x

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 1 Juli 2024 19:44 WIB

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Kisah menarik hubungan pemuda Melayu-Bugis dengan gadis Tionghoa di tepi Kapuas, Pontianak.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Penulis: Tere Liye

Tahun Terbit: 2015 (cetakan kesebelas)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 512

ISBN: 978-979-22-7913-9

 

Novel ”Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah” mengisahkan tentang hubungan cinta yang rumit antara Borno, anak lokal Pontianak dengan Mei seorang gadis Tionghoa asal Surabaya. Tere Liye menggunakan latar kehidupan komunitas plural di tepi Sungai Barito yang membelah Kota Pontianak sebagai latar cerita. Melalui perjumpaan yang sepertinya tak sengaja, tumbuhlah hubungan asmara antara Borno dengan Mei. Tentu saja hubungan mereka tidak mulus karena banyak perbedaan yang harus mereka hadapi dalam melanjutkan perahu cinta mereka.

Borno adalah seorang anak muda yang hidup dalam komunitas masyarakat tepi Sungai Barito. Komunitas plural yang terdiri dari berbagai suku. Ada orang Melayu, Bugis, Tionghoa, Jawa, Batak dan Dayak. Dalam komunitas tersebut mereka hidup secara rukun dan saling membantu. Tidak ada sekat-sekat etnisitas walaupun mereka tetap mempertahankan identitas.

Ayah Borno adalah seorang nelayan. Ayah Borno yang mengalami kecelakaan jatuh dari perahu dan disengat ubur-ubur merelakan jantungnya untuk didonorkan kepada seorang pasien yang membutuhkan. Saat peristiwa tersebut terjadi, Borno baru berusia 12 tahun.

Borno adalah anak yang rajin. Setamat SMA ia berupaya untuk bekerja apa saja. Ia tidak malu bekerja di parbik karet yang bau. Ia juga mencoba untuk bekerja sebagai penyobek karcis di pelabuhan feri. Keputusannya untuk bekerja di pelabuhan feri ini mendapat tentangan dari Bang Togar, seorang Batak yang menjadi ketua asosiasi pengusaha sepit (speedboat). Borno pun kemudian memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan di Pelabuhan Feri dan menjadi sopir sepit.

Setelah belajar mengemudikan sepit dari Pak Tua (orang Jawa yang bekerja sebagai pengemudi sepit), Borno mulai mengasong sepit di dermaga. Suatu hari ada angpau merah yang tertinggal di sepit yang dikemudikan oleh Borno. Ia berharap bisa bertemu dengan perempuan berbaju kuning, beretnis Tionghoa yang mungkin telah meninggalkan angpao merah tersebut. Namun setelah tahu bahwa ternyata sang perempuan berbaju kuning tersebut membagi-bagikan angpao kepada banyak orang, Borno merasa bahwa angpao merah tersebut bukanlah amplop yang penting.

Ternyata sang pemudi berbaju kuning beretnis Tionghoa malah menjadi pelanggan sepit Borno. Sang pemudi yang bernama Mei selalu pergi ke sekolah dengan cara menyeberang menggunakan sepit Borno setiap hari kerja. Dari sanalah Borno dan Mei menjadi semakin akrab dan sepertinya terjalin hubungan cinta.

Perpisahan pertama mereka terjadi saat Mei sudah selesai magang sebagai guru dan pulang ke Surabaya. Sebenarnya Borno dan Mei berjanji untuk bertemu. Namun karena Pak Tua pingsan dan harus segera diantar ke rumah sakit, maka Borno memilih untuk mengantar Pak Tua ke rumah sakit. Borno yang terlambat datang ke tempat yang sudah dijanjikan tidak bertemu dengan Mei.

Setelah beberapa waktu, Mei ternyata kembali ke sekolah dimana ia magang dulu. Rutinitas pertemuan mereka menjadi semakin sering. Sampai suatu saat Mei kembali menghilang. Borno yang rindu kepada Mei berkesempatan untuk mengunjungi rumah Mei di Surabaya. Borno yang menemani Pak Tua untuk berobat, secara tidak sengaja bertemu dengan Mei di sebuah rumah sakit. Sayang Borno yang berkunjung ke rumah Mei malah mendapat penolakan dari ayah Mei.

Saya berpikir bahwa kisah ini akan membosankan karena konfliknya adalah masalah etnistitas dan perbedaan strata ekonomi. Namun Tere Liye ternyata membuat kejutan. Penolakan ayah Mei adalah karena ayah Mei tak mau keluarganya mengalami trauma berkelanjutan karena ternyata ibu Mei adalah dokter yang mengoperasi bapak Borno dan memindahkan jantung bapak Borno ke pasien yang membutuhkannya. Ibu Mei trauma karena merasa bersalah memindahkan jantung ayah Borno yang mestinya masih punya kesempatan untuk sembuh.

Borno dan Mei akhirnya bisa bertemu kembali saat Borno mengetahui bahwa Mei menderita sakit di sebuah rumah sakit. Pertemuan kali ini membawa kisah bahagia karena Borno dan Mei setuju untuk melanjutkan hubungan asmara mereka.

Tere Liya membangun kisahnya dengan ringan dan jenaka. Kisah yang mempunyai tema berat ini dikemas dalam kisah-kisah perjuangan Borno dari seorang lulusan SMA yang tanpa keterampilan sampai menjadi pengusaha montir yang sukses. Dalam mengisahkan perjuangan Borno terhadap cintanya kepada Mei dan membangun usaha bengkelnya, Tere Liye menyisipkan banyak cerita jenaka. Kisah-kisah jenaka ini membuat saya tidak bosan membaca novel yang tebalnya lebih dari 500 halaman.

Selain dari kisah jenaka, Tere Liye memasukkan banyak kisah tentang komunitas antarbudaya dan antaretnis. Sebuah komunitas yang saling menghargai, saling tolong menolong dan rukun.

Terus apa hubungannya dengan angpao merah yang tertinggal di sepit Borno? Mengapa sepertinya kisah angpao merah itu tak muncul di sepanjang cerita? Padahal sepucuk angpao mereh tersebut dijadikan judul novel. Ternyata angpao tersebut berisi surat permintaan maaf Mei karena ibunya telah berperan dalam kematian ayah Borno. 844

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler