Dampak Bagi Indonesia Jika Trump Terpilih (Lagi) sebagai Presiden AS

Rabu, 10 Juli 2024 06:16 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jika Trump terpilih kembali, Indonesia mungkin menghadapi lingkungan perdagangan yang lebih proteksionis, dengan potensi peningkatan tarif dan hambatan perdagangan lainnya. Trump telah menunjukkan kecenderungan untuk menggunakan tarif sebagai alat negosiasi, yang bisa merugikan eksportir Indonesia.

Pemilihan presiden AS yang akan datang pada 3 November tidak hanya akan berdampak signifikan pada rakyat Amerika, tetapi juga pada kawasan Asia. Hasil pemilihan ini akan membentuk masa depan hubungan AS-Asia, perdagangan, dan keamanan. Asia memainkan peran penting dalam ekonomi AS, dengan lebih dari 40% perdagangan dan jasa Amerika dilakukan di kawasan ini. Perdagangan ini mendukung lebih dari empat juta pekerjaan di AS.

Selain itu, AS telah berinvestasi besar-besaran di Asia, dengan investasi langsung asing melebihi total investasi di Jepang, China, dan Korea Selatan. Dalam konteks ini, pentingnya Asia bagi ekonomi AS sangat terlihat, terutama mengingat bahwa sembilan dari sepuluh pelabuhan tersibuk di dunia berada di Asia dan lebih dari 50% perdagangan global melewati jalur maritim Asia.

Hubungan perdagangan AS-Asia juga sangat penting bagi negara-negara di kawasan ini. Indonesia, misalnya, adalah mitra dagang terbesar AS di Asia Tenggara, dengan nilai perdagangan mencapai $27,1 miliar pada tahun 2019. Meskipun ada penurunan 5% dalam nilai perdagangan dibandingkan tahun sebelumnya, tren jangka panjang menunjukkan peningkatan perdagangan. Ini menegaskan pentingnya hubungan perdagangan yang stabil dan berkembang antara AS dan negara-negara Asia.

Namun, potensi konflik di Asia tidak bisa diabaikan, terutama di Laut Cina Selatan. Kawasan ini merupakan rumah bagi lima negara bersenjata nuklir: India, Pakistan, Rusia, Korea Utara, dan China. Hal ini menjadikan kawasan tersebut sebagai titik panas untuk potensi konflik yang dapat mempengaruhi stabilitas regional dan global.

Jika Trump memenangkan masa jabatan kedua, diprediksi ia akan melanjutkan kebijakan "America First"-nya, yang memprioritaskan kepentingan dan keamanan Amerika. Kebijakan ini kemungkinan akan mempertahankan sikap keras terhadap China dan lebih fokus pada kepentingan nasional Amerika daripada kerjasama internasional. Sebaliknya, jika Biden menang, ia kemungkinan akan mengadopsi pendekatan yang lebih multilateral, dengan fokus pada membangun kembali aliansi dan mempromosikan kerjasama internasional. Ini bisa berarti pendekatan yang lebih kolaboratif dalam menghadapi isu-isu regional dan global, serta upaya untuk memperkuat perjanjian perdagangan dan keamanan di kawasan Asia.

Secara keseluruhan, hasil pemilihan presiden AS akan memiliki konsekuensi yang luas bagi Asia. Presiden AS berikutnya akan membentuk masa depan hubungan AS-Asia, perdagangan, dan keamanan. Tantangan bagi Biden, jika terpilih, termasuk memulihkan nilai-nilai Amerika, mempromosikan dunia yang menguntungkan Amerika, mengembangkan ekonomi global, dan menjadi polisi global yang memastikan keamanan Amerika.

Analisa Intelijen

Dalam analisa intelijen, penting untuk mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemilihan dan dampaknya terhadap hubungan AS-Asia. Intelijen menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri AS di bawah Trump dan Biden akan sangat berbeda. Trump cenderung mempertahankan pendekatan unilateralisme, yang dapat menyebabkan ketegangan lebih lanjut dengan China. Sementara itu, Biden kemungkinan besar akan mengembalikan pendekatan multilateral yang lebih tradisional, bekerja sama dengan sekutu-sekutu AS di Asia untuk menangani isu-isu seperti perdagangan, keamanan, dan perubahan iklim.

Dari perspektif intelijen, jika Trump terpilih kembali, kita dapat mengharapkan peningkatan ketegangan di Laut Cina Selatan, karena kebijakan "America First" dapat memprovokasi respons keras dari China. Hal ini bisa menyebabkan perlombaan senjata di kawasan tersebut dan meningkatkan risiko konflik militer. Di sisi lain, kemenangan Biden dapat mengarah pada stabilisasi hubungan AS-China, meskipun dengan tetap mempertahankan tekanan pada isu-isu hak asasi manusia dan praktik perdagangan tidak adil oleh China.

Intelijen juga menyoroti bahwa hasil pemilihan ini akan berdampak signifikan pada aliansi keamanan di Asia, seperti Perjanjian Pertahanan Timur Laut Asia dan kerjasama trilateral AS-Jepang-Korea Selatan. Di bawah Trump, ada kemungkinan bahwa AS akan terus meminta sekutu-sekutu di Asia untuk meningkatkan kontribusi finansial mereka untuk kehadiran militer AS di kawasan tersebut. Sementara itu, Biden diperkirakan akan memperkuat aliansi ini melalui kerjasama yang lebih erat dan berbagi beban yang lebih adil.

Dampak terhadap Indonesia

Bagi Indonesia, hasil pemilihan presiden AS akan berdampak besar pada kebijakan luar negeri dan ekonomi. Jika Trump terpilih kembali, Indonesia mungkin menghadapi lingkungan perdagangan yang lebih proteksionis, dengan potensi peningkatan tarif dan hambatan perdagangan lainnya. Trump telah menunjukkan kecenderungan untuk menggunakan tarif sebagai alat negosiasi, yang bisa merugikan eksportir Indonesia.

Selain itu, kebijakan lingkungan Biden yang lebih ketat dapat berdampak pada ekspor Indonesia, terutama komoditas seperti minyak sawit dan batu bara. Biden diperkirakan akan mendorong kebijakan energi bersih dan pengurangan emisi karbon, yang dapat mengurangi permintaan AS untuk bahan bakar fosil. Namun, ini juga bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat transisi ke ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Di bidang keamanan, Indonesia bisa mendapat manfaat dari pendekatan multilateral Biden. Keterlibatan AS yang lebih besar dalam ASEAN dan forum-forum keamanan regional lainnya dapat membantu menjaga stabilitas di Laut Cina Selatan dan mempromosikan penyelesaian sengketa secara damai. Ini penting bagi Indonesia yang memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas dan keamanan maritim di kawasan tersebut.

Secara keseluruhan, pemilihan presiden AS pada tahun 2024 akan memiliki dampak yang luas dan mendalam bagi Asia dan Indonesia. Apapun hasilnya, Indonesia harus siap untuk menavigasi perubahan kebijakan luar negeri AS dan memanfaatkan peluang yang muncul untuk kepentingan nasionalnya.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler