Bagaimana Peradaban Islam dapat Mencapai Kejayaannya?

Sabtu, 6 Juli 2024 11:37 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sejatinya manusialah yang memiliki kekuatan untuk menghadirkan Tuhan, sesuai urgensi zaman yang ada. Perbanyak berdzikir, melaksanakan salat 5 waktu tanpa tertinggal, dan membaca Al-Quran, adalah ajaran yang sangat luar biasa memberdayakan manusia yang beriman akan Kemahakuasaan Tuhan pada zaman ini.

Manusia memiliki kekuatan mencipta. Di zaman saat kitab suci Veda menjadi acuan seluruh manusia yang ada, manusia menciptakan arca, yakni patung rohani yang memvisualisasikan Dewa yang memiliki kekuatan yang agung, dengan rupa yang menyerupai manusia dan berlengan banyak.

Tepatnya pada zaman ketika sebelum perang Bharatayudha benderang (Pandawa melawan Kurawa). Veda menjelaskan pada zaman itu manusia menjadikan arca sebagai media menghadirkan Tuhan ke alam dunia. Dan di saat krusial, penyembahan manusia kepada arca yang diagungkan pada masanya, hadirlah Sri Krsna dengan wujud manusia namun tak serupa manusia pada umumnya (disebabkan keunikan warna kulitnya).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di zaman itu Sri Krsna dimanifestasikan sebagai kehadiran Tuhan Yang Maha Kuasa itu sendiri, sebab siapapun yang dicintai oleh Sri Krsna, ialah yang menjadi pemenang zaman, pemilik kejayaan, kekayaan dan kekuatan yang tiada tandingnya. Dan saat itu, Sri Krsna berpihak kepada Pandawa, maka jelaslah kemenangan perang Bharatayudha adalah bagi Pandawa dan pihak yang bersama mereka.

Dari kisah di atas dapat disimpulkan, bahwa manusia dengan kekuatan imannya yang sangat kuat, ia mampu menghadirkan Tuhan, dan ia mampu menciptakan suatu wadah yang sudah divisualisasikan sebelumnya untuk di-isi oleh Dzat Yang Maha Esa, seperti penciptaan Arca Dewa Wisnu oleh manusia zaman itu, lalu diharapkan kehadirannya, di mana saat paling genting Dewa Wisnu hadir sebagai Sri Krsna pada saat krusial di mana adharma merajalela dan berusaha melenyapkan dharma pada saat itu. Seperti yang dijelaskan Bhagavad Gita, 4, 7-8.

Manakala kebenaran merosot dan kejahatan merajalela,
pada saat itulah Aku akan turun menjelma ke dunia,
wahai keturunan Bharata (Arjuna).

Untuk menyelamatkan orang-orang saleh
dan membinasakan orang jahat
dan menegakkan kembali kebenaran,
Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman.

Berkaca di zaman kini, manusia kembali menghadirkan Kemahakuasaan melalui cerita-cerita yang dikumpulkan dalam suatu kitab. Para Rasul yang pernah hidup di alam dunia, memiliki kelebihan luar biasa dalam kreativitas menyampaikan cerita-cerita yang berkekuatan lagi memberdayakan manusia di zamannya, dengan tujuan agar masyarakat dapat survive dari malapetaka yang hendak menghantam peradaban manusia kala itu.

Siapa yang mempercayai cerita para rasul, maka dapat dipastikan ia selamat, sebab manusia berpegang pada kepercayaan yang melibatkan Kemahakuasaan Tuhan dari cerita tersebut. Namun siapa yang mengingkarinya, maka mereka tidak selamat dari malapetaka yang disampaikan melalui cerita para rasul tersebut.

Kekuatan iman manusia yang meyakini kreasi Maha Tinggi telah berhasil menghadirkan Tuhan untuk memasuki wadah yang mereka ciptakan. Pada zaman ini wadah yang dapat diisi oleh kehadiran Tuhan Yang Maha Esa untuk menjelma di alam dunia adalah cerita yang mengagungkan kemahakuasaan Tuhan dan nama suci Tuhan yang diyakini manusia pada zamannya.

Maka benarlah anjuran Rasul kita Muhammad, agar senantiasa membaca Al-Qur'an dan berdzikir, manfaat yang didapat dari rutinitas luhur tersebut, maka seorang tersebut sedang menghadirkan Tuhan melalui kisah yang dibacakan dari Al-Qur'an, dan ia menghadirkan Tuhan dengan selalu mengingat Nama-Nya melalui berdzikir dilisankan dan diucapkan dalam hati terdalam.

Secara pengetahuan spiritual, Tuhan adalah sebuah keberadaan yang paling purba, yang paling pertama sebelum roh-roh yang mengisi badan kita ada. Tuhan sendiri adalah sang Supersoul, roh yang paling besar dari semua roh-roh yang ada di alam semesta. Roh yang paling besar ini yang hanya ada satu di seluruh semesta yang ada mencari wadah yang paling tepat untuk di isi oleh-Nya. Dan wadah yang paling tepat bagi sang Supersoul di zaman sekarang ialah nama suci Allah.

Nama suci Allah sendiri diperkuat dengan Asmaul Husna, yang mensifati Kemahaan dari Tuhan itu sendiri. Sebab sang Supersoul menyukai wadah yang diciptakan manusia dengan keyakinan terindahnya atas Tuhan. Roh yang paling purba di seluruh semesta itu mengakui nama suci Allah adalah wadah yang paling tepat untuk menghadirkan diri-Nya di alam dunia ini, pada masa sekarang.

Dengan demikian sejatinya manusialah yang memiliki kekuatan untuk menghadirkan Tuhan, sesuai urgensi zaman yang ada. Perbanyak berdzikir, melaksanakan salat 5 waktu tanpa tertinggal, dan membaca Al-Qur'an, adalah ajaran yang sangat luar biasa memberdayakan manusia yang beriman akan Kemahakuasaan Tuhan pada zaman ini.

Inilah ilmu sebenar-benarnya, bahwa kekuatan manusia yakni mencipta dan meyakini (kekuatan iman), dapat menjadikan hal yang sebelumnya tak terjadi, benar-benar menjadi realitas yang dirasakan oleh seluruh kehidupan yang ada.

Sebagaimana kutipan sloka pamungkas dari Bhagavad Gita (18.78).

Di manapun ada Krsna, penguasa semua ahli kebatinan, dan di manapun ada Arjuna, pemanah yang paling utama, di sana pasti ada kekayaan, kejayaan, kekuatan luar biasa dan moralitas. Itulah pendapat saya.

Baik Allah maupun Krsna, adalah perwujudan dari kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, Roh Maha Besar yang paling purba sesuai keadaan zaman yang dihadapi manusia di dunia. Walau demikian untuk zaman akhir saat ini, penyembahan pada Allah ialah yang paling tepat dengan kondisi zaman, dan menjalankan apa yang disyariatkan oleh Allah melalui ajaran Muhammad ialah perkara yang membuat umat manusia menjadi kuat dan dapat survive dari tantangan zaman yang ada.

Dan Arjuna dapat diidentifikasikan sebagai hamba Tuhan yang amat dicintai-Nya. Maka siapa yang menjadi hamba Allah yang dicintai-Nya sebab keimanan, ketakwaan dan kekuatan yang ia miliki ... niscaya kekayaan, kejayaan, kekuatan luar biasa serta moralitas menghiasi peradaban negeri yang Tuhan ridai di mana para hamba Allah itu menjalani kehidupannya.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar menjalankan syariat Islam secara keseluruhan dengan penuh suka cita dan tiada beban penuh kesanggupan? Itu sebab mengapa Peradaban Islam saat ini mengalami kemunduran dan tidak berdaya menghadapi zaman, sebab kaum muslimin itu sendiri tidak menjalaninya sesuai apa yang diinginkan Allah Azza Wa Jalla.

Allah berfirman sebagai berikut: ”Aku selalu menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkan kebaikan. Adapun bila ia berprasangka buruk kepada-Ku maka dia akan mendapatkan keburukan." Al-Hadits riwayat Tabrani dan Ibnu Hibban.

Maka apa yang kita sangkakan kepada Allah selama ini, apakah kita meyakini dengan hati yang benar, bahwa Allah itu Maha Kuasa dengan sebenar-benarnya keyakinan?

Sebab bila kita mempelajari kisah masa depan tentang invasi Ya'juj Ma'juj, orang yang lemah imannya kepada Allah berprasangka Allah telah dikalahkan oleh anak panah yang dilesatkan Ya'juj Ma'juj ke langit yang nampak hujan darah setelahnya. Karena prasangka itulah orang yang lemah imannya, hilang kekuatannya dan menjadi korban kekejaman Ya'juj Ma'juj, mereka mati dalam keadaan iman yang lemah.

Sementara mereka yang kuat imannya, tetap berprasangka Allah tak terkalahkan, sekalipun langit hujan darah saat kejadian itu. Merekalah yang kelak menjadi pemenang zaman, selamat dari bencana yang dibawakan Ya'juj Ma'juj dan tergolong orang-orang yang menyambut Kerajaan Allah yang dijanjikan-Nya. 

Cimahi, 5 Juli 2024.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Hamba Allah dan Umat Muhammad Saw. Semakin besar harapan kepada Allah melebihi harapan kepada makhluk-Nya, semakin besar pula potensi dan kekuatan yang kita miliki.

1 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua