Orang yang Kufur atas Kebenaran Telah Diwahyukan Allah SWT

Selasa, 9 Juli 2024 15:11 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Selain itu, mereka yang menolak keyakinan sering kali menentang mereka yang menganutnya. Mereka menantang dan berusaha melemahkan keimanan orang-orang yang mengikuti Allah.

Orang yang mengetahui ayat-ayat dan larangan Allah tetapi berpura-pura tidak mengetahuinya atau mengabaikan kebenaran disebut sebagai "mengingkari" atau "kufur" dalam Islam. Tindakan ini sangat dilarang dalam ajaran Islam karena orang tersebut telah diberi pengetahuan tetapi memilih untuk tidak mengikutinya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an tentang orang-orang yang mengingkari kebenaran setelah mengetahuinya.

Orang yang berpura-pura tidak mengetahui ayat-ayat dan larangan-larangan Allah padahal sebenarnya mereka mengetahuinya, maka ia dianggap melakukan perbuatan kufur. Dalam konteks ini, kufur berarti menolak atau mengingkari kebenaran yang Allah sampaikan melalui wahyu-Nya. Al-Quran mencantumkan sejumlah ciri-ciri yang dimiliki oleh mereka yang menolak kebenaran Islam atau kufur. Mereka cenderung mengabaikan bukti dan indikasi kebenaran yang telah Allah berikan, baik melalui wahyu maupun alam semesta.

Mereka yang tidak beriman sering kali bersikap keras kepala dan sombong, menolak kebenaran bahkan ketika dihadapkan pada banyak bukti. Mereka berusaha menghalangi orang lain untuk mengikuti jalan kebenaran dan menolak nasehat para nabi dan rasul. Mereka bertindak seperti ini karena mereka lebih menghargai tujuan dan kesenangan materialistis daripada moralitas dan keamanan abadi.

Selain itu, mereka yang menolak keyakinan sering kali menentang mereka yang menganutnya. Mereka menantang dan berusaha melemahkan keimanan orang-orang yang mengikuti Allah. Dalam Al-Qur'an, mereka dicirikan sebagai orang-orang yang menggunakan kata-kata mereka untuk mencoba memadamkan cahaya Allah, yakni dengan membuat pernyataan palsu dan meremehkan Islam. Namun Tuhan telah mengatakan bahwa kebenaran akan menang dan terang-Nya akan bersinar selamanya. Antipati ini meluas ke para penganut agama-agama tersebut dan juga keyakinan mereka. Orang-orang kafir sering kali menganiaya orang-orang beriman secara fisik dan psikologis dengan berbagai cara.

Pada Q.S Al-Isra ayat 97-98, Allah befirman: Dan barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa Dia sesatkan, maka engkau tidak akanmendapat penolong-penolong bagi mereka selain Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam.

Setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka. Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata, "Apabila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?" Kedua ayat tersebut menggambarkan kekuasaan Allah dalam memberi petunjuk dan menyesatkan makhluknya. Pada hari kiamat, orang-orang yang durhaka kepada Allah akan dikumpulkan dengan cara yang paling tidak manusiawi, wajah mereka bungkuk, buta, bisu, dan tuli, dan mereka akan menderita siksaan yang tak henti-hentinya di neraka.

Siksaan adalah hukuman bagi orang-orang yang mengingkari firman Allah dan mempertanyakan akhirat. Orang-orang yang tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan kembali setelah menjadi tulang belulang, maka mereka akan menerima hukuman yang setimpal atas ketidakpercayaan dan keangkuhan mereka.

Allah juga berfirman dalam Q.S Thaahaa ayat 124-126: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat? Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan."

Ayat tersebut menjelaskan bahwa seseorang yang tidak menaati peringatan Allah, yaitu tidak mengindahkan petunjuk dan bimbingan-Nya, akan menjalani kehidupan terbatas yang penuh dengan kesulitan di dunia maupun akhirat. Allah akan menjawabnya karena dia mengabaikan ayat-ayat-Nya selama di dunia ketika dia bertanya mengapa dia dibangkitkan dalam keadaan buta padahal sebelumnya dia bisa melihat. Dengan demikian, pada hari kiamat, dia akan dilupakan dan diabaikan, sebagaimana dia mengabaikan peringatan Allah. Ayat-ayat ini menekankan perlunya menaati perintah Allah dan memperingatkan dampak jika melakukan hal yang sebaliknya.

Selain itu, mereka yang menolak keyakinan sering kali menentang mereka yang menganutnya. Mereka menantang dan berusaha melemahkan keimanan orang-orang yang mengikuti Allah. Dalam Al-Qur'an, mereka dicirikan sebagai orang-orang yang menggunakan kata-kata mereka untuk mencoba memadamkan cahaya Allah, yakni dengan membuat pernyataan palsu dan meremehkan Islam. Namun Tuhan telah mengatakan bahwa kebenaran akan menang dan terang-Nya akan bersinar selamanya. Antipati ini meluas ke para penganut agama-agama tersebut dan juga keyakinan mereka.

Orang-orang kafir sering kali menganiaya orang-orang beriman secara fisik dan psikologis dengan berbagai cara. Sejatinya, pengetahuan serta ilmu mengenai kebenaran yang disampaikan oleh Allah yang kita miliki harus dipertanggungjawabkan. Apakah ilmu mengenai kebenaran atas ayat-ayat Allah tersebut memang kita amalkan dalam kehidupan sehri-hari dalam niat yang lurus atau tidak. Sebab, Allah akan sangat murka apabila kita tidak melakukan sebuah kebenaran.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Aniq Latifah

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua