Hijrah, Menggapai Kesempurnaan Melalui Langkah Kecil

Selasa, 9 Juli 2024 15:08 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kita mulai dari sini, tidak ada manusia yang sempurna. Berbuat kesalahan, khilaf, dan dosa adalah keniscayaan yang pasti pernah dilakukan oleh setiap orang.

Tulisan pertama di awal tahun Hijriyah ini merupakan langkah kembali setelah beberapa bulan tersendat oleh kesibukan yang melelahkan. Selama ini, banyak hal yang ingin diceritakan, banyak cerita yang ingin dituliskan, namun waktu tersita oleh kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan. Maka, kali ini, tulisan ini tidak akan membahas hal-hal yang terlalu berat. Ini hanyalah sekelumit cerita yang dipersingkat melalui kata-kata.

Selamat Tahun Baru Islam 1446 H. Ini adalah momentum emas untuk muhasabah terhadap ketidaksempurnaan diri, mengatur rencana dan strategi dakwah, membuat daftar kegiatan positif, serta menyusun daftar kebaikan yang hendak dilakukan selama satu tahun ke depan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kita mulai dari sini, tidak ada manusia yang sempurna. Berbuat kesalahan, khilaf, dan dosa adalah keniscayaan yang pasti pernah dilakukan oleh setiap orang. Konsekuensinya, ketidaksempurnaan manusia ini sering kali mendapatkan respon yang berbeda-beda dari orang lain. Ada banyak orang yang menghakimi kesalahan orang lain, mengumbar aib orang lain, serta gemar mencaci dosa orang lain, namun mereka terlupa dengan kesalahan, aib, dan dosa mereka sendiri. Ini juga merupakan suatu keniscayaan.

Namun, perlu diingat, menjadi manusia yang sempurna bukanlah tujuan yang mungkin kita raih. Namun, berusaha menuju kesempurnaan adalah suatu keharusan. Ini berarti kita harus aktif berusaha untuk memperbaiki diri, mengatasi kesalahan, khilaf, dan dosa yang mungkin kita lakukan. Hijrah untuk keluar dari lingkaran kesalahan dan tidak terus berkubang di tempat yang sama membutuhkan strategi khusus. Strategi ini dapat mencakup Ma'rifatul Haq, Taubat dan komitmen atau istiqomah.

Ma'rifatul Haq: Mengetahui yang Benar dan Lebih Baik

Proses belajar dan dialog seorang guru sangat penting. Tanpa mengetahui mana yang haq dan yang bathil, tidak akan terjadi sedikitpun perubahan. Orang yang tidak mempelajari dan memahami hakikat kebenaran akan mudah memonopoli kebenaran dan tidak mau menerima kebenaran dari orang lain. Dalam keadaan ini, dialog menjadi kunci utama untuk membuka wawasan dan memperluas pemahaman. Tanpa dialog, kita hanya akan terperangkap dalam pandangan kita sendiri yang sempit dan terbatas.

Bila semua orang memahami hakikat kebenaran dan menyadari kekurangan, kekhilafan, serta kesalahan mereka, dengan sendirinya mereka akan mau membuka diri dan menerima saran serta nasihat dari orang lain. Ini akan menghindarkan mereka dari penafsiran kebenaran secara sempit. Kesadaran akan keterbatasan diri mendorong kita untuk lebih menghargai perspektif orang lain dan menjadikan proses belajar sebagai jalan menuju kebenaran yang sejati. Dengan demikian, proses belajar dan dialog tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga mempererat hubungan antarmanusia dengan saling menghargai dan memahami.

Taubat: Mengakui dan Meninggalkan Dosa

Setelah mengetahui kebenaran, langkah selanjutnya adalah bertaubat dari segala dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan. Taubat merupakan pintu awal bagi perubahan diri yang lebih baik. Dalam taubat, kita mengakui dengan tulus segala kelemahan dan kesalahan yang telah kita lakukan, serta memiliki tekad kuat untuk tidak mengulanginya di masa depan.

Taubat bukan sekadar penyesalan yang kosong, melainkan suatu proses aktif yang melibatkan hati nurani yang bersih dan niat yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri. Ini melibatkan pengakuan kepada Allah atas kesalahan kita, penyesalan yang mendalam, dan komitmen untuk melakukan perubahan positif dalam perilaku dan sikap hidup kita.

Dengan melakukan taubat yang tulus, kita membuka jalan untuk menerima ampunan Allah dan untuk menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan-Nya. Hal ini juga merupakan langkah awal dalam membangun kehidupan yang lebih baik, berdasarkan nilai-nilai moral dan spiritual yang kokoh.

Komitmen dan Istiqomah: Berpegang Teguh pada Kebaikan

Komitmen dan istiqomah dalam kebaikan hingga akhir hayat adalah langkah yang tidak boleh diabaikan. Tidak ada keberhasilan tanpa usaha yang berkesinambungan. Menjadi baik, meski terkadang membuat kita merasa sendiri dan terasingkan, tidaklah mudah. Namun, di situlah ujian sebenarnya; di saat kita merasa sendiri, kita harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip kebaikan yang telah kita yakini. Proses ini memang sulit dan seringkali membuat kita merasa terasing, tetapi itulah bagian dari perjalanan menuju kebaikan yang sesungguhnya.

Allah selalu memberikan kekuatan, meskipun kita merasa sendirian. Kekuatan yang datang dari Allah mampu melampaui semangat yang diucapkan oleh jutaan manusia sekalipun. Ketika kita merasa lemah dan tidak mampu melanjutkan, ingatlah bahwa Allah selalu bersama kita, memberikan dukungan yang tak terhingga. Dengan keyakinan dan doa yang tulus, kita akan mampu melewati setiap tantangan yang menghadang. Komitmen yang kuat dan istiqomah dalam kebaikan adalah kunci utama untuk meraih keberhasilan sejati dalam hidup ini.

Hijrah adalah perjalanan panjang menuju perbaikan diri. Memulai tahun baru Hijriyah ini dengan muhasabah dan strategi perbaikan adalah langkah awal yang baik. Semoga kita semua diberi kekuatan dan istiqomah dalam menjalani setiap langkah menuju kebaikan. Selamat Tahun Baru Islam 1446 H, mari kita manfaatkan momentum ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih dekat dengan Allah.#

Wahyu Kurniawan

Bagikan Artikel Ini
img-content
Wahyu Kurniawan

Penulis

0 Pengikut

img-content

Perjalanan Seorang Muttaalim

Senin, 8 Juli 2024 14:47 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua