Politik Kita dalam Kisah Perang Troya - Analisa - www.indonesiana.id
x

arjunaputra aldino

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Politik Kita dalam Kisah Perang Troya

    Pada suatu ketika, Agamemnon, sang penguasa kepulauan Yunani, tengah memanggil para raja dan pangeran dari seluruh Yunani untuk berperang melawan Troya. Raja memutuskan perang karena seorang pangeran Troya telah menculik Helen, ratu Yunani dari pelukannya

    Dibaca : 5.671 kali

    Pada suatu ketika, Agamemnon, sang penguasa kepulauan Yunani, tengah memanggil para raja dan pangeran dari seluruh Yunani untuk berperang melawan Troya. Raja memutuskan perang karena seorang pangeran Troya telah menculik Helen, ratu Yunani dari pelukannya.

     

    Dalam kisah Iliad karya Homeros ini, dikenal seorang laki-laki yang buruk rupa, seorang rakyat yang sungguh jelata, bajunya lusuh nan kusam raut wajahnya. Ketika Agamemnon raja Yunani memutuskan untuk berperang mengalahkan Kota Troya, ia adalah laki-laki yang paling jelek di antara para pasukan. Kakinya lemah sebelah, pundaknya melengkung, bahkan rambutnya tinggal beberapa helai di ubun-ubun. Ia, Thersites namanya.

     

    Tapi apa sebab ia tercatat dalam Iliad karya terbesar Homeros?

     

    Pada suatu saat, setelah bertahun-tahun perang melawan kota Troya itu tak selesai. Thersites seorang laki-laki lemah, dengan gagah berani mendamprat Raja Agamemnon.

     

    “Hai, Agamemnon”, teriaknya dengan suara yang nyaring.

    “Kini apa yang membuat diri tuan tak tenang, apa lagi yang tuan inginkan?”

    “Tenda tuan sudah penuh dengan logam berharga dan perempuan jelita. Tiap kali kami taklukkan kota, kami selalu persembahkan jarahan itu kepada tuan. Apa lagi yang tuan inginkan? ”, saut Thersites dengan hati yang geram.

     

    Nampaknya, suara Thersites ialah suara orang yang lelah berperang. Suara orang kecil yang lelah dengan keadaan dimana orang kelas bawah seperti dia hanya menanggung rasa sakit dan derita. Hingga ia mengecam mereka yang berkuasa. Maka ia berseru, ”Tuan tak berbuat baik, dengan membiarkan bangsa yang tuan perintah jadi sengsara”. Ia geram dengan sang raja yang hingar bingar berperang di atas penderitaan rakyatnya. Suara Thersites ialah gugatan atas ketidakadilan. Gugatan orang-orang kecil atas kekuasaan yang pongah nan ganjil. Perang Troya yang bertahun-tahun itu bermula karena istri sang raja jatuh ke pelukan orang lain. Ia pada mulanya adalah ego, yang akhirnya menentukan segalanya. Ego yang menjalar yang akhirnya menciptakan kesengsaraan bahkan ketidakadilan. Hingga melahirkan perlawanan dari orang-orang kecil macam Thersites yang mengenyam getah ketidakadilan.

     

    Kisah Thersites menggambarkan bahwa kekuasaan yang brutal nan tamak niscaya akan memunculkan perlawanan dari orang-orang yang tertindas dan teraniaya. Mereka menginterupsi ego penguasa yang selalu haus akan tahta dan kebesaran. Bagi Thersites peperangan hanya berguna untuk memuaskan ego penguasa, sedangkan orang kelas bawah seperti dirinya hanya mendapat rasa lelah, muak bahkan penderitaan hidup akibat perang yang tak kunjung usai. Dalam pertempuran tersebut, orang-orang Yunani telah membantai banyak pemimpin Troya, termasuk sang pangeran yang telah menculik Helen dari tangan Agamemnon. Namun para penguasa Yunani tak juga mengakhiri perang melawan Troya.

     

    Thersites tak tahu apa sebenarnya yang hendak dicari oleh para penguasa Yunani itu. Ketika kekuasaan, kebesaran dan kemewahan telah mereka dapat namun tak kunjung puas hatinya. Ia terus menghendaki peperangan bertahun-tahun lamanya hingga menyisakan kesengsaraan. Orang-orang kecil macam Thersites merasa dirinya hanya dieksploitasi untuk memenuhi ego dan nafsu penguasa. Keberadaannya di medan perang seolah-olah hanya untuk memenuhi nafsu penguasa yang tak kunjung berakhir. Ketika para elite sibuk berperang untuk memenuhi syahwatnya, orang-orang kelas bawah macam Thersites seringkali hanya menjadi kuda tunggangan yang bahunya dicambuki, di ikat lehernya serta di tarik ke manapun sesuka penguasa. Suara mereka di catut, di bajak dan sekedar menjadi legitimasi penguasa, rakyat hanya dijadikan stempel kekuasaan. Selebihnya, mereka hanya menjadi domba yang mengaung tak berdaya.

     

    Mereka hanya menjadi bidak-bidak catur dalam konstelasi kekuasaan. Mereka seolah-olah dipaksa hanya menjadi penonton dari konstelasi perang yang terjadi. Keberadaan mereka dicaplok oleh bos-bos pengisap yang pada gilirannya mengisap semua lapisan masyarakat. Perilaku penguasa mirip perilaku serigala yang rakus, yang tak segan menumpahkan darah rakyat tidak berdosa demi kekuasaan politik. Yang membuatnya ganas, brutal, dan mau berkuasa liar. Di tengah kekuasaan yang demikian, keadilan hanyalah sandiwara. Tak lebih lelucon dari badut-badut ancol, yang dijadikan topeng sandiwara akbar kebangsaan. Rakyat hanya dibuat seolah-olah berdaulat, nyatanya berbagai kepentingannya diabaikan.

     

    Ketika spirit perubahan berjalan terlalu lamban, dan kondisi turbulensi yang terlalu berlarut-larut, niscaya menimbulkan ketaksabaran, keputusasaan, dan frustrasi. Dan Thersites memilih melawan di tengah perang yang diinginkan para penguasa tak kunjung usai. Perlawanan Thersites ialah sebuah pertanda bahwa kekuasaan sedang digoyang oleh kebobrokannya dan kian dikutuk oleh warga yang ingin menjauhkan diri darinya. Tatkala kekuasaan itu di kutuk dan ditinggalkan oleh rakyatnya  Di saat itulah kekuasaan sang raja menghadapi risiko menjadi suatu sistem yang lumpuh.

     

    Dan ketika Agamemnon tak menyahut gugatan Thersites, Thersites pun berseru kepada sejawatnya: ”Marilah kita berlayar pulang, dan tinggalkan orang ini di Troya”. Mendengar itu, salah seorang pangeran yang diperintahkan Agamemnon, Odysseus, mendatanginya. Pangeran Ithaca ini marah. ”Jaga mulutmu, Thersites!”, sautnya. Dan Odysseus pun memukulkan tongkatnya ke punggung Thersites. Thersites pun tersungkur, bengkak dan berdarah.

     

    Thersites bersuara dan ia dipukul, bahkan diabaikan tapi bukankah dengan demikian kita tahu ada “kepongahan” dalam wibawa sang raja, bahwa sang raja dan para pangerannya tak ingin ditinggalkan sendiri di ambang Perang Troya?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.