x

Iklan

Gusti Ayu Sri Wahyuni HI Unud

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 Juni 2024

Sabtu, 6 Juli 2024 17:56 WIB

Sertifikasi Fair Trade: Benar-benar Adil atau Hanya Laborwashing?

Sertifikasi fair trade untuk produk maupun perusahaan tak selamanya menjamin hasilnya bebas dari praktik-praktik yang melanggar hak pekerja. Laporan Corporate Accountability Lab tahun 2023 menyatakan para buruh di perkebunan bersertifikasi fair trade di wilayah San Quitin, Mexico, tidak mendapatkan upah yang layak dan didera jam kerja berlebih.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ketika masyarakat semakin sadar pentingnya memilih produk-produk yang mengedepankan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan serta kesejahteraan pekerja, membeli produk fair trade menjadi salah satu opsi. Namun, apakah seperti namanya fair trade benar-benar berjalan adil?
 
Saat kita pergi berbelanja ke supermarket, banyak label produk makanan maupun jenis lainnya menggembar-gemborkan betapa etis dan berkelanjutannya produk tersebut. Label-label ini biasanya diperoleh dari proses sertifikasi melalui lembaga-lembaga fair trade
 
Skema sertifikasi semacam ini, seperti yang disediakan Fairtrade International, pada awalnya dikembangkan untuk membuat pekerja maupun petani di wilayah marginal mendapatkan upah yang layak, kondisi kerja yang lebih baik, dan arus pembelian yang stabil. Tidak hanya itu, label-label tersebut menjadi tanda sekaligus memberi isyarat kepada konsumen bahwa produk tersebut diproduksi secara berkelanjutan dari cara mengolah hingga asal dan cara mendapatkan bahan-bahannya. Selain itu juga dijamin tanpa mengeksploitasi pekerja, anak-anak maupun lingkungan.
 
Bagaimana cara kerja sertifikasi fair trade?
 
Sertifikasi fair trade sebenarnya untuk memastikan bahwa sebuah produk telah diproduksi dan diperjual-belikan dengan cara-cara yang memenuhi standar ekonomi, sosial, dan lingkungan. Selain itu juga dijamin menjunjung prinsip-prinsip fair trade.
 
Skema sertifikasi ini akan dijalani oleh produsen dan pedagang, dimana mereka akan terlibat dalam proses penilaian (audit) guna menjamin bahwa kegiatan mereka terbukti memenuhi standarisasi fair trade. Misalnya, bagi para produsen kecil yang berada di pedesaan, proses audit dijalani untuk melihat apakah produsen mendapatkan upah yang sesuai, kondisi kerja yang layak, maupun proses yang dilalui untuk memproduksi sebuah produk dilakukan secara ramah lingkungan. 
 
Lebih dalam lagi, proses sertifikasi dilakukan dengan melacak seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasoknya dengan tujuan memastikan transparansi, mulai dari petani, pengepul, perusahaan pembeli bahan baku, pengolah, dan apakah terdapat perusahaan lain yang terlibat dalam proses pengemasan produk.
 
Lalu, ketika sebuah produk berhasil tersertifikasi, maka produk tersebut bisa menyertakan label sertifikasi fair trade di kemasannya. Tidak sampai di situ saja, lembaga sertifikasi perlu melakukan kegiatan audit dan evaluasi berkala untuk memastikan bahwa produsen dan pedagang secara berkelanjutan terus berada dalam arus fair trade yang benar.
 
Realita yang ada
 
Namun seiring berjalannya waktu, sertfikasi fair trade mulai diragukan integritasnya karena dianggap sebagai wujud laborwashing dan greenwashing. Laborwashing mengacu pada praktik kamuflase yang dilakukan perusahaan atau produk. Mereka menggambarkan bahwa dalam proses produksinya perusahaan peduli pada kesejahteraan pekerja, Mereka mengklaim berlaku etis, adil, atau sesuai dengan standar ketenagakerjaan. Padahal kenyataannya tidak demikian.
 
Sedangkan, greenwashing merupakan teknik pemasaran, dimana perusahaan atau organisasi memasarkan produk atau diri mereka sebagai entitas yang ramah lingkungan dan sustainable. Mereka berharap konsumen memiliki pandangan positif terhadap produk/perusahaan dibandingkan dengan produk dari sektor sejenis, dan hasilnya perusahaan bisa mendapatkan peningkatan keuntungan.
 
Namun, di balik itu semua, fakta yang terjadi adalah perusahaan maupun produk yang dihasilkan sama sekali tidak melakukan tindakan pelestarian lingkungan. Peningkatan keuntungan yang diperoleh justru ikut meningkatkan kerusakan lingkungan.
 
Berdasarkan laporan dari Corporate Accountability Lab tahun 2023, yang berjudul CERTIFIED EXPLOITATION: HOW EQUITABLE FOOD INITIATIVE AND FAIR TRADE USA FAIL TO PROTECT FARMWORKERS IN THE MEXICAN PRODUCE INDUSTRY, ditemukan bahwa para buruh yang bekerja di perkebunan bersertifikasi fair trade (memperoleh sertifikasi dari EFI dan FTUSA) di wilayah San Quitin, Mexico ternyata tidak mendapatkan upah yang layak, jam kerja berlebih, dan tidak ada tunjangan yang seharusnya menjadi hak mereka.
 
Selain itu, para pekerja menyatakan bahwa tidak ada standar sertifikasi yang menekankan pentingnya sosialisasi mengenai hak-hak pekerja. Audit berkala yang dilakukan lembaga sertifikasi tersebut juga gagal mengungkap pelanggaran hak pekerja. Para pekerja melaporkan bahwa hak yang diperoleh dari adanya sertifikasi oleh EFI dan FTUSA hanyalah mendapatkan waktu istirahat makan siang selama satu jam. Tidak ada hak pekerja yang tertera dalam UU Perburuhan Meksiko yang terpenuhi dalam standarisasi EFI.
 
Sebelumnya, pada 2021, Corporate Accountability Lab juga pernah menerbitkan sebuah laporan berjudul Always Left Holding the Bag: The Economic Impacts of the COVID-19 Pandemic on Cocoa Farmers and Children in Côte d’Ivoire. Dalam laporan tersebut, dipaparkan bahwa ada sekitar 790.000 anak di Côte d’Ivoire menjadi pekerja di perkebunan kakao dan diketahui bahwa sejumlah perkebunan menjual kakao mereka kepada sebuah koperasi bernama FAHO dan CNEK, yang telah disertifikasi oleh Fairtrade International. Anak-anak yang bekerja dalam perkebunan tersebut seringkali merasa lelah, mengalami nyeri, hingga membutuhkan perawatan medis.
 
Artikel lainnya yang dirilis Mongabay (2021) berjudul Labor rights violations at Brazil coffee farm linked to Starbucks, Nespresso, mengungkapkan bawah koperasi kopi tersertifikasi Rainforest Alliance di Brazil bernama Cooxupe, telah memotong 30% gaji pekerjanya untuk membiayai operasional mesin pemanen, yang digunakan untuk mengambil biji kopi. Mirisnya lagi, ada sekitar 140 pekerja yang mengalami kerja paksa, namun berhasil diselamatkan.
 
Lantas, apakah sertifikasi fair trade benar-benar adil?
 
Sebuah pertanyaan lalu terbesit di benak, ada berapa banyak lagi kasus seperti di atas yang sebenarnya ada, namun tidak terdokumentasikan? Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa sertifikasi fair trade belum benar-benar mampu menjamin terpenuhinya hak-hak pekerja, aspek keberlanjutan, dan produksi yang beretika dari sebuah produk. Sertifikasi fair trade melalui kasus di atas terkesan hanya menjamin dan melindungi keuntungan bisnis semata, dan bukan melindungi hak para pekerja dan petani.
 
Sistem fair trade telah mencakup lebih dari 1.9 juta petani dan pekerja di seluruh dunia, serta terdapat lebih dari 35.000 produk tersertifikasi fair trade. Gerakan ini telah menarik banyak perhatian, dengan lebih banyak konsumen dan perusahaan yang berkomitmen untuk membeli dan menjual barang-barang yang diperdagangkan secara adil.
 
Sejak tahun 2014, petani dan pekerja fair trade telah menerima lebih dari setengah miliar euro dalam skema fair trade premium. Hal ini telah membawa angin segar ke permasalahan sistem perdagangan yang kurang berkeadilan. Meskipun, fair trade bukan solusi mutlak dari permasalahan tersebut, fair trade tetap mampu menjadi salah satu dari sekian banyak solusi untuk itu. Pada akhirnya, fair trade dan skema sertifikasinya memang bukanlah sistem yang sempurna, namun menjadi awal yang baik dalam mempromosikan konsep perdagangan yang lebih adil dengan membawa sejumlah dampak positif.
 
Referensi:
 
Corporate Accountability Lab . (2021). ALWAYS LEFT HOLDING THE BAG: THE ECONOMIC IMPACTS OF THE COVID-19 PANDEMIC ON COCOA FARMERS AND CHILDREN IN CÔTE D’IVOIRE . Retrieved from corpaccountabilitylab.org: https://corpaccountabilitylab.org/always-left-holding-the-bag
 
Corporate Accountability Lab . (2023). CERTIFIED EXPLOITATION: HOW EQUITABLE FOOD INITIATIVE AND FAIR TRADE USA FAIL TO PROTECT FARMWORKERS IN THE MEXICAN PRODUCE INDUSTRY. Retrieved from corpaccountabilitylab.org: https://corpaccountabilitylab.org/certified-exploitation
 
Fair Trade Certified. (n.d.). Fair Trade Certification Process for Brands and Traders. Retrieved from fairtradecertified.org: https://www.fairtradecertified.org/get-certified/brand-trader-licensing/
 
Flocert. (2019). ‘Making a Mark’ Mark Holder Social Impact Declaration. Retrieved from socialenterprisemark.org: https://www.socialenterprisemark.org.uk/wp-content/uploads/2019/11/Social-Impact-Declaration_FLOCERT.pdf
 
FoodUnfolded. (2024). Fairtrade Certification | How Does Fairtrade Work? Retrieved from foodunfolded.com: https://www.foodunfolded.com/article/fairtrade-certification-how-it-works
 
Mongabay. (2021). Labor rights violations at Brazil coffee farm linked to Starbucks, Nespresso. Retrieved from news.mongabay.com: https://news.mongabay.com/2021/09/labor-rights-violations-at-brazil-coffee-farm-linked-to-starbucks-nespresso/

Ikuti tulisan menarik Gusti Ayu Sri Wahyuni HI Unud lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler