Kerasnya Perisai Israel Menghadapi Tekanan Internasional

Minggu, 23 Juni 2024 06:55 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Serangan Israel ke kamp pengungsian di Rafah menuai banyak kecaman dari dunia internasional. Tapi Israel cuek. Negara Netanyaahu ini tetap melakukan aksi bengis genosidanya.

Krisis kemanusiaan menjadi topik yang sedang hangat diperbincangkan belakangan ini. Hal itu disebabkan karena konflik negara penjajah dengan negara dijajah yang tiada habisnya, ya, Israel dan Palestina. Apalagi setelah serangan 7 Oktober yang diluncurkan oleh Hamas kepada Israel yang menjadi alasan Israel untuk terus melakukan serangan terhadap Hamas di Palestina khusunya di Jalur Gaza.

Namun, Israel tidak hanya menargetkan Hamas melainkan juga warga sipil. Eskalasi konflik ini mencapai puncaknya pada tanggal 26 Mei 2024, ketika Israel melancarkan serangan udara ke selatan Gaza tepatnya kamp pengungisan Rafah,  yang membuat Israel mendapat kecaman dari seluruh dunia. Bagaikan kehancuran Troya, itulah yang dirasakan oleh para pengungsi di Rafah, ketika mereka sedang terlelap tidur tiba-tiba datang serangan Israel yang menghanguskan mereka, mirisnya mayoritas korbannya anak-anak dan para wanita.

Padahal sebelumnya “negara” licik ini sudah mengultimatum warga Gaza untuk mengungsi ke arah selatan dan menjanjikan bahwa mereka akan aman disana, tetapi itu semua hanya tipu daya belaka. Nyatanya, setelah mereka mematuhi ultimatum itu pun tetap tidak luput dari sasaran kebengisan “negara” dengan bendera berlambang bintang daud ini.

Mereka seakan lupa, bahwa pendahulu mereka juga pernah merasakan hal yang sama ketika Nazi Jerman berkuasa. Bukannya membuat mereka menjadi lebih berempati akan kemanusiaan, mereka malah meniru apa yang dilakukan oleh Nazi Jerman kepada pendahulu mereka. Mereka seperti vampir yang haus akan darah, mereka terus-terusan membantai orang yang tidak bersalah.

Hal ini membuat banyak dunia geram dan mengecam tindakan Israel atas serangan yang terjadi di kamp pengungsi Rafah. Bagaimana tidak? Israel mengatakan bahwa serangan udara ke kamp pengungsian di Rafah adalah hanya sebuah kecelakaan, terlebih lagi sikap Amerika sebagai negara yang memiliki kekuatan militer terbesar dan yang katanya penjaga kedamaian dunia  terhadap serangan yang menewaskan 45 pengungsi itu dinilai mendukung Israel. Amerika mengatakan bahwa mereka belum melihat serangan besar-besaran terhadap Rafah. Selain itu, Amerika juga memveto keanggotaan penuh Palestina di PBB, yang menjadikan Palestina sebagai  negara bukan anggota di PBB. Tercatat jumlah warga sipil Palestina yang menjadi korban selama konflik ini sekitar 36.000 jiwa. Jumlah itu termasuk korban serangan ke kamp pengungsian Rafah pada 26 Mei 2024.

Dengan kekejaman dan kebrutalan Israel ini membuat banyak gerakan-gerakan yang mengecam “negara” tersebut. Seperti gerakan memboikot barang-barang yang mendukung Israel dan yang terbaru adalah gerakan All Eyes on Rafah,  gerakan yang viral di platform sosial media ini bertujuan untuk memperlihatkan kebrutalan Israel terhadap warga sipil Palestina, juga bertujuan untuk memberitahu dunia bahwa keadaan dunia sedang tidak baik-baik saja dan menjadikan dunia berada dalam krisis kemanusiaan. Gerakan ini juga mendapat dukungan dari beberapa artis papan atas dunia seperti Dua Lipa, Ariana Grande, Bella Hadid, Pedro Pascal, Nichola Coughan, David Beckham, dan lain-lain.

Selain memunculkan gerakan tadi, serangan Israel ke kamp pengungsian di Rafah juga mengubah pandangan dunia terhadap Palestina, yang awalnya tidak mengakui negara Palestina, sekarang berbalik menjadi banyak yang mendukung dan mengakui berdirinya negara Palestina. Seperti Norwegia, Irlandia, dan Spanyol, ketiga negara  Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa tersebut menyatakan mengakui dan mendukung berdirinya negara Palestina sebagai sebuah negara yang berdaulat. Mereka juga mengatakan bahwa mereka tidak memihak Israel ataupun Palestina akan tetapi pengakuan ini bertujuan untuk terciptanya perdamain dikawasan tersebut. Dan yang terbaru adalah Armenia yang mengatakan bahwa mereka mengakui Negara Palestina dan menentang kekerasan terhadap penduduk sipil di Gaza khususnya di kamp pengungsian Rafah. Total dari negara yang telah mengakui dan mendukung berdirinya Negara Palestina adalah sebanyak 145 negara anggota PBB.

Serangan Israel ini juga membuat negara-negara di dunia mengutuk dan mengecam Israel atas tindakan yang dilakukannya terhadap kamp pengungsian di Rafah. Seperti Chili, Mesir, dan Turki yang meminta Israel untuk menghormati keputusan ICJ yang memerintahkan Israel untuk menghentikan serangannya dan  tidak menyerang kamp pengungsian Rafah. Namun, hal itu tidak lah cukup untuk membuat Israel menghentikan serangannya di Rafah. Israel tetap saja meneruskan serangannya ke selatan Gaza dan bahkan melebar hingga ke kamp-kamp pengungsian lain. Hingga artikel ini ditulispun serangan-serangan Israel terhadap kamp pengungsian di selatan Gaza masih berlanjut, dan yang terbaru adalah serangan Israel ke kamp pengungsian Nuseriat.

Entah berapa banyak lagi negara dan badan-badan dunia yang diperlukan untuk memberikan tekanan dan membuat Israel berhenti melakukan aksi genosidanya. Namun, bagaikan memiliki “perisai” yang sangat kuat, itulah ungkapan yang tepat bagi Israel dalam menghadapi kecaman dan tekanan dari seluruh dunia yang tidak dapat membuat Israel berhenti melakukan aksi genosidanya.

Bahkan jaksa ICJ sudah mengajukan perintah untuk menangkap Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri Israel) dan Yoav Gallant (Menteri Pertahanan Israel) atas dosa kemanusiaan. Namun, hanya dianggap angin lalu oleh negara yang dekat dengan Laut Mediterania ini. Hal ini tidak terlepas dari bekingan dan bantuan Amerika Serikat yang selalu melindungi Israel entah pasokan senjata maupun di PBB.

Mereka seakan tutup mata akan perbuatan yang telah dilakukan oleh Sekutu mereka terhadap warga sipil Gaza. Bahkan  Amerika pernah berkali-kali menggunakan hak vetonya untuk melindungi Israel dari sanksi-sanksi internasional. Seperti memveto gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang diusung oleh PBB dan yang terbaru adalah ketika Amerika memveto Palestina untuk menjadi anggota penuh di PBB, sehingga hanya membuat Palestina sebagai negara pengamat bukan anggota.

Selain itu jaksa ICJ juga mengajukan surat penangkapan terhadap tiga pemimpin Hamas, rekasi Hamas atas pengajuan ini mengatakan bahwa keputusan ini dinilai akan membantu Israel dalam aksi genosidanya di Gaza.

Kuatnya Israel dalam menghadapi tekanan internasional memberikan kita pelajaran bahwa keadilan di dunia ini sudah pudar. Dan harus ditegakan kembali juga memberikan kita pandangan bahwa jika suatu orang atau negara memiliki kekuasaan yang sangat besar, maka kekuasaan itu cenedrung akan disalahgunakan dan melindungi kepentingannya. Dalam hukum internasional ini seakan memiliki standar ganda, coba bandingkan dengan perlakuan mereka terhadap Rusia yang menginvasi Ukraina. Mereka menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Rusia, namun terhadap Israel mereka seakan buta dan tuli terhadap apa yang telah diperbuat Israel di Jalur Gaza.

 

Hal ini membuat kita sadar bahwa badan-badan yang katanya bertujuan untuk menciptakan dan menjaga perdamaian di dunia ini hanya berlaku untuk kepentingan pribadi tanpa mementingkan khalayak umum juga perdamaian dunia.

Bagikan Artikel Ini
img-content
REYZHA ILHAMI

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler