Berbagilah Kegagalan sebagaimana Berbagi Keberhasilan - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Penjaga gawang Inggris Robert Green menyesali kegagalannya menangkap bola dengan baik, sehingga terjadi gol, dalam pertandingan Grup C melawang Amerika Serikat di stadion Royal Bafokeng, Rustenburg, Afika Selatan (12/6). REUTERS/Radu Sigheti

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Berbagilah Kegagalan sebagaimana Berbagi Keberhasilan

    Dibaca : 4.577 kali

    Cobalah sesekali bertanya pada kawan-kawan Anda, “Apakah kita benar-benar satu tim?” Mungkin mereka akan serentak menjawab, “Tentu saja, ya.” Seseorang barangkali berkata, “Tidak usah diragukan lagi.” Tapi benarkah jawaban itu?

    Kenyataan sehari-hari akan membuktikan apakah jawaban itu dapat dijadikan pegangan, atau sekedar pemanis bibir. Kenyataan paling mencolok ialah ketika terjadi kegagalan. Fakta yang terjadi apabila kerja tim gagal bisa beragam: saling menuding dan menimpakan kesalahan pada orang lain, menggerutu bahwa waktunya mepet, atau membicarakan ketua tim sebagai salah mengambil keputusan.

    Sebaliknya, tatkala keberhasilan dicapai, semua anggota tim tampak kompak. Kimiawi tim seolah betul-betul tercampur. Anggota yang mungkin sedikit kontribusinya terhadap kerja tim akan merasa bahwa ini keberhasilannya pula. Jadi ia merasa patut merayakan kesuksesan bersama.

    Respons yang bertolak belakang ini dapat ditelusuri akarnya pada cara kita menghadapi kegagalan. Kita kerap menganggap kegagalan bagaikan dunia mau kiamat. “Habis sudah!” begitu pikir kita yang berpandangan bahwa tim akan dimarahi “big boss”, yang berarti tidak mendapat credit point, dan ujung-ujungnya tidak akan memperoleh bonus.

    Dunia kiamat? Tidak, apabila kita memperlakukan kegagalan dengan cara yang lebih manusiawi. Dan sebenarnyalah, gagal itu manusiawi. Lantaran itu, sebagai tim kita seyogyanya membiasakan diri berbagi kegagalan, bukan hanya berbagi keberhasilan. Sejumlah pakar manajemen menyebutkan bahwa lebih banyak hal dapat dipelajari dari kegagalan dibandingkan yang dapat dipetik dari keberhasilan.

    Dengan menanggungkan kegagalan secara bersama-sama, kita berbagi beban. Kerjasama tim yang sudah merekat tidak akan renggang dikarenakan saling menimpakan kesalahan. Perbaikan atas kegagalan atau kesalahan dapat dilakukan dengan jauh lebih baik. Mengubah kebiasaan menuju budaya berbagi kegagalan ini memang tidak mudah, tapi satu langkah permulaan sudah cukup baik.

    Kultur berbagi kegagalan juga akan membuat anggota tim tidak takut mengambil risiko. Tentu saja, risiko yang terkalkulasi. Tanpa keberanian mengambil risiko, tim dan orang-orang di dalamnya akan berjalan di tempat. Dan keberanian mereka patut diapresiasi. Bukankah kita kerap menyaksikan pemimpin yang berujar, “Kita harus berani mengambil risiko!” tapi kemudian meninggalkan gelanggang tatkala gagal?

    Dari kegagalan, kita bisa belajar tentang batas-batas kemampuan tim untuk saat ini. Dengan demikian, risiko dapat dikalkulasi apakah kegagalan akan mampu ditanggungkan atau tidak. Bila kapabilitas sudah meningkat, tim boleh mengambil risiko yang lebih besar, sebab, biasanya, di balik risiko yang besar terdapat peluang yang besar pula.

    Jadi, mulailah berbagi kegagalan sebagaimana berbagi keberhasilan. 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.