Mistik Hantu Cerutu di Istana Presiden RI - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sunu Dyantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Mistik Hantu Cerutu di Istana Presiden RI

    Dibaca : 42.810 kali

    Kisah mistik tentang hantu di Istana Presiden Republik Indonesia, kerap kita dengar. Semua cerita itu, penuh bunga-bunga cerita. Diemperi, kata orang Jawa. Misalnya, di Istana Merdeka Jakarta, meja marmer kokoh, mendadak pecah berantakan oleh sebab yang tidak diketahui.  Di Istana Bogor juga berkembang kisah mistik hantu menyeramkan yang suka jahil, mengganggu orang hingga kesurupan.

    Di Yogyakarta, saya juga sering mendengar ada hantu di Istana Gedung Agung. Kata kisah, itu hantu tidak ada wujudnya, tapi ada suaranya. Mirip prajurit berbaris. Dulu, di pertengahan dekade 1990-an, seorang kawan tidak berani pipis di dekat pohon rindang, tepi pagar Gedung Agung.

    Ia takut bukan karena alasan memang tidak pantas pipis di ujung Jalan Malioboro itu. Ia takut lebih karena buat dia tempat itu angker. Padahal, waktu itu sejumlah titik di pagar Gedung Agung pesingnya minta ampun. Hingga sekarang pun, terutama jika malam tiba, masih banyak orang yang kebelet dan ngothor seenaknya, buang air seni di situ. “Yang suka main di Titik Nol Kilometer Yogya, ora nguyuh sembarangan, Dab.

    Tentu, cerita mistik hantu Istana yang kayak-kayak gitu, tidak baru sama sekali buat anda semua, lawas. Cerita mistik hantu Istana paling gres, saya dapatkan baru pada Kamis, pekan pertama September 2015. Hantu paling anyar yang saya dengar ini, tidak persis dari Istana Merdeka, tapi dari Bina Graha. Ya, masih di dalam lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta sih.  Kalau ternyata cerita hantu cerutu yang saya dapat ini tidak baru, yaa saya mohon maaf, boleh kan.

    Sekadar kasih tahu, Bina Graha ini dibangun oleh Presiden Soeharto.  Biar punya gembaran agak lengkap tentang Bina Graha, ini buat kamu yang malas atau sengaja malas, saya cuplikkan penjelasannya dari dokumen perpustakaan nasional. Gedung berlantai II itu digagas oleh Direktur Utama PT Pertamina Ibnu Sutowo.

    Proyek gedung seluas 2.955,30 meter persegi itu dimulai pada tahun 1969 dan selesai tahun 1970. Kaca jendela gedung itu tebal, antipeluru. Letak Bina Graha (Jalan Veteran 17) di sebelah timur Istana Negara menghadap Sungai Ciliwung.  “Ingat Ibnu Sutowo, ingat cucu mantunya ya, Dian Sastrowardoyo.”

    Ringkas cerita, Bina Graha ini jadi tempat Soeharto berkantor selama 30 tahun lebih. Kata orang sih, Soeharto tidak berani berkantor di Istana Negara, memilih di Bina Graha bukan tanpa alasan. Ada yang bilang, Soeharto kalah awu sama aura Presiden Sukarno yang masih singgah di situ. Yang lain lagi bilang, Soeharto tidak tinggal di Istana Negara karena rekomendasi dari para penasihat spiritualnya. Alasan mana yang bener? Tidak usah digagas, luweh!

                                               ***

    Endi mistik hantune?” Ini pren, ini cerita dari orang-orang yang berkantor di Istana Kepresidenan, yang sekarang istananya Pak Presiden Jokowi, ya.  Ketika dilengserkan oleh gerakan reformasi yang tulang punggungya mahasiswa, Soeharto yang suka ngisep cerutu, masih menyisakan satu wadah cerutu. Ada juga beberapa batang cerutu yang tidak lagi dalam kemasan di ruang kerjanya. Cerutu itu, masih bertahan di bekas meja kerja Soeharto, dan baru dipindahkan ke tempat lain, masih di Bina Graha juga, beberapa waktu lalu.

    Ruang kerja penguasa Orde Baru itu ada di lantai dua Bina Graha, luas sekali. Ukurannya, paling nggak 15X15 meter. Masih ada patung 20 kuda dalam satu batang kayu warisan Soeharto. Kamar tidur dan kamar mandinya, bertembok marmer. Pas ke situ, saya (maaf) nunut pipis, sembari membayangkan gagah beraninya saya mengencingi kamar mandi penguasa, yang kata banyak orang, otoriter itu.

    Wis mengkirig opo urung, Dab? Kalau belum mengkirig, berdiri bulu kuduk, siapa-siap ya. Setelah Soeharto meninggal pada 27 Januari 2008 lalu, pegawai Istana kerap mencium aroma kuat wangi cerutu di bekas ruang kerja Soeharto di Bina Graha. Menurut mereka, tibanya aroma cerutu itu tidak tentu waktu. Kadang siang, yang paling kerap pada malam hari.

    Datangnya wangi cerutu itu, disertai bunyi telapak sepatu menginjak lantai. Suara ini mirip suara orang bersepatu sedang mengayunkan langkah kakinya. “Kata pegawai di sini yang percaya, itulah saat ‘Soeharto’ datang ke Bina Graha,” kata seorang yang bekerja di Istana Kepresidenan. Lalu, pegawai yang merasakan suasana wingit itu pun segera menjauh dari tempat itu. Mereka yang sedang lembur, segera berkemas dan pulang bergegas.

    Apakah benar yang datang adalah arwah Soeharto? Yaa kalau berminat, anda coba sendiri membuktikannya. Yang pasti saya kurang tertarik. Lagi pula, wong barang kayak gini kok mau dibuktikan kebenarannya. Kayak penelitian ilmiah saja.

    Biar saya tidak dituduh suka mistik, saya kasih tau ya. Banyak buku ilmiah tentang politik kekuasaan di Indonesia karya indonesinis asal Amerika, Australia, atau Eropa yang menyebut sisi mistisme ini. Ada realitas sosial-politik,  banyak orang Indonesia suka mistik. Majalah Time yang kesohor itu, juga pernah menulis tentang pemimpin-pemimpin Asia yang berpendidikan modern. Tapi ternyata, mereka suka metafisika, demen datang ke tukang ramal. Seorang di antaranya adalah Soeharto.

    Terakhir, mari coba googling dengan kata kunci ‘soeharto cerutu’ untuk mendapatkan gambaran utuh Presiden Soeharto sedang ngemut cerutu. Ada juga foto jari tangan Soeharto menjepit cerutu. Ini bukan bermaksud mengajak anda percaya bahwa bau cerutu dan teplak-teplok sepatu di Bina Graha itu adalah ciri-ciri datangnya arwah Soeharto.

    Saya hanya mengajak untuk mengapresiasi karya foto yang dahsyat. Di antaranya foto Soeharto jepretan Larry Burrows, fotografer andal Majalah Life di tahun 1967. Setelah sukses mengapresiasi foto-foto itu, teman saya -- bukan saya -- mengajak berikut ini. “Bayangkan senyumnya dan wangi cerutunya menjelang tidur malammu.”

    Jakarta, 5 September 2015

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.