Dendam Seabad MU-Liverpool - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Alex Ferguson. (AP Photo)

Yos Rizal Suriaji

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Olah Raga
  • Pilihan
  • Dendam Seabad MU-Liverpool

    Dibaca : 22.151 kali

    Datang dan langsung melempar tantangan. Itulah yang dilakukan pertama kali Alex Ferguson ketika memegang jabatan pelatih Manchester United pada November 1986, menggantikan Ron Atkinson. Kepada media, Fergie mengatakan, “Tantangan terbesar saya bukan apa yang terjadi saat ini, tetapi saat menjatuhkan Liverpool dari keberhasilan mereka. Anda bisa memberitakan tentang itu.”

    Pernyataan itu seketika mendidihkan kembali rivalitas panjang Manchester United-Liverpool. Saat itu, Ferguson bukan sesiapa. Prestasi klub yang bermarkas di Old Trafford itu juga kalah jauh dibanding klub dari Merseyside. MU baru memenangi 7 gelar juara liga, sedangkan Liverpool sudah menyabet 11 gelar juara liga dan empat juara Piala FA. Pada 1984, Liverpool bahkan meraih treble winners dengan menyandingkan gelar juara liga, Piala FA dan Piala Champions.

    Apa yang terjadi 27 tahun kemudian, ketika Sir Alex mundur dari MU, justru sebaliknya. Ia membuktikan ucapannya: memenangi 13 gelar juara liga saat memimpin MU, meraih treble (juara liga-Piala FA, Piala Champions) pada 1999, dan menjadi satu-satunya pelatih yang memenangi Piala FA sebanyak lima kali. United kini sudah mengantongi 20 gelar juara liga, sementara Liverpool 18 gelar.

    Dan di saat turun gunung pada 2013 itu, dalam otobiografi berjudul “Alex Ferguson, My Autobiography”, ia kembali “menyerang” Liverpool dengan ucapannya yang pedas. Ia mengkritik sekaligus tiga pelatih Liverpool: Kenny Dalglish, Rafael Benitez dan Brendan Rodgers. Di tangan Benitez, misalnya, Fergie menyebut Liverpool sebagai “tim yang membosankan”. Sedangkan Liverpool di masa Rodgers, kata dia, “butuh delapan pemain lagi untuk menjadi kandidat kuat juara Liga Premier.”

    Apa yang akan dikatakan Ferguson pada musim ini ketika Rodgers benar-benar telah membeli banyak pemain baru sejak ditinggal Luis Suarez: lebih dari delapan pemain, malah? Apa yang akan dia komentari ketika MU dan Liverpool kembali bertemu di Old Trafford pada Sabtu, 12 September 2015 ini?

    Saya belum membaca buku terbaru Fergie yang dirilis Mei lalu, “Leading”. Boleh jadi, sama seperti yang dilakukannya bertahun-tahun, Fergie akan terus meniupkan api dendam dua klub terbesar di Inggris itu—ironisnya, keduanya pada musim lalu terlempar dari tiga besar Liga Primer. Saya menduga, sama seperti dia datang dan pergi dari MU, Ferguson akan melakukan hal yang sama: mencibir Liverpool.

    Cerita dendam dua klub itu memang bukan perkara 30-40 tahun. Kisah perseteruan keduanya sudah tertoreh sangat lama: lebih dari seabad lalu! Rivalitas mereka bahkan dimulai dari luar lapangan bola. Hubungan dua kota yang hanya berjarak 50 kilometer itu menegang ketika Manchester membangun Manchester Ship Canal pada 1894. Kanal itu telah memotong jalur perdagangan kapal yang sebelumnya melewati pelabuhan Liverpool.

    Manchester nekat membangun pelabuhan sendiri lantaran kecewa pada Liverpool yang telah menerapkan tarif tinggi bagi jalur distribusi produk-produk mereka. Saat itu Manchester sudah dikenal sebagai kota industri tekstil—mobil Roll Royce juga diproduksi pertama kali dari kota ini. Sedangkan Liverpool dikenal sebagai kota pelabuhan. Dengan pembangunan kanal baru itu, perekonomian kota Liverpool pun anjlok secara drastis.

    Sejak itu, aroma kemarahan menguar di kedua kota. Warga Liverpool, yang sering disebut Scouse, menuduh Mancunian, julukan warga Manchester, sebagai biang kerok di balik kekacauan yang terjadi di kotanya. Sedangkan para Mancunian menuding para Scouse sebagai para pengerat kemakmuran tetangganya. Kebencian itu melebar ke berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali di sepak bola.

    MU memang dibentuk lebih dulu pada 1878 dengan nama Newton Heath Lancashire and Yorkshire Railway Football Club (Newton Heath LYR F.C.) oleh para pekerja rel kereta api. Sedangkan Liverpool FC didirikan oleh John Houlding pada 15 Maret 1892. Tapi klub Liverpool-lah yang lebih dulu mencorong ketimbang MU. Liverpool saat itu mendapat julukan “The Reds”, MU kemudian menjuluki dirinya “The Red Devils”.

    Meski United merupakan tim Inggris pertama yang memenangi Piala Champions pada 1968, tapi prestasi The Reds jauh lebih banyak. Di bawah kepemimpinan Bill Shankly (1959-1974), Liverpool berubah menjadi raksasa sepak bola di Inggris maupun di Eropa. Di masa akhir kepemimpinan Shankly itu pula, Liverpool berada di papan atas liga (dulu bernama Divisi I) dan meraih juara Piala FA, sementara United justru terlempar ke Divisi II.

    Kini, United telah mengantongi gelar juara liga terbanyak: 20 kali, mengalahkan Liverpool dengan 18 gelar—Liverpool bahkan belum pernah menjadi juara sejak Divisi I berganti nama menjadi Liga Primer. Tapi di kancah Eropa, The Reds lebih unggul dengan meraih lima gelar Liga Champions, sedangkan The Red Devils baru mengantongi tiga gelar.

    Layaknya Ferguson, Shankly adalah pelatih yang paling sering memanaskan rivalitas kedua kubu ketika bertemu dalam “North West Derby”. Salah satu ucapan William “Bill” Shankly yang paling sering dikutip untuk menggambarkan pertarungan keduanya adalah: "Beberapa orang berpikir sepak bola adalah hidup dan mati. Tapi saya yakinkan Anda, ini akan jauh lebih penting daripada itu semua.”

    Shankly membuktikan ucapannya dengan melibas United. Begitu pula Ferguson yang kerap membuat Liverpool tak berkutik. Kini, ketika MU dilatih Louis Van Gaal dan Liverpool dibesut Brendan Rodgers, rasanya tak ada perang kata-kata yang melonjakkan suhu persaingan kedua kubu. Padahal, justru ejekan, cibiran atau omong besar itulah yang kerap kali menghidupkan persaingan dalam sepak bola. Ke mana perginya api dendam seabad itu?

    Yos Rizal Suriaji


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.