Sejarah Feminisme di Negara Demokrasi: Indonesia

Senin, 24 Juni 2024 22:56 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sejarah feminisme di Indonesia dimulai dengan R.A. Kartini, dan terus berkembang melalui gerakan perempuan di masa penjajahan dan pasca-kolonialisme.

Istilah Feminisme sudah sering terlintas di media sosial, serta digaungkan oleh para aktivis melalui gerakan atau demonstrasi yang berkaitan dengan kesetaraan gender. Namun, apakah yang dimaksud dengan feminisme? Serta bagaimana sejarahnya di negara demokrasi kita, Indonesia? 

Dalam skala internasional, kemunculan tokoh Mary Wollstonecraft, seorang penulis dan filsuf Inggris, dianggap sebagai ibu pendiri feminisme. Karyanya yang berpengaruh, A Vindication of the Rights of Woman (1792) berpendapat bahwa wanita harus diperlakukan sebagai makhluk rasional yang mampu membuat keputusan dan berkontribusi kepada masyarakat dan posisinya setara dengan laki-laki.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan dalam memberdayakan perempuan, sehingga mereka dapat membebaskan diri dari peran gender tradisional dan ekspektasi masyarakat. Keberanian Wollstonecraft dalam menentang norma-norma masyarakat, mengadvokasi pendidikan bersama, dan berbagi tanggung jawab sebagai orang tua antara pria dan wanita telah menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam feminisme. (Adhikari & Saha, 2022)

Sedangkan di Indonesia. Sebenarnya, seorang tokoh feminisme telah ada dalam sejarah kita sejak lama. Sebagian besar dari Anda pasti pernah mendengar namanya, bahkan namanya terukir dalam salah satu lagu nasional yang berjudul Ibu Kita Kartini.

R.A. Kartini adalah seorang putri Jawa, yang percaya bahwa wanita sangat penting bagi perkembangan moralitas dan kemajuan peradaban manusia. Surat-suratnya kepada kaum sosialis, feminis, dan pendidik Belanda, yang diterbitkan secara anumerta dengan judul Door Duisternis tot Licht (Dari Gelap Menuju Terang), mengungkapkan keprihatinannya terhadap praktik poligami dan kawin paksa, serta kritiknya terhadap sistem penjajahan. Advokasinya untuk pendidikan perempuan dan upayanya untuk membuka sekolah dasar pertama di Indonesia untuk anak perempuan pribumi, merupakan langkah penting menuju emansipasi perempuan di Indonesia selama masa penjajahan Belanda. (Pratidina & Pasaribu, 2023)

Sejarah masuknya feminisme di Indonesia dapat dibagi menjadi dua periode: Periode Kolonialisme dan Pasca-Kolonialisme. Pertama, periode Kolonialisme (1600-1945). Meskipun catatan sejarah seringkali berfokus pada laki-laki, perempuan juga memainkan peran penting. Ada pejuang perempuan seperti Cut Nyak Dhien dan Martha Christina Tiahahu, serta perempuan yang terlibat dalam gerakan dan organisasi politik. Perempuan berkontribusi melalui perjuangan bersenjata, pengorganisasian politik, dan gerakan sosial. Mereka berjuang bersama laki-laki, mengadvokasi hak-hak perempuan, dan bahkan mengadakan kongres sendiri untuk membahas isu-isu seperti pendidikan dan pernikahan. Kelompok-kelompok seperti Putri Mardika dan Aisyah menyediakan wadah bagi perempuan untuk terlibat dalam wacana publik dan mengadvokasi perubahan. Organisasi-organisasi ini juga berperan dalam gerakan nasionalis.

Gerakan nasionalis menawarkan kesempatan kepada perempuan untuk berpartisipasi di ruang publik, tetapi juga membatasi kemampuan mereka untuk menangani isu-isu yang spesifik untuk perempuan karena fokus pada persatuan nasional. Pada periode ini muncul beberapa tokoh terkemuka seperti Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, dan Nyi. H. Achmad Dahlan yang mengadvokasi akses anak perempuan terhadap pendidikan. Rohana Kudus, seorang jurnalis perintis dan aktivis hak-hak perempuan, juga disebut-sebut mendirikan sekolah kejuruan untuk perempuan. Dengan pengaruh R.A. Kartini sebagai salah satu ikon feminisme yang paling menonjol yang lahir pada periode ini. (Arivia & Subono, 2017)

Kedua, periode Pasca-Kolonialisme (1945-sekarang). Dengan adanya Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), yang didirikan pada tahun 1950, awalnya berfokus kepada feminisme sosialis. Pada tahun 1954, organisasi ini melebarkan sayapnya hingga mencakup perempuan kelas pekerja dan petani. Gerwani mendapatkan kursi parlemen pada tahun 1955 dan berkembang menjadi 1,5 juta anggota pada pertengahan tahun 1960-an.

Setelah tahun 1965, rezim Orde Baru menargetkan Gerwani , yang berujung pada pendirian organisasi-organisasi yang dikendalikan oleh negara seperti PKK. Ide-ide feminis mendapatkan daya tarik setelah jatuhnya rezim otoriter Orde Baru pada pertengahan tahun 1990-an, dengan fokus pada isu-isu seperti kekerasan gender, perdagangan manusia, seksualitas, dan poligami.

Universitas dan organisasi perempuan mengembangkan teori-teori feminis, mengatasi kemiskinan dan mengadvokasi hak-hak perempuan. Mulai pada masa ini perempuan ikut aktif berpartisipasi dalam gerakan perlawanan terhadap rezim, yang berpuncak pada peristiwa-peristiwa seperti Tragedi Kudatuli.

Selama era reformasi di Indonesia, feminisme menunjukkan perlawanannya, dengan jurnal feminis pertama, Jurnal Perempuan (JP), yang menerbitkan karya-karya kritis untuk memberdayakan perempuan dan menentang rezim Orde Baru. Namun, kontribusi feminis sering diabaikan. Terbentuknya organisasi lain seperti Kalyanamitra yang berfokus pada penelitian, pendidikan, dan advokasi, sementara munculnya novel-novel feminis, seperti Saskia Wieringa, yang menantang norma-norma patriarki.

Era reformasi juga menyaksikan tumbuhnya gerakan konservatif yang menentang feminisme, dengan adanya Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang memperkenalkan badan pemerintah yang feminis. (Arivia & Subono, 2017)

Jadi, Feminisme sangat penting dalam negara demokratis karena feminisme berupaya memberdayakan perempuan, mendemokratisasi negara dan ruang publik, mengatasi ketidaksetaraan antar kelompok masyarakat, serta mendorong perubahan kelembagaan. Upaya-upaya ini sangat penting untuk memastikan bahwa demokrasi bersifat inklusif dan representatif, yang pada akhirnya berkontribusi pada perlindungan hak asasi manusia. (Cornwall & Goetz, 2005)

 

Daftar Pustaka:

Adhikari, N. A., & Saha, N. D. B. (2022). THE FEMINIST RESPONSES TO MARY WOLLSTONECRAFT: A READING. EPRA International Journal of Research & Development, 32–38. https://doi.org/10.36713/epra11181 

Arivia, G., & Subono, N.I. (2017). A Hundred Years of Feminism in Indonesia An Analysis of Actors, Debates and Strategies.

Cornwall, A., & Goetz, A. M. (2005). Democratizing democracy: Feminist perspectives. Democratization, 12(5), 783–800. https://doi.org/10.1080/13510340500322181 

Pratidina, I. S., & Pasaribu, R. E. (2023). “R.A. Kartini” (1982) and “Kartini” (2017); Anguish and silent struggles in the narratives of Indonesian women’s empowerment role model. Wacana, 24(1). https://doi.org/10.17510/wacana.v24i1.1219 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Ida Ayu Putu Sharira Kirana 2112521022

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler