x

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Minggu, 7 Juli 2024 15:23 WIB

Tanpa Aspal Buton, Indonesia Emas Bisa Jadi Indonesia Cemas

Kalau pak Prabowo lebih memilih Indonesia Emas 2045, maka harus memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan asal Buton.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Indonesia Emas 2045 adalah slogan yang merepresentasikan beragam cita-cita yang ingin dicapai Indonesia pada tahun 2045, tepat ketika Indonesia mencapai 100 tahun kemerdekaannya.

Mengutip berita dari cnbcindonesia.com, tanggal 9 November 2023, dengan judul: “Demi Indonesia Emas 2045, Prabowo Lanjutkan Hilirisasi Jokowi”, salah satu calon presiden RI, Prabowo Subianto optimis Indonesia akan terus maju dan bisa meraih Indonesia Emas pada 2045, namun dengan sejumlah catatan utama. Salah satunya seperti dengan melanjutkan program hilirisasi demi peningkatan dan perbaikan penerimaan atau pendapatan negara.

Mengutip berita dari umsu.ac.id, tanggal 29 Januari 2024, dengan judul: “Visi dan Misi Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden 02: Prabowo dan Gibran”, Visi: Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045. Visi pasangan Prabowo dan Gibran sangat jelas dan ambisius. Mereka memiliki tekad untuk memajukan Indonesia agar menjadi negara gemilang pada tahun 2045, ketika Indonesia akan merayakan 100 tahun kemerdekaannya. Visi ini mencerminkan keinginan untuk melihat Indonesia sebagai negara yang unggul di berbagai aspek kehidupan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apabila kita katakan kepada pak Prabowo, bahwa tanpa aspal Buton, Indonesia Emas akan bisa menjadi Indonesia Cemas, apakah pak Prabowo akan merasa tersinggung dan marah? Apakah ada  kaitannya antara aspal Buton dengan Indonesia Emas 2045? Apakah Indonesia harus sudah mampu berswasembada aspal merupakan salah satu cita-cita yang ingin dicapai Indonesia pada tahun 2045? Kalau pak Prabowo merasa tersinggung dan marah, mungkin jawaban pak Prabowo adalah sebuah pertanyaan lagi: “Apakah hilirisasi aspal Buton atau swasembada aspal yang akan lebih mampu meningkatkan penerimaan atau pendapat negara?”.

Kalau sebuah pertanyaan dijawab dengan pertanyaan lagi, berarti tidak ada jawaban yang pasti. Adapun, visi Indonesia Emas adalah keinginan melihat Indonesia sebagai negara yang unggul di berbagai aspek kehidupan. Oleh karena aspek kehidupan itu sangat banyak sekali, maka sekarang kita ambil salah satu contoh ekstrim saja, dimana Indonesia sudah 79 tahun merdeka, tetapi Indonesia masih tidak mampu berswasembada aspal. Berarti pada tahun 2045, atau 21 tahun lagi, dimana Indonesia akan memperingati hari Kemerdekaan yang ke 100, apakah Indonesia sudah akan mampu berswasembada aspal?

Aspal Buton adalah seperti pepatah: “Bak duri di dalam daging”, dimana presiden-presiden Indonesia sebelum pak Prabowo tidak ada seorangpun yang mampu menyelesaikan masalahnya, yaitu aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor. Sekarang pak Prabowo mendapat tantangan zaman. Mau pilih Indonesia Emas, atau Indonesia Cemas?. Kalau pak Prabowo mau memilih Indonesia Emas, ayo mari kita bersama-sama mewujudkan Indonesia mampu berswasembada aspal pada tahun 2045. Tetapi di sisi lain, apabila pak Prabowo lebih memilih Indonesia Cemas, anggap saja aspal Buton tidak pernah ada di bumi Indonesia ini. Apakah rakyat mau?

Coba sekarang kita main hitung-hitungan, apakah Indonesia akan mampu berswasembada aspal pada tahun 2045? Berapa persen dari menteri-menteri pak Prabowo yang akan mengatakan “mampu”? Dan berapa persen dari menteri-menteri pak Prabowo yang akan mengatakan “tidak mampu”? Para menteri pak Prabowo sejatinya semuanya sedang menunggu aba-aba atau gesture tubuh dari pak Prabowo. Apakah pak Prabowo merasa optimis, atau pesimis? Untuk mengetahui apakah pak Prabowo merasa optimis atau pesimis, kita perlu tahu terlebih dahulu. Apakah visi pak Prabowo sama, atau berbeda, dengan visi pak Jokowi mengenai aspal Buton?.

Kalau visi pak Prabowo sama dengan visi pak Jokowi, maka pak Prabowo merasa pesimis. Apa buktinya? Buktinya pak Jokowi sudah pernah memutuskan akan stop impor aspal pada tahun 2024. Ternyata pak Jokowi tidak mampu mewujudkannya. Mengapa pak Jokowi gagal mewujudkan keputusannya sendiri? Karena pak Jokowi sendiri merasa pesimis, apakah Indonesia akan mampu berswasembada aspal?

Sebaliknya, apabila pak Prabowo mempunyai visi sendiri, yang berbeda dengan visi pak Jokowi, maka pak Prabowo merasa optimis. Apa buktinya? Buktinya, visi pak Jokowi adalah hilirisasi aspal Buton. Sedangkan visi pak Prabowo adalah Indonesia berswasembada aspal.  Maka maknanya adalah pak Prabowo memang paham betul, bahwa apa yang diinginkan oleh rakyat adalah Indonesia berswasembada aspal. Dan bukan hilirisasi aspal Buton. Rakyat menginginkan Indonesia diakui dan dihargai oleh dunia sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Karena berani berjuang untuk berswasembada aspal dengan berani melawan penjajahan aspal impor.

Orang optimis, akan melihat peluang jauh ke depan. Sangat jauh ke beberapa generasi yang akan datang. Sedangkan orang pesimis, selalu melihat ke masa lalu. Ia tidak mampu melihat bahwa selalu ada peluang dan kemudahan di setiap kesulitan. Bagaimana kaitannya antara masalah optimis dan pesimis, apabila kita kaitkan antara Indonesia Emas dengan Indonesia Cemas. Mungkin masih banyak diantara kita yang masih merasa bingung, dan bertanya-tanya.

Masalah aspal Buton adalah masalah yang paling sempurna untuk kita ambil pelajaran dan hikmahnya. Mudah-mudahan, apabila Indonesia sudah mampu menyelesaikan masalah aspal Buton, maka Indonesia akan mampu juga menyelesaikan masalah-masalah lain yang jauh lebih sulit dan rumit. Apa sejatinya masalah aspal Buton? Masalah aspal Buton adalah pemerintah tidak memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton. Pertanyaan sekarang adalah: “Pemerintah itu siapa sih?”.

Mungkin pertanyaan ini harus dijawab oleh pak Prabowo sendiri sebagai presiden baru terpilih periode 2024-2029. Kalau pak Prabowo menjawab, bahwa memerintah itu adalah “saya” sebagai presiden yang baru. Maka pertanyaan berikutnya adalah: “Apakah pak Prabowo memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton?”. Kalau pak Prabowo bilang bahwa beliau memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton, maka artinya pak Prabowo optimis dengan Indonesia Emas 2045.

Tetapi di sisi lain, apabila pak Prabowo tidak memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton, maka pak Prabowo merasa pesimis dengan Indonesia Emas 2045. Karena masalah aspal Buton hanya merupakan salah satu masalah kecil saja dari sekian banyak masalah negara. Kalau pak Prabowo saja tidak mampu menyelesaikan masalah aspal Buton, bagaimana mungkin pak Prabowo akan mampu menyelesaikan masalah-masalah negara yang lainnya? Oleh karena itu, mohon jangan menganggap sepele masalah aspal Buton. Karena apakah Indonesia Emas, atau Indonesia Cemas pada tahun 2045, akan sangat bergantung kepada aspal Buton.

Masalah aspal Buton sejatinya sangat mudah untuk dapat diselesaikan. Kuncinya adalah apakah pak Prabowo memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton, atau tidak? Adapun, pak Prabowo hanya memiliki 2 buah pilihan. Indonesia Emas pada tahun 2045, atau Indonesia Cemas 2045. Kalau pak Prabowo lebih memilih Indonesia Emas 2045, maka pak Prabowo harus memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan asal Buton. Dan sebaliknya, apabila pak Prabowo tidak memiliki kemauan politik untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton, maka sorry ye... Selamat datang Indonesia Cemas 2045.

  

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler