Semangat Hijrah di Tahun Baru Hijriah

Senin, 8 Juli 2024 14:51 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tahun Baru Hijriah selayaknya membawa semangat baru menuju yang lebih baik. Karena, di antara makna Hijrah adalah meninggalkan yang tidak baik menuju yang lebih baik.

Abu Musa al-Asy’ari tiba-tiba masygul dengan surat-surat yang dikirim Khalifah Umar bin al-Khatab kepadanya. Gubernur Basrah ini “galau” karena surat-surat yang ditulis Amirul Mukminin itu tidak disertai tanggal yang jelas sehingga menyulitkan pengarsipan.

Pada waktu itu, umat Islam belum memiliki kalender seperti yang kita kenal. Mereka masih menggunakan sistem penanggalan Arab sebelum Islam, yaitu dengan menuliskan tanggal dan bulan, tanpa menyebut angka tahun.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Setiap kejadian ditandai dengan peristiwa yang menyertainya. Kelahiran Nabi Muhammad, misalnya, disebut terjadi pada Tahun Gajah (570 M) karena pada waktu itu ada tentara gajah di bawah pimpinan Abrahah, seorang panglima dari Negeri Yaman, yang datang menuju Makkah untuk menghancurkan Ka’bah.

Ketidakjelasan penanggalan ini menyulitkan Abu Musa dalam mengelola surat-menyurat dan administrasi pemerintahan. Karena itu, ia menulis surat balasan kepada Khalifah untuk melaporkan masalah yang dihadapi untuk mendapatkan solusi.

Berangkat dari keluhan Abu Musa Al-Asy’ari, muncul gagasan Khalifah Umar bin al-Khattab untuk membuat kalender baru bagi umat Islam untuk mempermudah administrasi pemerintahan dan membantu masyarakat dalam menandai peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Beberapa tokoh kemudian diundang Khalifah Umar. Di antara mereka ada Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Waqqas, dan Thalhan bin Ubaidillah. Mereka dimintai perdapat mengenai rencana penanggalan yang akan ditetapkan.

Ada dua perkara yang muncul dalam pembahasan tersebut. Pertama, peristiwa yang akan dijadikan awal hitungan kalender; dan kedua, urutan dan nama-nama bulan yang akan dipakai dalam kalender tersebut.

Terkait masalah pertama, sejumlah usulan disampaikan. Ada yang mengusulkan kelahiran Nabi Muhammad sebagai patokan awal kalender ini, ada pula yang menginginkan tahun diangkatnya Nabi Muhammad sebagai Rasul, ada pula yang mengusulkan tahun hijrahnya Nabi Muhammad dan kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah. Yang terakhir ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib.

Khalifah Umar akhirnya memilih usulan Ali bin Abi Thalib dan menetapkan peristiwa Hijrah sebagai acuan perhitungan penggalan ini. Karena itu, penanggalan ini kemudian lazim disebut Kalender Hijriah, dinisbatkan pada kata “hijrah” yang berarti perpindahan.

Dipilihnya Hijrah sebagai patokan awal karena peristiwa ini merupakan tonggak penting dalam sejarah Islam. Ia melambangkan kebangkitan setelah sebelumnya umat Islam mengalami masa-masa kesulitan. “Hijrah adalah peristiwa yang membedakan antara yang haq dan yang batil,” kata Umar.

Terkait masalah kedua, ada yang mengusulkan Rajab sebagai bulan pertama dalam kalender ini. Alasannya karena ia merupakan bulan mulia dalam adat masyarakat Arab. Ada lagi yang mengajukan Ramadhan karena ia adalah bulan suci umat Islam. Ada pula yang mengusulkan Zulhijah karena ia bulan haji.

Namun, Khalifah Umar akhirnya memilih pendapat Utsman bin Affan yang mengusulkan Muharram sebagai bulan pertama. Alasannya, Muharram telah menjadi bulan pertama dalam urutan bulan di kalender Arab sebelumnya. Maka, untuk kemudahan, diusulkan untuk menggunakan urutan yang sama.

Begitu pula terkait nama-nama bulan, tetap menggunakan nama-nama yang telah berlaku di masyarakat Arab sebelumnya. Karena, Nabi Muhammad telah menggunakan nama-nama tersebut dalam menjelaskan beberapa istilah dalam Al-Quran seperti bulan-bulan haram (mulia), bulan-bulan Haji, puasa Ramadan, dan sebagainya.

Penetapan Kalender Hijriah dilakukan Khalifah Umar bin al-Khattab pada tahun keempat kekhalifahannya, atau tahun 17 H (638 M). Sementera itu peristiwa Hijrah yang menjadi awal perhitungan tahun dalam kalender ini terjadi 16 tahun sebelumnya, yaitu bulan Rabiul Awal tahun 1 H, bertepatan dengan September 622 M.

Kalender Hijriah adalah kalender bulan (lunar calendar) yang perhitungannya mengikuti peredaran bulan (moon). Satu bulan (month) dalam kalender ini berusia 29 atau 30 hari, sementara setahunnya terdiri dari 12 bulan, atau sama dengan 354 atau 355 hari.

Jika dibandingkan dengan kalender Masehi yang menggunakan hitungan peredaran matahari (solar calender), Kalender Hijriah memiliki usia yang lebih pendek. Setiap tahunnya, selisih antara kedua kelender itu sekitar 11,2 hari.

Saat Kalender Hijriah ini mengawali hitungannya pada Jumat, 1 Muharram 1 H, penanggalan Masehi menunjukkan tanggal 16 Juli 622 M.

Semangat Hijrah

Kalender Hijriah menjadi warisan penting Khalifah Umar bin al-Khatab. Kalender ini menjadi ikon sekaligus syiar penting dalam agama Islam. Sejumlah ibadah dalam agama ini ditetapkan berdasarkan kalender Hijriah. Sebut saja puasa Ramadan, Idul Fitri, hari Arafah, Idul Adha, dan Haji, semuanya menggunakan hitungan kalender Hijriyah.

Selain itu, penetapan Hijrah sebagai patokan tahun dalam kalender ini juga mengandung makna yang dahsyat. Tentu bukan tanpa alasan ketika Khalifah Umar dan para sahabat yang mulia waktu itu lebih memilih peristiwa Hijrah daripada kelahiran Muhammad, atau turunnya wahyu, atau pengangkatan Muhammad sebagai Nabi, atau wafat beliau.

Seperti disebut sebelumnya, Hijrah adalah peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang menandakan perubahan dan kebangkitan. Perubahan dari kesulitan menuju kemudahan, dari ketertindasan menuju kemenangan. Hijrah juga menandakan kebangkitan menuju kejayaan dan kemajuan. Semangat inilah yang seharusnya menjadi spirit umat Islam dalam menjalani hidupnya.

Selain itu, dalam tinjauan agama, Hijrah juga memiliki dua pengertian. Pertama, hijrah fisik yang berarti berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini seperti yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad dan sahabatnya, dimana mereka berhijrah dari Makkah menuju Madinah.

Kedua, hijrah maknawi yang berarti perubahan sikap dan perilaku, dari yang buruk menuju yang baik. Hal ini sesuai yang disabdakan Rasulullah saw dalam haditsnya, “Orang Muslim adalah yang orang-orang Muslim lain terbebas dari (bencana) lidah dan tangannya. Sedangkan Muhajir (orang yang berhijrah) adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Swt.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kalau hijrah fisik mungkin bergantung pada situasi dan kondisi, tetapi hijrah maknawi selalu bisa dilakukan oleh setiap orang kapan pun dan di mana pun. Pelaksanaanya tidak terikat oleh ruang dan waktu tertentu.

Pesan moral yang dapat dipetik dari Tahun Baru Hijriah adalah bahwa setiap orang –terutama Muslim— harus selalu melakukan introspeksi, evaluasi, perbaikan diri, dan peningkatn kualitas diri untuk meraih keadaan yang lebih baik.

Dengan datangannya Tahun Baru Hijriah kali ini, semoga Allah mendatangkan keberkahan yang lebih banyak kepada kita semua. Amien.***

Lamongan, 7 Juli 2024

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Agus Salim Syukran

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler