x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mengapa Orang Cerdas tak Selalu Berhasil

Keberhasilan bukan ditentukan oleh kecerdasan intelektual semata. Karakter kepribadian justru berperan besar.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.”

--Albert Einstein (1879-1955)

 

Apakah orang yang cerdas selalu berhasil? Sejarah kesuksesan membuktikan bahwa kecerdasan tidak identik dengan keberhasilan. Karakter kepribadianlah yang memberi peluang besar kepada seseorang untuk meraih apapun cita-citanya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Para ilmuwan menyebutkan, ada lima aspek besar dalam kepribadian yang paling diwariskan kepada setiap orang; dan setiap orang memiliki kombinasi unik dari kelima sifat ini. Sebagai suatu kombinasi, dalam diri seseorang masing-masing sifat memiliki takarannya sendiri: ada yang lemah, kuat, atau di antara keduanya.

Sifat lima besar ini dirumuskan Paul Costa, Jr. dan Robert McCrae dari National Institute of Aging, AS, dalam singkatanOCEAN. Pertama, openness to experience. Ini merupakan ukuran penerimaan seseorang terhadap pengalaman dan gagasan baru. Kedua, conscientiousness. Ini mengukur motivasi dan tingkat kehati-hatian pendekatan seseorang dalam menyelesaikan tugas atau keberanian dalam mengambil risiko. Ketiga, extroversion, yakni mengukur ketertarikan seseorang pada aktivitas dan orang lain; sejauh mana seseorang membuka diri untuk bergaul dengan orang lain.

Keempat, agreeableness, yakni ukuran kemampuan dan kemauan bekerja sama dengan orang lain dan menghindari konfrontasi. Kelima, neuroticism, yang terkadang disebut pula stabilitas emosional. Ini adalah ukuran kecenderungan seseorang dalam measakan emosi negatif yang kronis, seperti depresi, kegelisahan, dan rasa permusuhan.

Apa relevansinya mendiskusikan sifat-sifat tadi dengan entrepreneurship? Studi mutakhir telah menunjukkan adanya pengaruh genetis terhadap kepribadian dan perilaku. Karena itu, berusaha memahami dan memanfaatkan latar belakang genetik demi meningkatkan peluang sukses bukanlah tindakan yang tak beralasan.

Pendekatan OCEAN membantu kita untuk ‘memetakan’ kecenderungan sifat yang diturunkan secara genetik. Sebagai contoh, inovator, peneliti, entrepreneur, bahkan sebagian orang pemasaran cenderung memiliki skor tinggi pada ukuran keterbukaan. Sedangkan, profesi di bidang keuangan lebih banyak diisi oleh orang yang penuh kehati-hatian.

Pemahaman terhadap pengaruh sifat-sifat pada kinerja ini sangat penting, tak peduli apakah Anda pebisnis tunggal atau pemimpin perusahaan terkemuka. Pendeknya, dengan mengetahuinya, Anda dapat memahami cara gen-gen itu membantu Anda.

Namun begitu, sekedar memahami tidaklah cukup. Anda mungkin memiliki keunggulan genetik tertentu. Tapi, jika Anda tak mencoba melejitkannya, keunggulan itu takkan pernah memberikan hasil yang maksimal. Tanpa dilatih, kemampuan genetik itu tak ada gunanya.

Dalam bukunya The DNA of Success, Tom Harrison menyatakan, semakin sering seseorang merasakan keberhasilan, otak pun semakin dilatih untuk mengidamkan keberhasilan dan mencari cara untuk dapat menciptakan dan mengulangi kesuksesan lagi. Tom menyimpulkan dari pengamatannya, orang-orang yang paling sukses adalah orang yang memilih lingkungan dan tantangan yang sesuai dengan kepribadiannya. (sbr foto: virtualstafffinders.com) ***

 

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler