Fiqh, Sains dan Politik Najis

Kamis, 20 Juni 2024 19:27 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ibarat berenang dilautan najis, kita bebas memilih akankah tetap mengambang, tenggelam, atau berjuang ketepian. Segala sendi bidang kebidupan sekarang ikut terseret kedalam arus kotoran najis itu. Oleh karena itu melakukan penyucian najis-najis itu sudah relevan dan urgen untuk dilakukan.

Fiqh, Sains dan Politik Najis

M. Yudha iasa ferrandy

Sesuatu yang dianggap seseorang najis, bisa jadi oleh seseorang yang lain dianggap sesuatu yang tidak najis. Berarti najis atau tidaknya sesuatu itu baru akan berlaku bila subjek orangnya memiliki anggapan terhadap barang sesuatu itu. Maksudnya letak najis atau tidaknya sesuatu itu bukanlah pada benda atau objeknya melainkan pada justifikasi seseorang terhadap suatu objek tersebut. Tapi benarkah demikian?

Sependek pengetahuan saya, literatur mengenai 'najis' dapat ditemukan pada literatur-literatur keislaman. Belum saya temukan lagi sejarah dan pengetahuan tentang najis ini diliteratur manapun. Dan hikmah pembelajaran ini boleh saja dihuni oleh siapa saja yang menghendaki ilmu meskipun si penghendak ilmu berasal dari identitas yang tak relevan sekalipun dengan sumber pengetahuan. Ibarat hujan, ia akan membasahi siapa saja yang berada dibawahnya, meskipun orang itu berasal dari identitas yang bermacam-macam.

Singkatnya yang bisa saya simpulkan dari literatur itu adalah bahwa najis berarti kotoran, dan oleh kotoran itu dapat menghalangi seseorang untuk beribadah kepada Allah. Dan dengan berbagai versi mazhabnya, persoalan najis ini memiliki fiqh atau hukumnya sendiri-sendiri, termasuk pada cara-cara untuk membersihkannya.

Merujuk pada buku Fiqih Empat Mazhab Syaikh Al AllamahMuhammad bin Abdurahman ad Dimasyqi, Pertama, adalah najis mukhaffafah, yaitu jenis najis yang tingkat kekotorannya paling ringan. Bentuknya ialah air kencing dari anak laki-laki atau anak perempuan yang masih menyusu kepada ibunya dan belum berusia dua tahun. Dapat dibersihkan menggunakan air pada bagian tubuh yang terkena najis.

Kedua, adalah najis mutawassitah, yaitu jenis najis yang tingkat kekotorannya tergolong sedang. Beberapa bentuk najis mutawassitah ialah tinja dari manusia dan hewan. Jenis lainnya ialah nanah, darah dan bangkai. Cara membersihkannya dengan mengguyurnya dengan air sampai bersih dan atau menggosoknya dengan tanah atau benda lain. Ketiga, adalah najis mugallazah, adalah najis yang cara membersihkannya dengan mencucinya sebanyak tujuh kali dan di antaranya satu kali menggunakan air yang bercampur tanah. Contohnya air liur anjing dan babi.

Tetapi apakah najis ini hanya berhenti disoal-soal hukum dan tata cara membersihkannya saja? Padahal mungkin saja ada subtansi lain yang bisa dijadikan pembelajaran. Mengingat umat manusia akan menjawab tantangan zaman perhari ini. Maksudnya dimungkinkan najis itu selain dipelajari melalui ilmu fiqh, juga najis digunakan sebagai terminologi yang bisa menjelaskan keadaan suatu peristiwa dan perbuatan dizaman ini. Karena kita harus mengambil hikmah pelajaran dari apa saja yang kita temui terutama pada kehidupan sehari-hari.

Najis Menemukan Jalan Sainsnya

Sekarang ini telah banyak dibuktikan oleh dokter atau pakar kesehatan modern bahwa pada hewan tertentu yang dilabeli hewan najis, terdapat pada organ dalam maupun luarnya yaitu virus, bakteri, bahkan cacing yang sangat kecil, yang apabila menempel dan atau masuk kedalam tubuh manusia dapat mengganggu kesehatan manusia tersebut.

Fakta sains ini seirama dengan hukum najis yang telah ada sejak berabad-abad lalu. Seolah-olah membuktikan kalau hukum najis tahu lebih awal bahwa dikemudian hari akan ada banyak intensitas interaksi manusia terhadap hewan-hewan tersebut yang apabila tidak dipagari, maka akan terjadi konsekuensi yang tidak diinginkan.

Najis secara fiqh dan najis secara ilmu

Tersentuhnya objek najis kepada kulit dan pakaian yang dikenakan manusia beserta cara penyuciannya merupakan bentuk penerapan fiqh dalam aqidah umat muslim. Oleh karena najis mengandung kemudhoratan didalam melangsungkan peribadatan, maka bab penyucian najis ini tak bisa terhindarkan pada setiap harinya. Namun, perkara tingkat kebersihannya tidak pernah dititik beratkan oleh fiqh, hanya setelah mengikuti alur penyucian yang diajarkan dalam fiqh kita menggunakan dhanni (dugaan) bahwa kita telah bersih dari najis. Tentu saja karena cara kerja fiqh itu memang harus mewujudkan kemudahan.

Berbeda halnya dengan najis secara ilmu. Setelah objek najis menempel pada pakaian bahkan kulit kita, maka masuk akal kalau unsur mikrobiologi yang terdapat pada objek najis tersebut akan menempel. Untuk membuktikannya kita memerlukan teknologi dan keterlibatan ilmu pengetahuan spesifik agar mencapai titik yang disebut qath’i atau kepastian, bukan sekedar dhanni atau dugaan.

Tentu hal ini sangatlah memberatkan umat dan tidak mungkin dilaksanakan, apabila setiap najis yang menempel harus diketahui dulu menggunakan teknologi, kemudian barulah disucikan sampai titik kebersihan maksimal yaitu berhasil menghilangkan objek najis sampai mikrobiologinya.

Polusi Udara itu najis

Kalau najis itu berarti kotoran, harusnya asap, debu, gas, dan pasir halus akibat kegiatan rumah tangga, transportasi dan industri dianggap sebagai najis juga. Sebab udara yang seharusnya alami dan sehat itu harus terkontaminasi dengan unsur yang membuatnya menjadi kotor. Pentingnya dimasa depan agar diksi polusi diganti menjadi najis bukanlah tidak ada urgensinya.

Selama ini polusi udara telah sampai pada titik kerusakan yang mencemaskan, bahkan beberapa tahun silam akibat kebakaran hutan dibeberapa wilayah di Indonesia, saat itu sampai langit tidak lagi biru, melainkan memerah. Kemudian setelah berlangsung, sejauh mana perbaikan dilakukan? Bisa dikatakan nol besar!

Suatu saat dimungkinkan peristiwa yang sama bahkan yang lebih besar bisa saja terjadi lagi. Oleh karena itu, lebih baik kata polusi itu diganti saja dengan kata najis. Agar kita terdorong untuk melakukan penyuciannya. Meskipun bukan tentang manusia, seharusnya kepentingan alam harus disejajarkan dengan kepentingan manusia. Bahkan menurut saya harusnya lebih penting, karena bahkan manusia menumpang hidup pada alam.

Politik Praktis jangan sampai najis

Untuk memenangkan sebuah pemilihan umum, biasanya berapa uang yang harus dimiliki?

Tidak ada, hanya butuh niat, daya juang, dan jaringan pertemanan saja. Terakhir nasiblah yang menentukan menang atau kalah.

Bagaimana kalau ada calon lain menggunakan money politic?

Kita harus ikut cara lawan walaupun itu buruk, setelah menang barulah kita ubah sistemnya menjadi baik.

Bentuk dialog diatas kemungkinan pernah ditanyakan kepada politisi, dan begitulah kira-kira jawabannya. Mengandung kebohongan. Dan kebetulan saya mengalaminya sendiri berdialog dengan teman-teman politisi.

Setelah dilantik, kebijakan dibuat. Dan kebijakan itu terikat oleh proses yang terjadi selama pemilihan sebelumnya berlangsung. Mungkin balas budi, mungkin hutang piutang, mungkin menipu,mungkin membuat sumpah palsu, dan lainnya. Kalau sejak awal proses yang dilakukan sudah mengandung kekotoran, maka sangat mungkin tindakan-tindakan yang kemudian akan dilakukan juga akan menghasilkan kekotoran yang lain. Misalnya seperti money politic, menyogok orang lain untuk memilih kita didalam sistem demokrasi adalah bentuk dari perbuatan yang mengandung kekotoran. Sumber uang yang digunakan untuk menyogok apakah dari sumber yang bersih atau tidak. Apakah terjadi kolusi dan nepotisme dalam prosesnya.

Harus diakui, bahwa segala sendi bidang kebidupan masyarakat sekarang juga ikut terseret kedalam arus kotoran najis itu, termasuk sekekeliling kita. Oleh karena itu melakukan penyucian najis-najis itu sudah relevan dan urgen untuk dilakukan. Tapi bahkan kalau air yang digunakan untuk menyucikan itu ternyata juga telah terkontaminasi dengan kotoran najis, maka proses penyucian tidak bisa dilakukan. Ibaratnya sekarang ini kita sudah berenang dilautan najis. Memilih untuk terus berenang, menenggelamkan diri, atau memilih untuk berjuang menggapai tepian pantai? Meskipun tak akan pernah sampai, tapi perjuangan menepi itu mungkin akan menyelamatkan.

"Perlu digaris bawahi, bahwa saya adalah orang yang penakut dan bukan orang suci. Dalam hal ini saya takut untuk tidak mengatakan hal yang menurut saya urgen sekali untuk dikatakan diwaktu-waktu ini."



Bagikan Artikel Ini
img-content
myudhaif

Habib non Nasab

0 Pengikut

img-content

Fiqh, Sains dan Politik Najis

Kamis, 27 Juni 2024 14:52 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler