x

Sumber : Gramedia

Iklan

Sayyidatina Khaliza

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Juli 2024

Jumat, 5 Juli 2024 14:59 WIB

Mengupas Makna Puisi Tiga Lembar Kartu Pos, karya Sapardi Djoko Damono

Tulisan ini dibuat untuk menelisik, mencari tahu makna puisi Tiga Lembar Kartu Pos yang dibuat oleh Sapardi Djoko Damono, seorang penyair terkenal.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Topeng.

Puisi Tiga Lembar Kartu Pos pada buku Hujan Bulan Juni yang ditulis oleh Sapardi Joko Damono pada tahun 1975. Memiliki tema mengenai spiritual, mengandung nilai religius yang dicampuri dengan nilai-nilai perjuangan kehidupan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

(1)
Soalnya kau tak pernah tegas menjelaskan keadaanmu, tak pernah tegas mengakui bahwa harus menyelesaikan perkaramu dengan-Ku
Suratmu dulu itu entah di mana, tidak di sela-sela sayap malaikat masih Kuingat benar: alamat-Ku kau tulis dengan sangat tergesa, Kubayangkan tanganmu gemetar, tanda bahwa ada yang ingin lekas-lekas kusampaikan pada-Ku

(2)
Kau di mana kini? Sebenarnya saja: pernahkah sekujur tubuhmu mendadak dingin ketika kaulihat bayang-bayang-Ku yang tertinggal di kamarmu?
Mungkin Aku keliru, mungkin selama ini kau tak pernah merasa memelihara hubungan dengan-Ku, tak pernah ingat akan percakapan Kita yang panjang perihal topeng yang tergantung di dinding itu
Bagimanapun Aku ingin tahu di mana kau kini

(3)
Anakmu yang tinggal itu menulis surat, katanya antara lain, “...
Alamat-Mu kudapati di tong sampah, di antara surat-surat yang dibuang Ayah; hanya sekali ia pernah menyebut-nyebut nama-Mu, yakni ketika aku meraung karena dihalanginya mengenakan topeng yang ... ”
Rupanya ia ingin mengajak-Ku bercakap tentang mengapa Aku sengaja memberimu hadiah topeng di hari ulang tahunmu dulu itu siasatnya pasti siasatmu juga; menatap tajam sambil menuduh bahwa kunfayakun-Ku sia-sia belaka.

(1975)

Puisi ini memiliki makna hubungan seseorang dengan Tuhan-Nya, "Suratmu dulu itu entah di mana, tidak di sela-sela sayap malaikat masih Kuingat benar: alamat-Ku kau tulis dengan sangat tergesa, Kubayangkan tanganmu gemetar, tanda bahwa ada yang ingin lekas-lekas kusampaikan pada-Ku" surat yang ada pada puisi dimaksudkan dalam arti doa-doa yang disampaikan seseorang kepadaNya. Manusia kerap mengadu atas apa yang terjadi, bersimpuh, memohon, tergesa-gesa karena terlalu riuh pikirannya mengenai masalah-masalah kehidupan yang menghantui.

"Mungkin Aku keliru, mungkin selama ini kau tak pernah merasa memelihara hubungan dengan-Ku, tak pernah ingat akan percakapan Kita yang panjang perihal topeng yang tergantung di dinding itu." Topeng memiliki arti keraguan, kepalsuan yang disembunyikan, ini adalah cara pengarang menyampaikan keraguan atas doa doa yang tak kunjung dijawab.

Siasatnya pasti siasatmu juga; menatap tajam sambil menuduh bahwa kunfayakun-Ku sia-sia belaka." kunfayakun terdapat pada Al-Qur'an surah An-Nahl ayat 40 Manusia bisa merencanakan, manusia bisa mengusahakan, namun, kendali terdapat pada sang pencipta. Sebagai manusia kita hanya perlu melakukan yang terbaik. Apabila Ia sudah berucap terjadilah, maka terjadilah.

Ikuti tulisan menarik Sayyidatina Khaliza lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler