Pilkada Solo, Akhir Riwayat Perang Proxy Jokowi Lawan Prabowo

Rabu, 19 Juni 2024 15:43 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hal serupa juga diprediksi akan terjadi lagi di Pilkada serentak 2024. Bedanya, kini efeknya bukan untuk Pilpres karena kontestasi elektoral itu sudah lebih dahulu terjadi di awal tahun ini. Pertarungan proxy di daerah ini dipercaya untuk mengukuhkan posisi elite nasional agar punya posisi tawar di antara satu dan lainnya. 

Kontestasi Pilkada serentak 2024 akan jadi panggung pertaruhan partai politik dan elite nasional untuk menentukan siapa yang jejaring kekuasaannya mampu merambah hingga ke level terbawah. Pasalnya, kepemimpinan di daerah akan ikut jadi gambaran benturan elite di level teratas karena menjadi proxy pertarungan kepentingan. 

Khusus untuk di Pulau Jawa yang merupakan lumbung suara, pertarungannya akan sangat menentukan. Kota Surakarta ( Solo) disebutkan sebagai ring Of fire kekuasaan paling tangguh di Indonesia. Dikatakan jika produk kepemimpinan dari orang Solo sudah tidak diragukan lagi di kancah politik nasional. Mereka para elite politik berdarah Solo sudah terbukti kuat lahir dan batin. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Perang Proxy di Pilkada Serentak

Ketika pilpres dan pileg sudah selesai, tiba saatnya pertarungan politik bergeser ke isu persaingan dan perkelahian Pillkada. Hal yang paling menarik adalah bagaimana sesungguhnya mereka bersaing dan bertempur habis-habisan dengan segala taktik dan strategi berbeda-beda. Obyekt paling serubl bersentuhan proxy pertarungan elite dalam Pilkada menjadi topik pergunjingan yang hangat. 

Dengan analogi kisah Greco-Persian War antara koalisi negara-negara Yunani Kuno melawan digdaya Kekaisaran Persia, semua kubu merapatkan barisan dan menghitung kekuatan di detik-detik akhir.

Hal serupa juga diprediksi akan terjadi lagi di Pilkada serentak 2024. Bedanya, kini efeknya bukan untuk Pilpres karena kontestasi elektoral itu sudah lebih dahulu terjadi di awal tahun ini. Pertarungan proxy di daerah ini dipercaya untuk mengukuhkan posisi elite nasional agar punya posisi tawar di antara satu dan lainnya. 

Panggung Kemenangan

Di daerah-daerah ini akan terjadi perang proxy antara presiden yang akan berakhir kekuasaannya, Jokowi, melawan presiden yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan, Prabowo. Selain antara Jokowi dan Prabowo, tarung Pilkada ini nyatanya juga menjadi persinggungan kepentingan antara Jokowi dengan patron politik lain, termasuk dengan Megawati Soekarnoputri, sang Ketua Umum PDIP, dan menjadi ajang “raba-raba” koalisi.

Perebutan pengaruh yang melibatkan Jokowi, bukan tanpa alasan sempat muncul usulan untuk memajukan waktu penyelenggaran Pilkada ke bulan September 2024. Ini karena Jokowi akan selesai masa jabatan di bulan Oktober 2024, sementara jadwal Pilkada serentak akan terjadi di bulan November 2024. Dengan menggeser Pilkada ke waktu saat Jokowi masih berkuasa, tentang ada pihak-pihak yang berharap sang presiden masih mampu menggunakan power atau kekuasaannya untuk mempengaruhi hasil akhir kontestasi elektoral daerah ini. 

Kemenangan dalam Pilkada di berbagai daerah, termasuk di Pulau Jawa, memiliki dampak yang signifikan pada pertarungan elite nasional karena menjadi sarana untuk mengukuhkan ikatan antara elite dengan kekuasaan di daerah.

Ini bukan hanya tentang posisi Bupati, Wali Kota, atau Gubernur, tetapi juga tentang bagaimana dinamika politik lokal tersebut dapat memengaruhi arena politik nasional. Point utamanya adalah karena Pilkada adalah panggung showcase.

Pilkada seringkali menjadi panggung bagi para politisi lokal untuk memamerkan kemampuan dan popularitas mereka. Kemenangan yang impresif dapat meningkatkan citra politik seseorang dan mendapatkan perhatian dari elite politik di tingkat nasional. 

Spiritual Head

Berbicara dalam konteks Pilkada Solo, Jokowi adalah salah satu spiritual head. Secara politik, sang presiden punya kepentingan yang sangat besar mengamankan Solo demi mempertahankan relvansi pengaruhnya jika sudah tak lagi menjabat. Akan lebih mudah bagi Jokowi jika mampu menempatkan “sekutunya” di pucuk-pucuk kekuasaan daerah-daerah ini.

Di sisi seberangnya, Prabowo Subianto juga adalah spiritual head. Jika ambisi Prabowo adalah keluar dari bayang-bayang pengaruh Jokowi, maka selayaknya ia harus ikut mempengaruhi kepemimpinan lokal.

Prabowo menekankan jika tak mengamankan kekuasaan di tingkat lokal, bukan tidak mungkin Ia akan tersandera karena tak punya kontrol atas kepemimpinan di daerah. Oleh karena itu, penting bagi Prabowo untuk menang sepenuhnya juga di daerah.

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Heru Subagia

Penulis, Pengamat Politik dan Sosial

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler