Olgaphobia - Seleb - www.indonesiana.id
x

YOHAN MISERO

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Seleb
  • Berita Utama
  • Olgaphobia

    Dibaca : 6.885 kali

    Ia tetap senyap walau sekitar sungguh ribut. Tanpa suara ia melangkah pergi dengan yakin. Maka tenang sudah Olga Syahputra. Selamat beristirahat dari dunia yang teramat riuh ini. Mati. Ia meninggalkan kita semua dengan segala pikiran kita terhadap dirinya. Tak serela itu rupanya kita ditinggalkan olehnya. Ada yang melakukan selfie di pemakamannya. Ada yang mencuit memakinya di media sosial. Ada yang menulis dan berlelah mencoba merefleksikan relasi antara Olga Syahputra dan masyarakat. Walau jelas, tak semua dari kita mengenal Olga. Tak semua dari kita mengerti beban hidup yang dihadapinya. Tak semua dari kita mengetahui apa yang ia sukai untuk makan siang. Toh, kita tetap menghakimi.

    Banyak dari kita tertawa terbahak-bahak saat ia ada di layar kaca. Terkekeh-kekeh melihat gayanya yang kemayu, merasa geli saat ia bercanda dengan kasar. Olga, dengan caranya –yang tentu saja tidak dapat disepakati semua orang-, berusaha keras membuat masyarakat sedikit melupakan perkara-perkara hidup yang menyebalkan. Dalam sebuah perspektif, hal itu amat mulia.

    Di sekitar kita, sadar tak sadar, banyak orang seperti Olga. Berbeda. Mereka amat lembut dan berdandan seperti ibu-ibu sosialita di saat masyarakat berekspektasi bahwa mereka akan sangar dan tak peduli akan penampilan. Mereka berambut cepak dan dan tegas seperti seorang ayah yang konservatif di saat masyarakat berekspektasi bahwa mereka akan berambut panjang dan halus serta ceria layaknya model. Dua kalimat sebelum ini hanya dua contoh kecil akan manusia dan ekspresinya yang tidak bisa dan, sepatutnya, tak boleh dikekang.

    Tulisan ini tak bertujuan untuk menguliahi pembaca tentang jender dan seksualitas. Penulis jauh dari kapasitas itu. Tulisan ini hanya ingin menyatakan bahwa keberagaman itu ada. Anda bisa saja sementara bersembunyi namun anda tak akan bisa selamanya berlari.

    Mungkin memang ini semua soal ketidaktahuan. Ketidaktahuan yang sama telah membuat kita takut pada kegelapan dan gemetar saat bertemu calon mertua. Ketidaktahuan ini telah dengan keras membenturkan nilai-nilai yang selama ini kita pegang teguh dengan realita. Nilai-nilai itu bisa macam-macam: agama, doktrin, budaya, adat istiadat, dan sebagainya.  Argumentasi bahwa perilaku demikian tak sesuai dengan budaya nasional, sejatinya justru merupakan manifestasi dari ketidakpahaman terhadap budaya itu sendiri. Keberadaan akan jender ketiga di adat dan budaya nusantara cukup bertebaran dari lakon pewayangan hingga keberadaan lima jender dalam suku Bugis. Lalu, bukankah agama hadir dengan misi mulia membawa perdamaian, bukannya memusuhi sesama? Bukankah agama seharusnya mencerahkan, tidak memaksakan?

    Olga, citranya, dan ekspresinya harus diakui amat beruntung. Ia mendapatkan apa yang Freddy Mercury dapatkan: perayaan. Orang terhibur olehnya dan menangisi kepergiannya. Di sisi lain, banyak saudara-saudara kita yang disisihkan dari keluarga, dikucilkan di sekolah, sulit mendapatkan pekerjaan, bahkan dipukuli hingga mati oleh dan hanya karena ia adalah seorang manusia yang mengekspresikan dirinya sendiri tanpa mengganggu orang lain.

    Bagaimana kita sanggup menyanyikan “We Are The Champions” yang dipopulerkan oleh Freddy Mercury bersama Queen, berbahagia menyaksikan Ellen DeGeneres, mendengarkan suara merdu Charice, mendendangkan lagu Elton John,  menggunakan berbagai laptop dan smartphone yang terinspirasi dari Enigma-nya Alan Turing, dan bersenang-senang melalui layar kaca karena Olga Syahputra; namun di saat yang sama tanpa ragu-ragu siap menjadi polisi moral dan mendiskriminasi sesama manusia yang punya ekspresi diri yang berbeda? Ekspektasi memang menyakiti, mencoba mengerti akan mengobati. Walau mungkin sepenuhnya tak akan memahami, toh kita tetap menghakimi.

     

    Kurt Cobain

     

    Photo Credits: Warta Kota & Tumblr

    ***

     

    Ditulis oleh Yohan Misero. Seorang pria straight seret jodoh yang, saat tulisan jelek ini tercipta, masih berjuang untuk keluar dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, yang telah mengurungnya selama 6 tahun terakhir. Ia memohon doa dari pembaca (yang suka, bisa, dan mau berdoa) agar jalannya menuju sarjana dimudahkan. Bisa dikunjungi di http://sembunyimu.blogspot.com/ atau diikuti di https://twitter.com/yohanmisero.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.