Jilka Benar PDI-P Usung Anies Baswedan, Calon Lain Bakal Kelimpungan

Minggu, 23 Juni 2024 22:26 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Karir politik Anies Baswedan selalu mujur. Wacana PDI-P mengusulkan Anies sebagai Calon Gubernur DKI menjadi kendaraan baru bagi Anies mempertahankan eksistensinya di politik. Panggung ini akan membuat Anies berjoget hingga jelang Pilpres 2029 nanti.

Genderang perang menjelang Pemilihan Gubernur Daerah Khusus Jakarta (Pilgub DKJ) tampak bertabuh semakin kencang. Seluruh partai-partai politik besar rasanya sudah mulai melakukan manuver masing-masing demi memenangkan kursi nomor satu di daerah ‘mantan’ Ibu Kota Indonesia, pada 27 November 2024 nanti. 

Salah satu manuver partai politik yang paling menarik untuk disorot di Jakarta tentu adalah dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kabar terbarunya, kendati hampir tidak pernah memiliki kesamaan pandangan politik, PDIP ‘mengirim sinyal’ bahwa mereka akan mengusung Anies Baswedan untuk Pilgub DKJ. Sinyal ini bahkan disampaikan langsung oleh Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani, yang menyebut Anies adalah pilihan yang ‘menarik’. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Panggung Politik Anies

Tidak hanya itu, Anies sendiri juga telah mengirim sinyal positif kembali kepada PDI Perjuangan dengan menyebut PDIP adalah partai yang ‘menarik’. Setidaknya Anies masih punya harapan pentas di panggung politik nasional dan karenanya mengamini segala isu dan isi dukungannya manju di Pilkada DKI. Hal tersebut sontak memunculkan spekulasi-spekulasi menarik di publik bahwa pada November nanti Anies akan memiliki teman kuat yang baru yakni sang Partai Banteng Moncong Putih.  

Namun, potensi bersatunya Anies dan PDI Perjuangan sesungguhnya tampaknya tidak hanya memiliki bobot dari aspek elektoral Pilgub DKJ saja. Melihat konstelasi politik paska Pemilihan Presiden 2024 (Pilpres 2024), ada kemungkinan peluang kerja sama Anies dan PDIP menyimpan suatu motif politik yang lebih dalam dari sekadar kepentingan Pilgub. 

Pertanyaannya lantas tertuju kepada Anies. Bila memang ambisi PDIP untuk Pilgub DKJ begitu besar, mengapa Anies bisa jadi pilihan yang menarik bagi Megawati?

Duet Anies-Ahok

Penulis memberikan pandangan kesohor an Anies Baswedan dibandinkan dengan kandidat-kandidat PDIP lainnya. Pertama, eks-Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn.) Andika Perkasa. Kendati secara sekilas Andika bisa jadi pilihan yang menarik, banyak orang lupa bahwa kemampuan politik Andika masih perlu diuji. Sebagai sosok yang muncul dari kalangan militer, Andika perlu menghadapi banyak tantangan besar, seperti stigma ke-kakuan orang militer, seperti yang pernah dihadapi Prabowo Subianto pada Pilpres 2014 dan 2019.  

Tokoh PDI-P yang cukup tenar adalah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Meskipun Ahok bisa dikatakan memiliki sentimen dukungan yang cukup positif di media sosial, dirinya bisa dianggap sudah terlalu lama jauh dari arena politik praktis. Pentas politik pada tahun 2024 ini sangatlah berbeda dengan pentas politik ketika Pilkada 2017. Apakah Ahok mampu beradaptasi cepat dengan landscape politik sekarang? Mungkin bisa, tetapi hal tersebut kembali lagi masih perlu diuji. Menarik jika Ahok lebih strategis dijadikan sebagai wakilnya Anies Baswedan. Ia menjadi wakil kader PDI-P. 

Penilis mencoba menilai mas Anies. Dalam konstelasi politik saat ini, beliau tampaknya menjadi pilihan yang paling menarik secara elektoral. Meski Anies mengalami kekalahan ketika Pilpres kemarin, namun kekalahan Anies bisa dikatakan cukup istimewa karena Anies mendapatkan suara yang cukup tinggi dibanding Ganjar Pranowo, padahal mereka berasal dari kubu yang awalnya paling dipertanyakan secara logistik. Hal ini membuktikan bahwa jika saja pada Pilpres kemarin Prabowo tidak bertanding, bisa saja Anies jadi pemenangnya. 

Dalam ukuran jangka waktu Pilkada 2024 yang tidak begitu jauh dengan Pilpres 2024 pun bisa dikatakan masih menyisakan rasa ‘dendam’ dari para pendukung Anies. Tentunya, mereka yang kecewa dengan hasil Pilpres kemarin akan melihat Pilkada 2024 sebagai momentum balas dendam untuk Anies. 

Tidak hanya itu, Anies pun memiliki satu keunikan yang tidak dimiliki kandidat PDIP lainnya, yakni politik sentimen. Bagi sejumlah pendukung garis keras Anies, potensi ini bisa saja jadi sesuatu yang menarik untuk ‘dieksploitasi’ kembali. Pertanyaannya lantas hanya satu, seberapa besar peluang Anies terima pinangan PDIP jika terjadi nanti. 

Dendam Politik Atau Keseriusan

 Tanda-tanda arah posisi politik PDI Perjuangan di pemerintahan yang baru, publik akan menyadari bahwa banyak orang yang yakin partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri tersebut akan berada di luar pemerintahan. Motivasinya cukup banyak, tapi mungkin yang paling utama bisa diasumsikan adalah tensi politiknya dengan keluarga Joko Widodo (Jokowi). 

Jika kita berangkat dari asumsi yang sama, ada kemungkinan ‘kebencian’ PDI Perjuangan terhadap keluarga Jokowi akan tetap terjaga hingga pemerintahan selanjutnya, karena keberadaan Gibran Rakabuming Raka, yang merupakan putra dari Jokowi sendiri. Ini menjadi luka politik permanen dan terdalam PDI-P ke Jokowi. 

Peluang atau disebut sebagai adanya motif di atas dalam manuver-manuver politik PDIP pantas untuk selalu publik pertanyakan, termasuk dalam persoalan Pilgub DKJ. Apalah pertimbangan sudah cermat atau PDI-P sekedar berspekulasi saja akibat dihantui oleh dendam politik belaka. 

Penulis lebih meyakini jika jika pada saatnya Anies Baswedan akan dipilih dan diterapkan sebagai Calon Gubernur DKI lebih didasarkan faktur strategis yakni PDI-P harus menang dengan segala cara di DKI dengan perhitungan cermat dan tepat nilai keuntungan yang akan dicapai ketika DKI dapat dikuasainya secara politik

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua