x

Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan saat meresmikan stasiun Palmerah, Jakarta, 6 Juli 2015. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

Iklan

Narayuga Prajna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Stasiun Palmerah: Kaset Baru, Lagu Lama

Stasiun Palmerah kini terlihat baru. Kendati demikian bagi sebagian orang tidak terasa perbedaannya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah rangkaian kereta Commuter Line melambatkan lajunya. Suara pegas rem menjadi sinyal kepada para calon penumpang di atas peron untuk bersiap naik kereta. Tembok dan kanopi stasiun Palmerah yang kini terlihat megah menjadi saksi bisu hiruk pikuk pengguna jasa Commuter Line. Stasiun Palmerah yang dahulu terlihat kumuh kini terlihat megah semenjak di renovasi. Kendati demikian, adakah perbedaan pada stasiun Palmerah selain kemegahan fisik semata?

"Ngga ada yang beda, sama aja." ujar Yan, seseorang yang sudah bekerja selama 2 tahun sebagai petugas parkir stasiun di Jakarta yang sedang berisitirahat di sebuah warung. Yan menghisap rokok dan menghembuskan asapnya sebelum lanjut berbicara. "Palingan cuma nambah lebar, jadi dua lantai, dan bersihan. Itupun juga gara-gara baru dibuka." Memang, kini stasiun Palmerah memiliki atap kanopi setengah lingkaran, area stasiun yang lebih besar dari sebelumnya, dan panel-panel informasi jadwal kereta yang modern menghiasi stasiun yang dulu terlihat sudah sangat usang. 

Namun menurutnya yang tidak berubah adalah ia dan rekan-rekannya harus melakukan setoran bulanan kepada "orang wilayah" sebagai uang terima kasih. Tanpa uang "Terima Kasih", kejahilan preman setempat didapatnya di sekitar areal parkir. Bahkan kini, orang yang ini bekerja di areal stasiun Palmerah harus melalui tangan licin "orang wilayah" tidak lagi hanya membayar setoran kepada preman.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Petugas keamanan di dalam stasiun pun juga terlihat santai. Seringkali mencuri-curi kesempatan untuk mengobrol bersama rekan-rekannya meski sedang bertugas. Petugas keamanan malah terlihat lebih tepat disebut sebagai petugas pengarah lantaran memang nampak hanya sebagai penunjuk jalan penumpang yang bingung.

Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi manajemen baru PT. KAI agar tidak hanya fokus dalam membuat modern stasiun dan armada kereta. Keamanan dan kesejahteraan para pegawai stasiun juga harus ditingkatkan. Perubahan bukan hanya yang harus terlihat oleh mata, namun juga dapat dirasakan oleh sanubari. Kinerja pegawai meningkat maka calon penumpang akan terpikat.

 

Ikuti tulisan menarik Narayuga Prajna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler