Hidup Bersama Petani Wonomerto

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tulisan ini adalah nukilan kisah selama Live in di Desa Wonomerto Kecamatan Bandar Kab. Batang-Jawa Tengah pada Bulan Agustus 2014. Bercerita tentang Petani-petani yang tergabung dalam sebuah paguyuban tani atau Organisasi Tani Lokal (OTL).

Desa Wonomerto adalah satu dari sekian desa yang terhimpun dalam gerakan tani lokal di Kecamatan Bandar Kab. Batang Jawa Tengah. Keberadaan Organisasi Tani Lokal (OTL) tak terlepas dari Omah Tani yang merupakan induk dari sekian puluh OTL yang tersebar di Kabupaten Batang dan Kabupaten Pekalongan. Menurut Rizca Yunike Omah Tani adalah sebuah organisasi pergerakan petani yang diawali dengan pendirian OTL-OTL di beberapa wilayah yang mengalami sengketa tanah dengan pihak perusahaan perkebunan baik Perhutani maupun perusahaan perkebunan swasta pemegang HGU. Target utama Omah Tani bersama OTL-OTL dalam perkembangannya tidak hanya perjuangan dalam penyelesaian sengketa tanah melainkan juga bergerak maju dalam gerakan politik dimana strategi perjuangan Omah Tani adalah merebut kekuasaan struktural pemerintahan mulai dari Pemerintahan desa sampai dengan merebut jabatan publik di Kabupaten Batang sebagai Bupati dan bahkan posisi anggota legislatif juga menjadi target politik Omah Tani. Target politik ini didasari satu tujuan agar supaya dapat menyelesaikan kasus sengketa tanah dan mengakomodir aspirasi petani.

Dalam tulisan ini saya tidak terlalu jauh menguraikan keterlibatan politik Omah Tani yang lebih luas spektrumnya—singkatnya Omah Tani telah menjadi kelompok kepentingan dalam kontestasi politik lokal di Jawa Tengah dan memiliki posisi tawar yang signifikan. Hal ini telah dibuktikan dalam setiap Pemilukada yang diselenggarakan di Jawa Tengah. Tentunya keberadaan Omah Tani tak terlepas dari seorang figur yang bernama Handoko Wibowo—seorang advokat yang mencurahkan hidupnya untuk kerja advokasi, pengorganisiran dan pengorganisasian petani di Kabupaten Batang. Handoko Wibowo selama 17 tahun (terhitung sejak reformasi 1998) membangun kekuatan basis-basis dan pendidikan politik bagi petani. Kerja partisipatoris Handoko mampu mengantarkan petani-petani memiliki kesadaran politik dan sadar akan hak mereka sebagai petani terutama menyangkut sengketa lahan. Menariknya, Desa Wonomerto tempat saya Live in adalah basis utama PPP namun bagi warga desa yang tergabung dalam OTL mereka memiliki preferensi politik yang berbeda dengan warga Desa Wonomerto lainnya. Preferensi politik anggota OTL Wonomerto merujuk pada preferensi politik Omah Tani.

Desa Wonomerto adalah dari dua desa (Desa Kambangan dan Desa Tumbrep di Kec. Bandar) yang menjadi lokasi orientasi lapangan para peserta yang sedang mengikuti pendidikan politik rakyat selama empat hari. Selain itu, orientasi lapangan juga dilakukan di lokasi berbeda seperti di Kecamatan Brontok yang berada di daerah Pantura. Program pendidikan politik rakyat berlangsung selama dua minggu (11-25 Agustus 2014) di Omah Tani. Orientasi lapangan (Live in) adalah satu dari beberapa agenda program Pendidikan Politik Rakyat dan melalui orientasi lapangan para peserta diajak untuk terlibat aktif bersama OTL-OTL dalam melakukan kerja kolaboratif dan partisipatif di tingkatan basis.

Tujuan diadakannya orientasi lapangan hemat saya adalah untuk memberikan pengetahuan metodis dan teknis bagi para peserta dalam menelaah persoalan-persoalan sengketa lahan, disamping itu para peserta didorong untuk melakukan pendataan secara demografis, sosial ekonomi, sosial keagamaan dan sosial politik petani. Para peserta diajak terlibat untuk menelisik dan menganalisis temuannya selama orientasi lapangan sebagai bahan riset. Tentunya, pengalaman-pengalaman secara personal didapat selama orientasi lapangan dimana setiap para peserta ditempatkan secara terpisah di tiap-tiap rumah sehingga mampu menangkap suasana kebatinan di rumah anggota OTL maupun lokasi basis yang mereka tempati.

Selama empat hari Live in saya mendapati berbagai temuan data dan yang terpenting adalah memverifikasi dan mengkonfirmasi apa yang telah saya dapatkan selama materi pendidikan politik rakyat di Omah Tani. Syahdan, orientasi lapangan memperkaya apa-apa saja hipotesis dan tesis yang sudah saya dapat sebelumnya. Sebelum ‘dilempar’ di basis saya bersama peserta lainnya diajak oleh panitia untuk perkenalan kepada warga dan melalui perkenalan tersebut menjadi starting point untuk masuk kepada apa-apa saja persoalan yang ada di tingkatan basis tatkala para peserta telah melangsungkan orientasi lapangan.

Desa Wonomerto berdasarkan temuan data yang saya peroleh terdiri dari delapan dukuh diantaranya Dukuh Krajan, Dukuh Lesem, Dukuh Kedung Barong, Dukuh Kebon Batur, Dukuh Karanganyar, Dukuh Karangsari, Dukuh Karang Tengah dan Dukuh Mertosari. Umumnya penduduk Desa Wonomerto adalah petani, ada juga peternak ayam, guru dan beberapa penduduk membuka warung klontong, warung bakso, dan usaha-usaha kecil lainnya. Dukuh Krajan merupakan wilayah yang dihuni sebagian besar anggota OTL Desa Wonomerto. Di Desa Wonomerto terdapat 96 Kepala Keluarga (KK) dari 1.200 KK yang tergabung sebagai anggota OTL. Jadi, yang terlibat aktif menjadi anggota OTL di Desa Wonomerto sekitar 0,9 % dari 1.200 KK. Merujuk pada persebaran anggota OTL di tiap dukuh, ditemukan Dukuh Krajan yang memiliki anggota OTL terbanyak, hal ini disebabkan lokasi lahan sengketa eks. PT Tratak dekat dengan Dukuh Krajan sedangkan anggota OTL di dukuh lain sebanyak 8 KK yang tersebar di Dukuh Kedong Barong 2 KK, Dukuh Lesem 2 KK, Dukuh Karangsari 1 KK dan Dukuh Mertosari  3 KK.

Desa Wonomerto terutama Dukuh Krajan adalah tempat saya Live in bersama tiga kawan saya lainnya. Para pengurus OTL Wonomerto terdiri dari tujuh orang yakni Pak Daryoso selaku Ketua, dan enam orang anggota Satgas yang bertugas mengkoordinasikan jalannya roda organisasi. Para Satgas terdiri dari Pak Maryatun, Pak Dulkarim, Pak Warno, Pak Su’uti, Pak Walidi dan Mas Abadan yang mewakili pemuda desa Wonomerto. OTL Desa Wonomerto mengadakan pertemuan internal setiap satu bulan sekali membahas distribusi uang kas dan informasi-informasi penting lainnya. Pada pertemuan eksternal diselenggarakan di Omah Tani setiap satu bulan sekali yang jatuh pada hari Selasa Kliwon bersama OTL-OTL lainnya dan menghadiri kegiatan keagamaan (sholawat Nariyah) atau Nariyahan di Omah Tani.  Kegiatan sholawat ini dikarenakan pada umumnya petani di kawasan eks. PT. Tratak adalah warga NU sedangkan warga Muhammadiyah menurut Pak Daryoso dan Pak Warhalim hanya ada disekitar ibukota kecamatan Bandar. Di desa Wonomerto saya merasakan atmosfer religius yang begitu kental khas amalan warga Nahdliyin.

Hari pertama kami tinggal disambut oleh Pak Daryoso dimana sebelumnya kami diantar oleh Pak Walam dari pesanggrahan lahan garapan miliknya yang terdapat kandang sapi. Di pesanggrahan tersebut panitia menyerahkan kami kepada Pak Walam untuk diantarkan menuju Desa Wonomerto. Kami berempat menyusuri lahan garapan yang banyak ditanami ketela, jagung, beberapa pohon cengkeh, pohon sengon dan tanaman teh. Akhirnya tibalah kami disebuah lembah dan menyeberangi jembatan yang terbuat dari bambu. Pemandangan lembah nan indah kami dapati bertaut dengan derasnya air sungai yang mengalir, bebatuan besar menjadi pemecah arus sungai yang berderas kencang. Lantas, kamipun beristirahat selama perjalanan menapaki lahan garapan dan tentu saja hasrat kami untuk menceburkan diri kedalam sungai sudah menggebu-gebu. Sontak, kami menenggelamkan diri kedalam derasnya sungai.

Perasaan riang gembira tak tertahan, kamipun mengabadikannya dalam sebuah kamera telepon pintar. Rasa ingin membagi kegembiraan kami melalui sms dan BBM kepada teman-teman lainnya rupanya kami tahan dulu karena persoalan jaringan telekomunikasi. Niatnya untuk membuat iri kawan-kawan lainnya. Dan ternyata, kawan-kawan di basis lain juga tak mau kalah mengirimkan foto-foto narsis mereka. Wah, rasanya kita norak banget dan memang begitulah sebuah impresi ketika kita pertama kali melihat sesuatu yang mengagumkan. Setelah bersenang-senang kami bergegas menuju Desa Wonomerto, selama perjalanan walaupun dekat, ya lumayan melelahkan karena mendaki dan tibalah kami di Desa Wonomerto tepatnya di rumah Pak Daryoso. Kami berempat disambut hangat tuan rumah, setelah dipersilakan masuk kami disuguhi panganan dan teh hangat yang sampai saat ini memberikan kesan yang mendalam meminumnya. Pak Daryoso kemudian menghidangkan makan siang buat kami. Berhubung perut lapar setelah lelah perjalanan kamipun makan siang dengan lahap ditambah menunya yang menggugah selera yakni sayur nangka yang dicincang, ikan asin, kerupuk, dan sambal yang luar biasa pedasnya membuat kami begitu lahap sekali makan sampai keringat deras bercucuran. Usai makan siang kami memperkenalkan diri dan begitupun dengan Pak Daryoso memperkenalkan diri dan riwayat singkat OTL Desa Wonomerto. Pak Daryoso begitu ekspresif dan bersemangat sampai dengan detik ini kami mengenalnya. Beliau sangat aktif dan militan dalam perjuangan OTL dan terlibat aktif di setiap pertemuan di Omah Tani. Begitupun dengan anggota Satgas lainnya dengan gaya dan karakter mereka yang khas that’s point semuanya sangat militan.

Hari menjelang petang kami beristirahat dan sembari menanti datangnya waktu maghrib kami bercengkerama satu sama lainnya menikmati suasana sore di Desa Wonomerto yang dari hari pertama hingga kini kami rasakan begitu  bertalu—sangat melodius sekali. Ba’da Isya kami berkumpul di rumah Pak Dulkarim untuk diperkenalkan kepada semua anggota OTL yang sudah lebih dulu berkumpul. Di rumah beliau biasanya dijadikan tempat untuk bermusyawarah ditingkatan basis OTL Desa Wonomerto. Kami memperkenalkan diri dan menentukan di rumah siapa saja yang kami tempati sebagai kegiatan orientasi lapangan. Sebagaimana yang telah saya tulis diatas saya tinggal di rumah Pak Maryatun, banyak hal yang saya tangkap dari sosok Pak Maryatun ialah semangat beliau dalam berorganisasi dan tanggung jawabnya sebagai Satgas. Disamping itu, Pak Maryatun adalah sosok yang sudah sepuh namun beliau memberikan sebuah nilai kesederhanaan dan sikap hidup yang bersahaja—minimal bagi saya. Pak Maryatun memiliki lima orang anak, satu tinggal di Jakarta, dua di Kalimantan Tengah, dan dua lagi di di desa yang sama. Beliau tinggal bersama istri dan dua orang cucunya. Selama empat hari bersama beliau, tak hanya melulu soal OTL namun saya mendapati kesan Pak Maryatun begitu sayang kepada kedua cucunya yang tinggal bersama beliau. Betapa dekatnya hubungan antara cucu dengan kakek, ketika saat makan bersama, saya menyaksikan sang kakek yang menyuapi cucunya dengan hidangan sayur kol, oseng-oseng melinjo, tempe goreng dan air teh hangat yang daunnya dipetik dari lahan garapan milik Pak Maryatun, sang cucu yang manja memeluk hangat kakeknya dan pada momen tersebut saya mendapati sebuah pemenuhan batin. Begitupun dengan Ibu Wahyuni—istri Pak Maryatun yang memasak dan mengurusi pekerjaan rumah tangga. Ibu melarang saya untuk mencuci piring—ya menurutnya piring yang kotor cuma sedikit tak perlu saya repot-repot mencucinya.  

Pak Maryatun memiliki luas lahan garapan di lahan eks. PT Tratak seluas 60 x 30 m yang diolah untuk ditanami pu’ung (singkong/ketela), jagung, padi, pohon sengon, pohon cengkeh dan teh di sisi lahan. Sedangkan luas rumah yang dimiliki Pak Maryatun seluas 10 x 14 m ditambah 30 m² lahan pekarangan. Pak Maryatun bercerita pertama kali menggarap lahan ketika masih di jaga oleh seorang Mandor dan memberikan upeti sebesar Rp. 10.000/Bulan namun tatkala reformasi bergulir dimulailah upaya-upaya perlawanan dan perjuangan petani untuk memperebutkan lahan eks PT Tratak yang bersengketa dengan para petani penggarap. Puncak perlawanan petani dipicu oleh insiden pembacokan seorang petani oleh preman yang dikenal dengan kelompok Roban Siluman dan pecahlah konflik yang membuat petani berani sehingga mereka dapat dengan bebas menggarap lahan yang ditinggalkan mandor tersebut setelah para preman kalah dalam konflik fisik. Kemudian perjuangan petani garapan lahan eks. PT Tratak mendapatkan advokasi dari Handoko Wibowo yang kebetulan tinggal tidak jauh dari lokasi konflik lahan. Dalam perkembangannya Pak Handoko mampu mengadvokasi, mengorganisir dan mengorganisasikan petani sehingga mereka memiliki posisi tawar yang kuat. Selama 17 tahun reformasi Pak Handoko senantiasa memediasi, mengadvokasi dan mendidik petani untuk memiliki kesadaran akan haknya sebagai petani vis a vis  perusahaan perkebunan pemegang HGU. Selain itu, tentu petani menjadi mampu berdaya secara politik dan ekonomi melalui serikat yang dibentuk.

Gerakan politik Omah Tani seperti yang saya singgung diatas tidak hanya melulu pada advokasi penyelesaian sengketa lahan namun merambah ke bidang politik praktis dengan mengorganisir kekuatan petani dalam berpolitik dimana Omah Tani menentukan preferensi politik petani di tingkatan basis OTL. Pak Warhalim—seorang petani penggarap yang saya temui di lahan garapan membenarkan hal tersebut. Beliau disela-sela istirahat di gubuknya berbincang-bincang soal preferensi politik petani, soal sengketa lahan, soal mata pencaharian petani di Desa Wonomerto, soal keterlibatan petani dalam perjuangan Omah Tani, dan soal sosial keagamaan di Desa Wonomerto, kebetulan lahan garapan Pak Warhalim bersebelahan dengan lahan garapan Pak Maryatun. Pak Warhalim menceritakan ketika pertama kali terlibat dalam Organisasi Tani Lokal (OTL) dimana beliau mengikuti semacam pembekalan hukum atau pelatihan Paralegal di LBH Semarang yang berlangsung selama satu minggu, pelatihan tersebut diminta dan dibiayai oleh Pak Handoko, “begitu kata beliau”. Singkat cerita tersebarlah aktifitas OTL-OTL ditempat lainnya.

Pengorganisasian petani di tingkatan basis memberikan bekal pengetahuan praktis organisasi bagi petani untuk menjalankan jalannya roda organisasi. Struktur kerja OTL adalah diselenggarakannya permusyawaratan internal yang membahas soal distribusi uang kas, informasi-informasi penting dan mengimplementasikan keputusan bersama OTL-OTL lainnya di Omah Tani yang setiap sebulan sekali pada Hari Selasa Kliwon digelar pertemuan. Pak Maryatun selaku Satgas OTL bertugas mengkoordinasikan anggota-anggota OTL dimana menurut Pak Warhalim tugasnya adalah “marah-marah”—mengkoordinasikan dan mengajak anggota berkumpul baik ditingkatan basis maupun ketika ada pertemuan di Omah Tani. Pak Warhalim mengingat pesan Pak Handoko bagi semua anggota OTL yakni Leher harus panjang, Perut harus besar, dan Pinggang harus seperti kapuk. Ungkapan tersebut dimaksud agar anggota OTL dalam setiap perkataan dan tindakan harus sadar & luwes, ada intruksi apapun harus siap, dan siap sedia jika ada panggilan di pertemuan OTL dan Omah Tani.

Lantas, apakah selama ini ada kendala dengan Omah Tani, Satgas OTL yang saya temui mengatakan sama sekali tidak ada kendala apapun dengan Pak Handoko. Menurut mereka Pak Handoko berjanji tidak meminta imbalan dalam bentuk apapun baik uang maupun lahan garapan kepada mereka. Saya tergerak menelisik kenapa semua anggota OTL setuju dengan semua keputusan yang ada. Menurut mereka keputusan yang dibuat sudah dikomunikasikan terlebih dahulu berdasarkan garis komando dari Omah Tani. Hemat saya ada rantai komando dan atau garis koordinasi dan garis intruksi dari Omah Tani ke pengurus OTL kemudian disampaikan kepada semua anggota OTL. Namun begitu prinsip musyawarah tetap menjadi mekanisme dalam membuat keputusan baik di tingkatan Omah Tani maupun di tingkatan basis. Saya menyaksikan sendiri di Omah Tani bagaimana sebuah keputusan dibuat bersama dan di tingkatan basis saya juga menyaksikannya dimana seluruh anggota OTL berkumpul untuk memutuskan suatu keputusan misalnya soal distribusi uang kas yang dibayar sebulan sekali sebesar Rp. 2000 yang digunakan untuk membantu anggota tertimpa musibah entah itu kematian, biaya ke rumah sakit dsb. Tentunya, keputusan-keputusan yang dibuat berlandaskan pada prinsip transparansi dan akuntabilitas. Pada saat saya menghadiri rapat saya mencermati soal pembahasan pendataan ulang KK anggota OTL dan informasi-informasi lainnya. 

Dalam penelusuran ke lahan garapan saya tak lupa menanyakan perihal saluran irigasi di Desa Wonomerto dan menurut penuturan Pak Warhalim saluran irigasi tersebut sudah ada sejak zaman Belanda namun saat ini fungsinya tidak begitu signifikan dalam meningkatkan produktifitas pertanian. Pak Warhalim juga menuturkan pipa-pipa panjang yang saling terhubung adalah jalur distribusi air bersih yang dibagi ke setiap rumahtangga. Tanaman yang ditanam di lahan garapan terdiri dari Jagung dan Singkong baik yang ditanam secara bersamaan maupun terpisah. Selain itu, petani penggarap menanam padi untuk kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan keterangan yang saya peroleh, masa tanam jagung selama 6 bulan dan total panen jagung untuk satu lahan garapan sebesar Rp.500-600 ribu/lahan, tanaman singkong yang dipanen biasanya membutuhkan waktu minimal 1.5-2 tahun dengan harga sekali panen di satu lahan garapan berkisar Rp. 1-2 juta/lahan. Dalam menanam Pak Maryatun dan petani OTL lainnya menggunakan pupuk kompos dan penggunaan pupuk urea untuk tanaman tertentu saja (baca: padi). Tanaman keras seperti pohon sengon dan pohon saman membutuhkan waktu sekitar lima tahun agar mempunyai nilai jual. Kriteria nilai jual berdasarkan ukuran diameter pohon sekitar 20m² seharga Rp. 300-500 ribu/pohon. Sedangkan tanaman teh dan melinjo hanya untuk konsumsi pribadi saja karena volumenya yang kecil. Begitupun cengkeh yang dijual terbatas karena bukan tanaman utama.

Pengamatan secara sosial ekonomi saya merujuk pada tesis James Scott bahwa ada etika subsistensi dimana petani anggota OTL yang saya amati memiliki semacam etos subsisten dengan memanfaatkan hasil pertanian untuk kebutuhan hidup sampai di perut—begitu menurut Scott. Tesis ini mendasari pada perilaku petani yang khas dalam mempertahankan hidup dan menjaga struktur sosial petani yang sudah ada tanpa adanya campur tangan dari negara dan rezim kapitalistis. Pemberontakan kaum tani sepanjang riwayatnya dihadapkan pada tekanan pskilogis, politis dan mekanisme pasar yang merusak tatanan moral ekonomi susbsistensi. Dalam konteks petani Desa Wonomerto tekanan tersebut datang dari negara yang memberikan konsesi lahan bagi perusahaan perkebunan dalam Hak Guna Usaha (HGU) yang membuat petani terusir dari tanahnya dan selama rezim Orde Baru petani di kawasan sengketa lahan PT. Tratak mendapatkan banyak sekali tekanan-tekanan struktural yang mengancam mereka.

Pada masa reformasi usaha penuntutan hak atas lahan mendapatkan momentumnya dengan pengorganisiran dan pengorganisasian petani yang dibantu oleh Omah Tani. Petani OTL Wonomerto memiliki satu ekspetasi yakni agar supaya proses sertifikasi dan legalisasi tanah dapat segera terbit dan itulah harapan terbesar para petani yang tergabung dalam OTL. Ada kekhawatiran jika sertifikat terbit akan membuat kolektivitas mereka luntur namun bagi para petani yang tergabung dalam OTL mereka berkomitmen untuk tetap mempertahankan hubungan sosial dan kehidupan kolektif sebagaimana selama ini yang terorganisir di basis-basis OTL tanpa harus meninggalkan kohesifitas sosial sekalipun ada perubahan besar dalam sistem pertanian seperti penggunaan teknologi pertanian dsb. Dus, saat ini pengorganisiran dan pengorganisasian petani yang selama ini telah terbangun sampai pada tahap petani berpolitik (Petani Go Politic) dan setahap lagi menuju kemandirian ekonomi petani (Petani Go Economy). Petani memainkan peran sosial politiknya sebagai entitas politik yang diperhitungkan—minimal di Kabupaten Batang. Dan Omah Tani bersama OTL-OTL adalah perwujudan politik rakyat. Namun terlepas dari itu semua yang menjadi satu persoalan adalah masa depan organisasi Omah Tani beserta OTL-OTL-nya dimana belum ditemukan figur kuat seperti Handoko Wibowo yang memiliki kemampuan mengkapitalisasi kekuatan tani dan begitupun kohesi sosial yang selama ini terbangun apakah akan tetap terjaga jika nanti anggota OTL memperoleh sertifikat tanah atau akankah ada konflik baru yang muncul seiring persoalan internal dan juga perubahan lansekap politik lokal. wallahualam

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua