerian Sekretariat.

"Pak Presiden, sudah waktunya istirahat."

"Tak apa Pak Menteri, waktuku sebentar lagi habis, pengaruhku pun pasti akan memudar, dan anak-anakku juga mantuku yang menggantikanku pun akan merasakan apa yang kurasakan. Tak mudah untuk menaklukan penguasa zaman modern di negeri barat sana, karena mereka lebih diminati zaman, ketimbang kita semua." Ucap sang presiden kembali duduk di kursi kerjanya.

Sang Presiden pun meneguk teh hangat yang ada di meja kerjanya, sembari membaca kembali surat dari sang pemuda yang dari tadi beliau bicarakan dalam lubuk hati terdalamnya.

"Pemuda ini akan mengubah zaman. Ia bakal menjadi sosok berpengaruh setelah sekian waktu di periode pemerintahan Presiden berikutnya. Pasti perannya akan menjadi sorotan zaman. Karena bagaimanapun juga kebaikan hati itu lebih tinggi derajatnya dan kekuatan energinya dari kekuatan fisik maupun kepintaran akal. Sang Pemuda ini memiliki potensi kebaikan hati ini." Sang Presiden nampak tersenyum setelah melihat surat dari sang Pemuda yang dimaksud.

Menteri Sekretariat pun melihat selembar kertas yang sedang dibaca oleh Presiden. Ia menduga Pak Presiden sudah menelusuri semua surat-surat yang dikirimkan pemuda itu semenjak 4 tahun silam hingga saat ini.

"Pak Presiden, bagaimanapun juga pasti rakyat berbaik sangka padamu, karena engkau adalah penguasa negeri, dan Allah itu penguasa dari seluruh penguasa seluruh negeri di dunia.

Engkau dipilih Allah melalui suara rakyat, dan pemuda itu dipilih Allah melalui otoritas-Nya, sehingga rakyat wajib patuh padanya sebab ia sangat berkekuatan dan berkuasa atas zaman. Jangan bersedih Pak Presiden, sejarah pasti menuliskan pengorbanan Pak Presiden dan anak mantu bapak, pasti mulia di mata rakyat setelah mengetahui kebenarannya."

"Aku sudah mengetahui hal itu Pak Menteri. Pemuda inilah sebenarnya yang mengangkat derajatku. Aku yang dikenal licik dan culas di mata rakyatku ini sebab kalah kekuatan dengan penguasa modern itu, sehingga mengorbankan rakyatku sendiri. Suatu saat Sang Pemuda yang kelak menjadi pemimpin berikutnya itu, tidak akan melupakan jasa-jasaku, walau gerakanku untuknya ... hanya sebatas doa dan harapan." 

Cimahi, 16 Juni 2024.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Hamba Allah dan Umat Muhammad Saw. Semakin besar harapan kepada Allah melebihi harapan kepada makhluk-Nya, semakin besar pula potensi dan kekuatan yang kita miliki.

1 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler