x

Iklan

Pipiet Palestin Amurwani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Rabu, 19 Juni 2024 15:39 WIB

Resah! Naskah Sastra Kemendikbud Bermuatan Seksualitas dan Kekerasan

Sebagai pendidik, saya memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi anak didik saya dari konten yang tidak pantas. Konten seksualitas dan kekerasan dalam naskah tersebut bukan hanya tidak sesuai dengan norma dan nilai budaya bangsa, tetapi juga berpotensi merusak mental dan jiwa generasi muda.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bermula dari webinar yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) melalui channel youtubenya tentang sastra masuk kurikulum. Disebutkan dalam webinar tersebut bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan literasi siswa, menumbuhkan kecintaan pada sastra dan budaya Indonesia, mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif serta membentuk karakter siswa yang berbudi pekerti luhur.

Sebagai guru dengan latar belakang sastra tentu saja saya merasa sangat tertarik dengan program ini. Terbayang rancangan program literasi sekolah dalam benak. Menanamkan karakter positif melalui karya tulis seperti cerpen atau pun novel cenderung lebih efektif dari pada ceramah.

Namun, kecewa dan keresahan tiba-tiba menghampiri ketika membaca naskah-naskah yang direkomendasikan Kemendikbud. Antara percaya dan tidak, naskah dengan kalimat-kalimat yang mengandung seksualitas dan kekerasan yang sangat vugar. Apa iya naskah seperti itu akan disajikan pada siswa? Gempuran media yang tiap detik menayangkan tontonan  yang merusak moral generasi sudah sangat menyulitkan kami sebagai guru. Sekarang beban guru akan ditambah lagi? Sebagai guru saya resah! Naskah-naskah tersebut yang seharusnya menjadi media pembelajaran bagi generasi muda, justru sarat dengan konten seksualitas dan kekerasan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebagai pendidik, saya memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi anak didik saya dari konten yang tidak pantas. Konten seksualitas dan kekerasan dalam naskah tersebut bukan hanya tidak sesuai dengan norma dan nilai budaya bangsa, tetapi juga berpotensi merusak mental dan jiwa generasi muda. Paparan dalam konten tersebut dapat menormalisasi tindakan kekerasan dan seksual, serta memicu trauma dan kecemasan pada anak. Tentu saja hal itu bertentangan dengan tujuan pendidikan yang ingin menciptakan generasi muda yang berkarakter mulia.

Negeri kita tidak kekurangan penulis dengan karya-karya yang luar biasa dan peduli dengan pembentukan karakter generasi muda. Sebut saja Tere Liye, terkenal dengan karyanya yang penuh imajinasi dan sarat pesan moral seperti Tentang Kamu, Bumi, Andrea Hirata dengan novelnya Laskar Pelangi dan masih banyak lagi.

Saya berharap Kemdikbud dapat meninjau kembali naskah sastra tersebut. Perlu lebih selektif dalam memilih materi yang direkomendasikan untuk guru dan peserta didik. Kita harus melindungi generasi muda dari konten yang tidak pantas dan memastikan bahwa kurikulum yang diajarkan mencerminkan nilai-nilai moral dan budaya yang luhur.

Ikuti tulisan menarik Pipiet Palestin Amurwani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler