3 Alasan Kenapa Kita Sangat Kehilangan Bang Buyung - Analisa - www.indonesiana.id
x

Luthfi Yazid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • 3 Alasan Kenapa Kita Sangat Kehilangan Bang Buyung

    Dibaca : 11.085 kali

    Bukan hanya kalangan hukum yang berduka atas wafatnya Adnan Buyung Nasution (ABN) pada hari  Rabu 23 September 2015, namun juga bangsa Indonesia kehilangan tokoh besarnya. ABN atau juga sering dipanggil Bang Buyung adalah sebuah fenomena di negeri ini dan manusia sejarah yang penuh dengan warna.

    Sepak terjangnya di dunia hukum, perjuangannya menegakkan hak asasi manusia dan demokrasi telah menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Kegigihan, keberanian, toleransi, semangat berbagi, rela mengkader generasi muda adalah sebagian dari sifat dan karakter dari Bang Buyung.

    Mengapa Bang Buyung menjadi penting dalam perjalanan bangsa ini dan dunia hukum di tanah air? Pertama, ia merupakan salah satu pendiri gerakan sosial dan hukum yang terpenting di tanah air yakni Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Dia adalah seorang pioner, arsitek utama lembaga bantuan hukum yang secara gigih dan konsisten membela masyarakat yang terpinggirkan. Melalui lembaga yang ia rintis dan sempat ia pimpin dari tahun 1970 inilah kita menyaksikan lahirnya berbagai gerakan dan bantuan hukum di tanah air. Dan LBH yang dibangun Bang Buyung berada di garda terdepan sebagai “gerbong demokrasi” melawan kekuasaan yang sewenang-wenang.

    Kedua, ABN adalah juga saksi dan salah satu pelaku sejarah pergeseran kekuasaan politik dari setiap rezim. Ia pernah menjadi anggota DPR/MPR tahun 1966/1968. Ia berada di barisan depan mengkritisi dan mendobrak kekuasaan Orde Lama, Soekarno  dengan membidani kelahiran Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI) pada tahun 1966-1968. Dialah salah satu tokoh yang menumbangkan Orde Lama dan mengantarkan Orde Baru dibawah Soeharto. Setelah Soeharto berkuasa begitu lama, ia juga salah satu tokoh reformasi  yang berkontribusi menumbangkan Soeharto dari kekuasaannya. Bang Buyung tak pernah gentar menghadapi berbagai tekanan, teror bahkan penjara.

    Ketika majalah Tempo, DeTik dan majalah Editor dibreidel oleh Rezim Soeharto dia yang berapiapi membelanya dan menyampaikan orasinya di sekitar Tugu Monas pada sekitar Juni tahun 1994. Bang Buyung mendesak agar ketentuan tentang SIUPP segera dicabut, kemerdekaan pers segera di jamin. Berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di masa Orde Baru di berbagai wilayah menjadi perhatian utama Bang Buyung untuk dilawan. Karenanya tak heran bila semangat dan “virus Buyung” juga menular kepada banyak kaderny. Kini kader Bang Buyung ada di mana-mana di ibukota maupun daerah.  Ada yang kini menjadi pejabat penting/ publik di pemerintahan, politisi, aktivis LSM, advokat di berbagai kantor hukum, pengajar, guru besar di berbagai universitas, budayawan dan sebagainya.  Inilah juga salah satu kelebihan Bang Buyung dalam “mengkader” generasi-generasi muda penerusnya tanpa pamrih dan agar tetap memiliki tekad dan sensitivitas kepada ketidakadilan.

    Ketika awal masa Orde Reformasi, Bang Buyung mengawal demokratisasi di tanah air, dengan menjadi salah satu anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU). Di masa reformasi sampai menjelang wafatnya ia tidak berhenti berbuat untuk negeri  ini. Oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) ia ditunjuk menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden dimana dimasa ABNdi Wantimpreslah pertamakali pemilihanhakim Mahkamah Konstitusi (MK) pada tahun 2008 dibentuk Pansel serta melibatkan publik.

    Ketiga, Bang Buyung ternyata bukan hanya seorang pejuang keadilan dan advokat senior yang pernah dijuluki Bapak Advokat Indonesia, namun dia juga seorang ilmuwan dan intelektual. Gelar Doktor yang beliau raih dengan susah payah dari Universitas Utrecht  di negeri Belanda, menghasilkan sebuah disertasi monumental bagi bangsa ini dan kini menjadi sejarah dan klasik. Lebih dari itu, penghargaan sebagai guru besar di bidang hukum dari Universitas Melbourne merupakan salah satu bukti penghargaan international kepadanya.Terlalu banyak untuk menyebutkan kiprah ABN dalam perjuangan menegakkan negara hukum dan hak asasi manusia, baik di tanah air maupun di dunia internasional. Ia juga melahirkan banyak karya tulis dan berbagai buku yang kini menjadi rujukan.

    Hanya pertanyaannya yang tersisa ialah: akankah semangat Buyung akan terus bergelora di negeri yang kian sarat dengan persoalan ini? Akankah lahir “Buyung-Buyung Muda” untuk meneruskan perjuangannya? Inilahtantangan dan menjadi tanggungjawab  berat kita. Bang Buyung, sebenarnya bangsa dan negara ini masih membutuhkan Abang, namun Yang Maha Menggengam Kehidupan Allah SWT lebih mencintai Abang. Kami semua sangatberhutang budi pada Abang. Selamat jalan Bang Buyung, semoga engkau mendapat tempat yang terbaik disisiNYA.*


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.