Indonesia Berswasembada Aspal, Too Good To Be True ?

Rabu, 19 Juni 2024 18:17 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apabila benar, bahwa memang sejatinya Indonesia tidak mampu untuk berswasembada aspal, maka kata-kata yang paling tepat untuk melukiskan keadaan seperti ini adalah: “too bad to be true”.

Untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan kita mengenai suatu keadaan atau hal yang tidak mungkin akan bisa terjadi atau terlaksana, biasanya kita akan mengatakan: ”Too good to be true”. Terlalu bagus untuk bisa menjadi kenyataan. Secara nalar dan sadar, hal ini tidak mungkin akan bisa terjadi, dan menjadi kenyataan. Tetapi di sisi lain, apabila hal ini ternyata pada akhirnya toh bisa terjadi juga, maka peristiwa ini sejatinya adalah sesuatu yang di luar nalar, atau merupakan sesuatu yang luar biasa alias keajaiban.

Indonesia sudah hampir 79 tahun merdeka. Tetapi mirisnya, Indonesia masih belum mampu berswasembada aspal. Padahal deposit aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara jumlahnya sangat melimpah. Apakah kondisi seperti ini dapat kita katakan bahwa : “Indonesia berswasembada aspal adalah “too good to be true ?”. Terlalu bagus untuk menjadi kenyataan?. Pernyataan ini seolah-olah menggambarkan bahwa gagasan Indonesia berswasembada aspal itu adalah sebuah visi yang tidak mungkin akan bisa terjadi. Atau, secara nalar dan sadar tidak mungkin akan bisa terwujud.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Adapun, apabila kita mau menggali lebih jauh dan dalam lagi mengenai makna tersirat dari kiasan: “too good to be true”, maka dapat diterjemahkan sebagai berikut: “sesuatu yang begitu hebat dan menakjubkan, sehingga akan sulit untuk bisa dipercaya”. Coba kita renungkan baik-baik kata-kata ini: “Indonesia berswasembada aspal adalah sesuatu yang begitu hebat dan menakjubkan, sehingga akan sulit untuk bisa dipercaya”. Apakah menurut akal sehat kita, Indonesia akan mampu berswasembada aspal? Dan apakah untuk mewujudkan Indonesia berswasembada aspal itu adalah sulit untuk bisa dipercaya?

Kelihatannya, istilah “too good to be true”, dapat dimaknai sebagai sesuatu yang tidak mungkin akan bisa terjadi. Tetapi, apabila faktanya akhirnya bisa terjadi juga, maka hal itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa sekali. Pasti hal ini akan bisa terwujud akibat dari adanya perjuangan dan upaya-upaya yang sangat luar biasa, yang tidak mengenal rasa lelah dan menyerah. Dan perjuangan ini dijiwai dengan semangat dan keyakinan yang luhur untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Yaitu; negara Republik Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.

Coba kita analisa pernyataan: “Indonesia sudah hampir 79 tahun merdeka. Mirisnya, Indonesia masih belum mampu berswasembada aspal”. Apakah Indonesia belum mampu berswasembada aspal ini adalah karena sejatinya Indonesia “tidak mampu”, atau “tidak mau”?. Sekarang kita perlu bertanya: “Indonesia tidak mampu berswasembada aspal, apakah too good to be true?”. Apakah nalar kita mengatakan bahwa Indonesia tidak mampu berswasembada aspal itu adalah sesuatu yang hebat dan menakjubkan, sehingga sulit untuk bisa dipercaya?”

Adapun, Indonesia berswasembada aspal itu memang sesuatu yang hebat dan menakjubkan. Dan tidak sulit untuk bisa dipercaya. Jadi kalau pemerintah mengatakan bahwa selama hampir 79 tahun merdeka, pemerintah tidak mampu berswasembada aspal, maka pernyataan ini, apakah bisa kita terima, dan percaya?. Rasanya pernyataan pemerintah ini tidak bisa kita terima dan dipercaya? Mengapa? Karena 79 tahun merdeka itu adalah kurun waktu yang sangat lama sekali. Rakyat tidak percaya, kalau Indonesia tidak mampu berswasembada aspal dalam kurun waktu 79 tahun. Adapun apabila benar, bahwa memang sejatinya Indonesia tidak mampu untuk berswasembada aspal, maka kata-kata yang paling tepat untuk melukiskan keadaan seperti ini adalah: “too bad to be true”.

Oleh karena rakyat tidak percaya bahwa Indonesia sudah hampir 79 tahun merdeka, dan Indonesia tidak mampu berswasembada aspal, maka pernyataan yang bisa diterima dan dipercaya adalah pernyataan: “Indonesia tidak mau berswasembada aspal”. Apakah kiasan kata: “too good to be true”, dapat kita gunakan juga untuk kondisi seperti ini? Rasanya tidak. Karena kalau Indonesia tidak mau berswasembada aspal, maka hal itu bukan merupakan sesuatu hal yang hebat dan menakjubkan. Melainkan hal ini adalah semacam lelucon yang patut kita tertawakan. Adapun penyebabnya adalah karena Indonesia sendiri telah mempermalukan dan merendahkan dirinya sendiri dengan tidak mau berswasembada aspal.

Masalah sudah 79 tahun Indonesia merdeka, dan belum mampu berswasembada aspal, apakah sekarang sudah mencapai puncaknya? Apakah kita masih harus terus bersabar dan menahan diri mengenai sikap pemerintah yang masih belum mau berswasembada aspal?. Kepada siapakah rakyat harus mengadu? Kalau anggota-anggota DPR RI yang merupakan wakil-wakil rakyat saja tidak merasa peduli dengan kebijakan impor aspal yang telah merugikan aspal Buton. Mungkin kata: “too good to be true”, dapat digunakan juga untuk menggambarkan sikap cuek dari anggota DPR RI yang selama ini telah tidak merasa peduli terhadap kebijakan impor aspal. Karena sikap cuek dari anggota DPR RI ini adalah sesuatu perbuatan yang luar biasa, hebat, dan menakjubkan, sehingga sulit untuk bisa dipercaya.

Mengapa Indonesia berswasembada aspal harus segera diwujudkan? Karena apabila Indonesia sudah mampu berswasembada aspal, maka hal ini akan merupakan sesuatu yang hebat dan menakjubkan, dan sulit untuk dapat dipercaya. Apa hebatnya? Hebatnya adalah karena Indonesia sudah berhasil mengusir penjajahan aspal impor dari bumi Indonesia. Aspal impor sudah menjajah Indonesia selama 45 tahun. Masak sih, Indonesia masih mau terus dijajah selamanya oleh aspal impor? Indonesia mempunyai aspal Buton. Mengapa Indonesia tidak mau memanfaatkan aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor? Apakah Indonesia berswasembada aspal adalah “too good to be true?”.

Sekarang apabila pemerintah tidak mau berswasembada aspal, maka apa yang dapat rakyat perbuat? Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa. Rakyat hanya bisa menangis di dalam hati, agar suara tangis itu tidak terdengar oleh siapa-siapa. Apakah kita bisa membayangkan, seandainya saja 270 juta rakyat Indonesia semuanya akan menangis pada waktu yang bersamaan, maka akan terjadi musibah banjir air mata dimana-mana. Tentunya hal ini dapat dikatakan sebagai “too good to be true”. Karena hal ini adalah sesuatu yang hebat dan menakjubkan, sehingga akan sulit untuk dapat dipercaya.

Mungkin untuk mengingatkan kepada anggota-anggota DPR RI bahwa sejatinya Indonesia berswasembada aspal itu adalah “good to be true”. Apakah DPR RI akan segera menindaklanjuti masalah ini dengan bertanya kepada pemerintah? Atau, apakah DPR RI akan merasa lebih nyaman untuk bersikap cuek saja, daripada nanti pemerintah akan balik bertanya kepada DPR: “Mengapa baru sekarang anggota Dewan yang terhormat peduli dengan Indonesia berswasembada aspal? Selama ini anggota Dewan yang terhormat kemana saja?”. Oh, Indonesiaku, semua yang terjadi di negeri ini kok kelihatannya “too good to be true”.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua