Swasembada Aspal, Kemandirian Indonesia Merdeka dan Berdaulat

Kamis, 11 Juli 2024 07:05 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mohon dalam upacara memperingati hari kemerdekaan RI diumumkan produk-produk dan jasa-jasa yang selama ini Indonesia sudah mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ini sebagai bukti dan tonggak pencapaian pemerintah: Apakah Indonesia semakin dekat ke tujuan kemerdekaan, atau menjauh?

Membuka web setneg.go.id, akan muncul tulisan: Tema Logo, dan Panduan Identitas Visual Hari Ulang Tahun ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2024. Tampak ada logo angka 79 yang dibawahnya tertulis: Nusantara Baru, Indonesia Maju”.

Membaca slogan: “Nusantara Baru, Indonesia Baru”, pikiran kita secara otomatis akan tertuju kepada Ibu Kota Nusantara (IKN). Rencananya pak Jokowi dan pak Prabowo akan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 di IKN. Persiapan-persiapan sedang dilakukan dengan sebaik mungkin untuk memperingati hari kemerdekaan yang mengusung slogan: “Nusantara Baru, Indonesia Maju”.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apakah yang dimaksud dengan kata “Nusantara” adalah IKN?. Apakah IKN menunjukkan simbol Indonesia Maju? Bagaimana cara kita memahami slogan: “Nusantara Baru, Indonesia Maju”, apabila kita kaitkan slogan tersebut dengan masalah aspal Buton yang sampai saat ini masih belum mampu dimanfaatkan dan diolah untuk mensubstitusi aspal impor? Adapun kita harus ingat, bahwa sampai saat ini, sejatinya Indonesia sudah 79 tahun merdeka.

Sebenarnya slogan: “Nusantara Baru, Indonesia Maju”, sebagai pembangkit semangat bangsa dan negara dalam memperingati hari kemerdekaan RI ke-79, boleh-boleh dan sah-sah saja. Tidak ada masalah. Tetapi yang menjadi masalah adalah kalau ada sesuatu yang “baru”, maka pasti ada yang “lama”. Nusantara lama adalah masalah aspal Buton yang sudah 79 tahun Indonesia merdeka, tetapi mirisnya, pemerintah masih belum mampu berswasembada aspal. Bagaimana mungkin Indonesia bisa maju, kalau berswasembada aspal saja, Indonesia masih belum mampu?.

Mungkin pertanyaan ini adalah sebagai tantangan bagi pemerintah, bahwa sejatinya ada satu masalah bangsa yang sampai saat ini masih belum mampu pemerintah sendiri tuntaskan, yaitu mengenai masalah aspal Buton. Sehebat apapun prestasi dan pencapaian anak bangsa yang sangat dibangga-banggakan oleh pemerintah sebagai sebuah Maha Karya Indonesia, tetapi kelihatannya masih belum patut untuk bisa dibangga-banggakan. Adapun penyebabnya adakah karena masih ada masalah mengenai aspal Buton yang telah luput dari perhatian pemerintah.

Ingat, Indonesia sudah 79 tahun merdeka. Mengapa Indonesia masih belum mampu berswasembada aspal?. Ini adalah sebuah pertanyaan yang akan selalu menjadi sebuah pertanyaan abadi. Dan akan ditanyakan kembali pada setiap kali Indonesia memperingati hari kemerdekaannya.

Kalau pak Jokowi dan pak Prabowo akan memperingati hari kemerdekaan RI ke-79 di IKN, maka pertanyaan rakyat Buton adalah kapan akan ada seorang presiden RI yang mau memperingati hari kemerdekaan di Pulau Buton? Slogan yang akan diusung nanti adalah: “Swasembada Aspal, Kemandirian Indonesia Merdeka dan Berdaulat”. Kata “aspal” bisa diganti dengan kata-kata lain, seperti: “Swasembada Pangan, Kemandirian Indonesia Merdeka dan Berdaulat”. Atau,  “Swasembada Energi, Kemandirian Indonesia Merdeka dan Berdaulat”, dll.

Kira-kira, slogan mana yang akan lebih berdaya dahsyat untuk membangkitkan semangat dan asa bagi rakyat Indonesia? Mungkin yang harus kita ingat adalah: “Tidak ada Kemerdekaan tanpa Perjuangan. Dan tidak ada Perjuangan tanpa Pengorbanan”. Adapun sejatinya dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI, kita harus memperingati berapa besar makna “perjuangan dan pengorbanan” dari para pahlawan kemerdekaan sebelum tanggal 17 Agustus 1945. Dan pahlawan pembangunan setelah tanggal 17 Agustus 1945.

Dalam memperingati hari kemerdekaan pada setiap tanggal 17 Agustus, seharusnya rakyat Indonesia memperingatinya dengan menunjukkan bukti-bukti konkrit, bahwa pemerintah Indonesia telah berjuang dan bekorban terus untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan; yaitu, negara Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.

Apakah dengan membangun IKN itu artinya tujuan kemerdekaan: “Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera”, sudah akan semakin mendekat? Dan di sisi lain, apakah dengan mewujudkan Indonesia berswasembada aspal artinya tujuan kemerdekaan: “Indonesia adil, makmur, dan sejahtera” sudah akan semakin mendekat? Pernyataan mana yang benar?

Indonesia berswasembada aspal adalah Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Indonesia yang berani berjuang untuk mengusir penjajahan aspal impor dari bumi ibu pertiwi. Ini adalah bentuk bukti semangat perjuangan dan pengorbanan yang telah diwariskan oleh para pahlawan kemerdekaan kepada kita sebagai pahlawan pembangunan. Sekali lagi, kita harus yakin, bahwa tidak akan ada kemenangan atau kemerdekaan tanpa perjuangan dan pengorbanan. Oleh karena itu kita harus terus berjuang dan berkorban sampai cita-cita kemerdekaan Indonesia tercapai.

Aspal Buton hanya merupakan salah satu contoh sumber daya alam Indonesia yang selama ini tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Mirisnya, pemerintah lebih memilih kebijakan untuk impor aspal, daripada mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton yang jumlah depositnya terbesar di dunia. Indonesia berswasembada aspal merupakan sebuah upaya perjuangan dan pengorbanan melawan penjajahan aspal impor. Oleh karena itu, rasanya sekarang ini Indonesia masih belum merdeka. Mengapa?. Karena aspal Buton masih dijajah oleh aspal impor. Dan Indonesia juga masih belum berdaulat. Karena aspal Buton masih belum menjadi Tuan Rumah di negerinya sendiri.

Mari kita renungkan bersama-sama, kapankah slogan-slogan: “Swasembada Aspal, Kemandirian Indonesia Merdeka dan Berdaulat”. “Swasembada Pangan, Kemandirian Indonesia Merdeka dan Berdaulat”. “Swasembada Energi Kemandirian, Indonesia Merdeka dan Berdaulat”, dapat kita banggakan kepada para generasi muda penerus bangsa?. Apakah 10 tahun lagi, atau 20 tahun lagi? Atau pada saat kita sedang memperingat hari kemerdekaan yang ke-100 pada tahun 2045? Ah.., masih banyak sekali pekerjaan rumah yang harus pemerintah selesaikan untuk mampu mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Apakah mungkin Indonesia Emas akan terwujud pada 2045? Kalau kita tidak pernah mau berupaya untuk berjuang dan berkorban untuk mencapai tujuan kemerdekaan: “Negara Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera?”. Adapun, Indonesia Emas, Nusantara Baru, dan Indonesia Maju, apakah mungkin hanya akan menjadi slogan yang manis di bibir saja, yang mudah diucapkan, tetapi tidak akan pernah mampu diwujudkan?.

Adapun yang sering kita lupakan adalah bahwa untuk mencapai negara Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera, yang harus pertama-tama kali kita wujudkan adalah masalah “keadilan”. Kalau keadilan sudah dapat tercapai, maka kemakmuran dan kesejahteraan akan segera menyusul dengan sendirinya.

Aspal Buton adalah salah satu contoh konkrit, dimana telah diperlakukan secara tidak adil oleh pemerintah. Harga aspal Buton ekstraksi yang memiliki potensi bisa lebih murah daripada harga aspal impor, tetapi tidak menjadi pilihan. Sedangkan pemerintah malah justru mengimpor aspal yang harganya lebih mahal. Oleh karena itu, selama tidak ada rasa keadilan yang hakiki untuk aspal Buton, maka aspal Buton akan terus menuntut.

Seandaikan Indonesia masih bermimpi untuk mau mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045, maka Indonesia harus mampu menyelesaikan masalah-masalah pekerjaan rumahnya dahulu untuk mau mewujudkan Indonesia berswasembada aspal, Indonesia berswasembada pangan, Indonesia berswasembada energi, dll. Kalau Indonesia tidak mampu, maka yang akan terjadi adalah Indonesia Cemas 2045.

Untuk mau berswasembada yang dibutuhkan adalah perjuangan dan pengorbanan. Apakah para pemimpin bangsa kita masih ingat dengan tujuan kemerdekaan? Kalau masih ingat, mohon dalam upacara memperingati hari kemerdekaan RI pada setiap tanggal 17 Agustus, untuk mengumumkan kepada rakyat mengenai produk-produk dan jasa-jasa apa saja yang selama ini Indonesia sudah mampu memenuhi kebutuhannya sendiri di dalam negeri, alias berswasembada. Adapun indikator ini adalah sebagai bukti dan sebuah tonggak pencapai pemerintah Indonesia, apakah Indonesia sudah semakin mendekat ke arah tujuan kemerdekaan, atau justru semakin menjauh?

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua