Menambang atau tidak Menambang

Senin, 8 Juli 2024 14:40 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Urgensi hari-hari ini adalah menghindari kerusakan lingkungan yang lebih parah. Karenanya, daya dukung planet bagi kehidupan manusia dan keberadaan alam yang sudah terlampaui harus jadi alasan untuk mengerem kegiatan pertambangan.

Satu aspek yang juga perlu diangkat, supaya gamblang urgensi situasinya, terkait dengan isu pemberian konsesi pertambangan batu bara kepada organisasi masyarakat keagamaan adalah dampak kegiatan ekstraksi dan eksploitasi itu, serta penggunaan hasilnya, terhadap lingkungan. Kajian yang ada sejauh ini, secara mayoritas, memastikan dampaknya bersifat merusak. Sains tidak meragukannya.

Dalam hal itu, karenanya, ada satu hal yang imperatif harus jadi pertimbangan menyangkut keputusan apa pun perihal pertambangan batu bara; juga, sebetulnya, pertambangan sumber energi nonrenewable lainnya. Satu hal ini adalah konsep batas daya dukung planet (planetary boundaries). Ibarat mistar pengukur pembenarannya, satu hal ini saja sebetulnya sudah cukup, jika akal berfungsi dengan sebenar-benarnya, karena “mistar” lain bisa “mulur-mungkret” tergantung sudut pandang atau kepentingan yang bisa sangat sempit.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Konsep batasan planet dikembangkan berdasarkan usul Johan Rockström, (kala itu) Direktur Stockholm Resilience Centre, bersama 28 ilmuwan terkemuka. Konsep ini memaparkan sembilan batas ekologis planet yang di dalamnya manusia dapat terus berkembang dan maju hingga generasi-generasi mendatang. Batas-batas itu adalah perubahan air tawar, perubahan sistem lahan, integritas biosfer, perubahan iklim, penipisan ozon di stratosfer, pembebanan aerosol di atmosfer, pengasaman samudera, aliran biogeokimia, dan entitas baru (dalam konteks geologis).

Batas-batas ekologis planet bumi.

Setelah beberapa revisi yang dilakukan sesudahnya, pada september 2023, 14 tahun setelah diusulkan, satu tim ilmuwan bekerja untuk mengkuantifikasi kesembilan proses yang mengatur kestabilan dan resiliensi sistem bumi itu. Berdasarkan penghitungan dan pembaruan mutakhir ini, dari sembilan batas tersebut, enam di antaranya, termasuk perubahan iklim, telah terlampaui (overshoot). Dan tekanan pun bertambah besar terhadap semua batas, kecuali penipisan ozon. Hal ini meningkatkan risiko perubahan lingkungan mendadak atau yang tak dapat diperbaiki dalam skala besar.

Perubahan drastis memang tidak akan terjadi semalam. Tapi batas-batas itu secara bersama-sama menjadi penanda ambang kritis mengenai risiko yang semakin membesar bagi kehidupan manusia dan kelangsungan ekosistem yang di dalamnya manusia menjadi bagian. Risiko yang kian besar itu, terkait dengan perubahan iklim, yang di antara penyebabnya adalah emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil yang nonrenewable, tak bisa dibantah lagi; berbagai perjanjian global telah dibuat untuk menanggulanginya hanya dalam tempo beberapa dasawarsa ke depan.

Jadi, sebetulnya, kita, manusia, sedang menjalani hidup dengan “napas” bumi yang semakin megap-megap. Situasi ini timbul akibat ulah manusia juga, yang terus mengejar pertumbuhan dengan pola konsumsi “ambil-bikin-buang”, yang merusak anugerah bumi yang lestari. Praktik “ekonomi koboi”, demikianlah kalau kita meminjam istilah Kenneth E. Boulding, ekonom, filsuf antardisiplin, dan aktivis perdamaian yang sejak 1966 (dia meninggal pada 1993) giat mengkaji hubungan antara pertumbuhan ekonomi serta pembangunan dan degradasi lingkungan.

Apakah ekspos mengenai situasi dari batas-batas kemampuan bumi untuk mendukung kehidupan manusia itu bersifat alarmist, berlebihan, atau sebuah fearmongering, upaya menakut-nakuti? Sama sekali bukan. Ia hanyalah pemaparan fakta sains, yang harapannya adalah manusia, di mana pun, termasuk di negeri yang dalam nada sarkasme disebut Konoha ini, menjadikannya alasan untuk dengan segera bertindak tegas, mengerem perusakan yang dilakukannya terhadap bumi.

Kegiatan pertambangan, secara khusus ekstraksi sumber energi nonrenewable--minyak dan gas alam serta batu bara--termasuk di dalamnya. Itu kalau “kiamat” bumi mau dihindarkan.

Tentu saja, lalu akan ada pertanyaan: kalau harus mengerem pola konsumsi, dan karenanya juga produksi, yang selama ini didasari anggapan bahwa sumber daya alam ada tanpa batas, demi menghindari perusakan, bagaimana pembangunan bisa dilanjutkan?

Pembangunan tetap perlu, pastinya. Tapi pembangunan yang bagaimana? Apa yang mau dicapai? Dan apa ukurannya?

Selama ini, dalam sudut pandang ilmu ekonomi, tujuan pembangunan adalah seperti yang dicapai negara-negara maju. Ukuran pembangunan, karenanya, ya, seberapa “maju” kegiatan ekonomi, yang “mistar” pengukurnya adalah uang. Produksi, pendapatan, konsumsi, investasi, pertumbuhan, semua dikalkulasi dalam nilai uang. Bagi semakin banyak kalangan, hal ini merupakan sumber masalah karena cenderung mengabaikan hal-hal lain yang bersifat kualitatif yang justru merupakan indikator penting yang menyangkut kemajuan di bidang sosial.

Kate Raworth, umpamanya. Ekonom di Environmental Change Institute University of Oxford ini mengusulkan untuk mengubah sepenuhnya fokus ekonomi terhadap uang. Dia melihat, pada dasarnya, yang paling dibutuhkan manusia adalah well-being, kesejahteraan. Alih-alih berarti kaya materi, kondisi ini justru merepresentasikan suasana hati yang positif, puas dengan keadaan hidup karena semua aspek kebutuhan hidup paling dasar terpenuhi. Ini berbeda dengan welfare, yang melulu berfokus pada “kesejahteraan” menurut aspek-aspek ekonomi.

Memanfaatkan ilustrasi planetary boundaries, yakni gambar bumi yang lingkaran luarnya dikelilingi sembilan proses yang mengatur kestabilan dan resiliensi sistem bumi, Raworth menambahkan lingkaran di bagian dalam. Lingkaran ini dia bayangkan merepresentasikan tujuan-tujuan global dalam Sustainable Development Goals, kebutuhan-kebutuhan dasar, yang harus direalisasikan agar tidak ada satu individu pun yang tertinggal. Dia menyebutnya batas sosial (social boundaries).

Ekonomi donat.

Maka, diimajinasikan sebagai donat, dua lingkaran tersebut tampak mengapit ruang yang, menurut Raworth, merupakan area “yang memungkinkan kemanusiaan berkembang dan maju” tanpa membahayakan lingkungan dan kehilangan keadilan sosial.

Demi memastikan ruang itu dapat dipertahankan keberlanjutannya, hal ini bisa juga dijadikan konsiderasi: gagasan tentang lingkungan alam sebagai sesama makhluk di bumi yang setara dengan manusia. Dengan kata lain, landasan antroposentrisme--manusia sebagai entitas sentral atau yang terpenting--yang mendominasi pemikiran terkait dengan relasi antara manusia dan alam perlu ditanggalkan.

Misalnya pendapat Prof. Christopher Stone dalam “Should Trees Have Standing? Toward Legal Rights for Natural Objects” (1972). Tanpa secara gamblang menyebutnya sebagai sesama makhluk hidup, pengajar di University of Southern California Gould School of Law ini berargumen hutan, samudera, sungai, dan apa pun yang disebut “obyek alam” dalam lingkungan hidup juga patut memiliki kedudukan hukum--sebuah hak hukum fundamental. Pernyataan ini, bagaimanapun, mengandung pengakuan bahwa alam bukanlah properti atau material belaka, yang kepadanya manusia bisa memberi perlakuan seenak jidatnya. Alam punya kepribadian.

Melalui artikel tinjauan hukum tersebut, Prof. Stone menjadi figur penting yang pemikirannya mempengaruhi dan terus mengilhami gerakan perlindungan terhadap lingkungan.

Raworth, Prof. Stone, dan siapa saja yang memiliki keprihatinan terhadap perlakuan manusia selama ini kepada lingkungan, terhadap bumi dan segala isinya, kita mestinya mengambil teladan berikut ini. Menggali ide baru (reimagining) tentang bagaimana seharusnya kegiatan ekonomi dilakukan serta alternatif cara (remaking) mewujudkan masa depan adalah keniscayaan. Situasinya memang mengharuskan. Mati-matian mengejar level pembangunan seperti yang dicapai negara-negara maju, termasuk dengan terus-menerus mengeruk isi bumi dengan kegiatan pertambangan, hanya akan memperparah dampak buruknya terhadap lingkungan, terhadap planet tempat manusia menggantungkan hidup.

Bagikan Artikel Ini
img-content
purwanto setiadi

...wartawan, penggemar musik, dan pengguna sepeda yang telah ke sana kemari tapi belum ke semua tempat.

0 Pengikut

img-content

Menambang atau tidak Menambang

Senin, 8 Juli 2024 14:40 WIB
img-content

Obrolan dari Kuta ke Bandara

Selasa, 4 Juni 2024 14:40 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua