Fenomena Gaya Hidup Mahasiswa: antara Bisnis dan Minat Rendah pada Organisasi

Selasa, 25 Juni 2024 11:18 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dulu, organisasi mahasiswa atau organisasi masyarakat menjadi salah satu tempat di mana mahasiswa bisa belajar banyak hal di luar kelas. Tapi saat ini kurang diminati

Di zaman sekarang sering kita dengar keluhan bahwa mahasiswa cenderung kurang berminat untuk aktif dalam organisasi masyarakat. Banyak yang bilang mereka lebih sibuk dengan gaya hidup hedonis dan terobsesi dengan bisnis. Katanya, mahasiswa sekarang lebih suka nongkrong di kafe keren, pamer outfit kekinian di media sosial, dan ikut tren bisnis yang lagi hits. Apa benar begitu? Yuk, kita coba bahas lebih dalam.

Dulu, organisasi mahasiswa atau organisasi masyarakat menjadi salah satu tempat di mana mahasiswa bisa belajar banyak hal di luar kelas. Mulai dari keterampilan kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, hingga memperluas jaringan pertemanan. Namun, kini organisasi-organisasi tersebut kerap mengeluhkan minimnya partisipasi dari mahasiswa.

Banyak faktor yang mungkin menyebabkan hal ini. Salah satunya adalah kurangnya sosialisasi dari pihak organisasi itu sendiri. Organisasi mungkin kurang paham di mana tempat nongkrongnya mahasiswa zaman sekarang, sehingga mereka kesulitan untuk menarik minat mahasiswa. Misalnya, kalau dulu mahasiswa banyak berkumpul di kampus, sekarang mereka lebih sering nongkrong di kafe atau tempat-tempat kekinian lainnya.

Selain itu, mungkin juga karena kurangnya kesadaran mahasiswa akan dampak positif yang bisa didapat dari berorganisasi. Banyak mahasiswa yang merasa ikut organisasi itu hanya buang-buang waktu dan tidak memberikan manfaat langsung. Padahal, dengan aktif di organisasi, mereka bisa mendapatkan pengalaman berharga yang tidak didapat di bangku kuliah.

 

 Gaya Hidup Mahasiswa Kini

Tidak bisa dipungkiri, gaya hidup hedonis memang menjadi salah satu daya tarik bagi banyak mahasiswa masa kini. Media sosial penuh dengan konten yang menampilkan kehidupan glamor dan serba enak. Nongkrong di kafe mewah, liburan ke tempat eksotis, pakai barang-barang branded, semua itu jadi impian banyak anak muda.

Media sosial juga memberikan tekanan tersendiri. Ada keinginan untuk terlihat keren dan mendapatkan banyak likes dan followers. Banyak mahasiswa yang akhirnya lebih fokus untuk mengejar gaya hidup seperti itu, daripada mengembangkan diri melalui kegiatan yang lebih bermakna seperti berorganisasi.

Namun, penting untuk diingat bahwa gaya hidup hedonis ini seringkali hanya tampak luar saja. Banyak dari mereka yang tampilannya keren di media sosial, sebenarnya menghadapi berbagai masalah di balik layar. Bisa jadi, mereka harus bekerja keras atau berhutang demi bisa tampil keren.

Selain gaya hidup hedonis, obsesi pada bisnis juga menjadi fenomena yang cukup menonjol di kalangan mahasiswa. Banyak yang terinspirasi dari kisah sukses para entrepreneur muda yang sering muncul di media. Mereka melihat betapa menggiurkannya menjadi seorang pengusaha: dikenal banyak orang, dipuji, bisa beli apa saja yang diinginkan.

Namun, seringkali mahasiswa tidak menyadari bahwa di balik kesuksesan itu, ada banyak kerja keras dan pengorbanan yang harus dilakukan. Banyak yang hanya melihat hasil akhirnya saja tanpa memahami proses panjang yang harus dilalui. Akibatnya, banyak yang mencoba terjun ke dunia bisnis hanya karena nafsu untuk mendapatkan keuntungan instan, tanpa persiapan yang matang.

Arti tentang bisnis pun seringkali disalahartikan. Banyak yang berpikir bahwa bisnis itu hanya soal menghasilkan uang dan hidup enak. Padahal, bisnis yang sukses membutuhkan dedikasi, strategi, dan ketekunan.

Salah satu akar masalah dari kurangnya minat mahasiswa dalam berorganisasi adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman mereka tentang manfaat dari berorganisasi. Banyak mahasiswa yang belum benar-benar memahami dampak positif yang bisa didapat dari aktif dalam organisasi. Mereka mungkin menganggap organisasi hanya sebagai kegiatan tambahan yang tidak penting.

Padahal, ikut organisasi bisa membantu mahasiswa mengembangkan soft skills yang sangat berguna di dunia kerja nanti. Keterampilan seperti kepemimpinan, manajemen waktu, kerja sama tim, dan kemampuan berkomunikasi adalah hal-hal yang sangat dihargai oleh para pemberi kerja. Selain itu, jaringan pertemanan yang luas juga bisa menjadi aset berharga di masa depan.

Namun, tidak adil rasanya jika kita hanya melihat sisi negatifnya saja. Ada juga banyak mahasiswa yang aktif berorganisasi dan sukses di bidangnya. Mereka yang aktif biasanya memiliki pandangan yang lebih luas, lebih berpengalaman, dan lebih siap menghadapi dunia kerja nanti.

Selain itu, ada juga mahasiswa yang berhasil menyeimbangkan antara gaya hidup, bisnis, dan kegiatan organisasi. Mereka mampu memanfaatkan waktu dengan baik dan mengambil yang terbaik dari setiap aspek kehidupan.

 

 Menghadapi Realitas

Sebagai masyarakat, kita perlu memahami bahwa setiap generasi memiliki tantangan dan dinamika yang berbeda. Mahasiswa masa kini tumbuh di era digital yang penuh dengan informasi dan distraksi. Mereka menghadapi tekanan yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Mungkin yang perlu kita lakukan adalah memberikan mereka panduan dan dukungan yang lebih baik. Organisasi harus lebih kreatif dalam menarik minat mahasiswa. Misalnya, dengan mengadakan kegiatan yang relevan dan menarik bagi mereka, serta memanfaatkan media sosial untuk sosialisasi.

Selain itu, penting juga untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang manfaat dari berorganisasi. Mungkin bisa dimulai dengan mengadakan seminar atau workshop yang mengundang alumni yang sukses berkarir berkat pengalamannya di organisasi. Dengan begitu, mahasiswa bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang keuntungan jangka panjang dari berorganisasi.

Pendidikan juga memainkan peran penting dalam membentuk minat dan pandangan mahasiswa. Kurikulum yang mencakup pendidikan karakter dan soft skills bisa membantu mahasiswa memahami pentingnya aktif dalam kegiatan organisasi. Pendidikan yang holistik, yang tidak hanya fokus pada akademik, tapi juga pada pengembangan diri secara keseluruhan, sangat dibutuhkan.

Institusi pendidikan juga bisa menyediakan lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan di luar kelas. Dengan dukungan dari kampus, mahasiswa akan merasa lebih termotivasi untuk aktif dan mengambil bagian dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat.

 

 Menyongsong Masa Depan

Melihat fenomena ini, kita perlu optimis bahwa dengan pendekatan yang tepat, mahasiswa masa kini bisa menjadi generasi yang hebat. Mereka memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi dan teknologi, yang jika digunakan dengan baik, bisa membawa mereka pada kesuksesan yang luar biasa.

Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita bisa memberikan mereka panduan dan dukungan yang tepat, serta menciptakan lingkungan yang mendukung mereka untuk berkembang. Dengan begitu, kita bisa melihat lebih banyak mahasiswa yang tidak hanya sukses di bidang akademik dan bisnis, tapi juga aktif dalam berkontribusi pada masyarakat melalui organisasi.

Pada akhirnya, setiap generasi memiliki ciri khas dan tantangan tersendiri. Mahasiswa masa kini dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah cerminan dari zaman yang kita jalani. Yang perlu kita lakukan adalah mendukung mereka agar bisa memanfaatkan semua peluang yang ada dan menjadi generasi yang lebih baik dari sebelumnya.

Jadi, meski terlihat sibuk dengan gaya hidup hedonis dan bisnis, bukan berarti mereka tidak peduli dengan hal-hal yang lebih bermakna. Dengan dukungan dan bimbingan yang tepat, kita bisa membantu mereka menemukan keseimbangan dan menjadi pribadi yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat.

Bagikan Artikel Ini
img-content
thoriq taqiyuddin

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua