Diskusi Sastra dan Kebudayaan, Rendra Dipenjara

Selasa, 25 Juni 2024 16:47 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Diskusi kian terbuka di ruang publik tanah air. Diskusi dapat dilakukan diruang terbuka, termasuk di di warung kopi

Fenomena kegelisahan terhadap negara, mengungkap terbuka dimana mana, tak terkecuali diwarung kopi. Kegelisahan itu, ditumpahkan dalam bentuk diskusi, mencari akar persoalannya, serupa seorang filsuf Yunani, Sokrates, yang membuka ruang diskusi diwarung kopi.

Diskusinya pun identik. Berbicara tentang peran negara dalam memberdayakan warga dan rakyat Yunani, yang terancam kemerdekaan sosial, ekonomi, hukum, dan seterusnya.  Socrates pun dianggap telah menyebarkan racun kedalam pikiran anak anak muda Yunani, sehingga ia  ditangkap dan dipaksa meminum racun di dalam penjara, lantaran Socrates telah membongkar perselingkuhan antara penguasa dengan kaum oligarki di negaranya. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sadar atau tidak, ruang diskusi telah menyebar terbuka di kalangan warga masyarakat dan rakyat Indonesia. Warga masyarakat telah berani berbicara secara terbuka diruang publik. Mereka membicarakan tentang haknya dan kewajiban negara terhadap rakyatnya, seperti persoalan pendidikan, kesehatan, hukum dan seterusnya.

Dan teranyar ialah persoalan anggaran 20% untuk pendidikan nasional, persoalan kriminal kasus pembunuhan Vina dan Eky di Cirebon, dan seterusnya. Lumrah jika rakyat mencurigai kuat, bahwa negara dengan kekayaan alamnya, telah dikelola oleh kepentingan elit politik dan oligarki didalam negeri. 

Sastra Oligarki

Bermula dari “Kata”, demikian Tuhan Ber-Tutur dalam Surat Cinta-aNya, al Qur'an. Kata atau bahasa memiliki peran yang amat sangat penting dalam menciptakan kehidupan atau peristiwa. Presiden Penyair Indonesia, Sutardji CB, mengungkapkan, bahwa (negara) Indonesia dilahirkan dari rahim Kata. Peristiwa Sumpah Pemuda. Namun dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia belum juga merasakan nikmatnya kemerdekaan dalam konteks sosial, ekonomi, politik, hukum, dan seterusnya. Kebebasan mengungkapkan pikiran dan perasaan atas realitas kehidupan berbangsa dan bernegara, masih dalam awasan, dan (terkadang) menjadi buah penindasan bagi penguasa yang berkuasa dengan segenap kekuatan oligarki di sekelilingnya. 

Fenomena grammar atau bahasa kekuasaan lebih dominan dalam mengelola bangsa dan negara, lumayan sangat sulit terbantahkan dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokrasi tidak lagi lagi tegak berdiri dalam kenyataannya. Demokrasi terpimpin. Demokrasi yang dipimpin oleh penguasa dan oligarki. Dan bukan demokrasi Pancasila. 

Kok bisa? Bagaimana bisa? Pertanyaan pertanyaan yang lumayan sangat sederhana (lumrah) menyembul keluar kepermukaan publik. “ Tak ada asap jika tak ada api, “ Pepatah leluhur mengungkapkannya. Kita (mungkin) kecewa dengan kepemimpinan era Orde Lama dan Orde Baru. Namun lumayan lebih jauh mengecewakan ialah kepemimpinan di era reformasi dan pasca Reformasi, fatsoen politik kebangsaan Indonesia sudah lumayan sangat berorientasi materi, uang. Materi oriented. Pesta demokrasi per-lima tahun identik dengan pemodal, bohir. Pemilu telah menjadi lahan Industri baru di republik ini. Setiap suara dan langkahnya memiliki nilai mata uang. 

 

Suka atau tidak, pemimpin terpilih hasil demokrasi itu harus mengikuti petuah dan keinginan para pemilik cuan, bohir bohir dan elit politik (pemimpin partai politik) jika kepengen aman dan langgeng duduk di kursi kekuasaan. Mereka (oligarki) meminta jabatan, meminta proyek, meminta lahan, dan seterusnya, biar lebih mudah mengumpulkan kekayaannya. Tak penting dengan Demokrasi, alias rakyat yang berdaulat. Kekuasaan dapat menggunakan aparat kekuasaannya, untuk memukul mundur rakyat yang bersuara lantang menentang kebijakannya. Jika perlu dipenjarakan. Bahkan dihilangkan nyawanya demi kekuasaan. 

 

“Kesadaran adalah matahari

  Kesabaran adalah bumi

  Keberanian menjadi cakrawala

  Dan perjuangan adalah

 Pelaksanaan kata kata, “ Demikian penyair Rendra, mengungkapkan diruang publik. Rendra, berusaha menyikapi fenomena politik kebangsaan yang lahir dari rahim kata kata “Sumpah Pemuda”, yang tak kunjung menjelma dalam kehidupan rakyat Indonesia. Bahkan suara rakyat pun dipaksa bungkam demi langgengnya kepentingan penguasa dan oligarki nya. Kesenjangan sosial, ekonomi, politik, hukum dan seterusnya, kian menganga mendalam antara rakyat dan para pejabat negara dan sekutu kekuasaannya. Tajam kebawah, dan tumpul keatas. 

 

Penguasa dan orang orang disekitarnya, kupingnya panas dan wajahnya memerah. Tak tahan penguasa menunjuk aparat kekuasaannya untuk segera menangkap si Penyair Rendra. Rendra pun ditahan, Juni 1994.

 

Mungkin kita membutuhkan Wiji Tukul dan Rendra, lainnya, yang berani berbicara keras atas penguasa yang lalim dan zhalim terhadap rakyatnya. Melawan kekuasan dan oligarki yang rakus memangsa kehidupan demokrasi. Berani keluar dari zona aman dan kemapanan. 

 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler