Falsafah Hidup Pedagang Tepi Jalan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) berjualan di kolong jembatan (flyover) Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, 13 Mei 2015.TEMPO/Subekti

Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Falsafah Hidup Pedagang Tepi Jalan

    Dibaca : 3.179 kali

    Siang itu, seperti biasanya, setiap pasaran burung, selalu saya menyempatkan diri berkeliling dari satu pedagang ke pedagang burung yang lain. Saya tahu, tak akan banyak jenis burung yang ditawarkan setiap pasarannya, dan bahkan sering kali tak pernah berganti.

    Ada keasyikan sendiri, mendengarkan orang-orang saling tawar menawar, atau memerhatikan anak-anak kecil usia belasan tahun membeli burung pleci dan emprit yang bulunya sudah dibikin warna warni. Ada ragam sangkar kecil dari triplek dan anyaman kawat kecil. Saya tahu persis juga, burung itu tak akan lama bertahan hidup. Pasalnya, burung-burung itu hasil jaringan yang masih terbiasa hidup di alam bebas. Mereka tak terbiasa berada di sangkar kecil. Stress, tak mau makan, dan akhirnya tubuhnya kaku.

    Hanya ada sedikit burung berkelas, dan itu harganya sangat mahal. Karenanya hampir bisa dipastikan, pembeli di pasar kecamatan itu tak akan mampu menjangkaunya. Sebut misalnya, murai batu dengan ekor yang sangat bagus, warna kecoklatan yang mengkilat. Untuk jenis burung ini, tak ada satu pun orang berani bertanya harganya. Di sebalahnya ada burung kepodang seharga satu juta limaratus dan burung jalak uren seharga delapanratus limapuluh ribu.

    Burung kepodang itu tampaknya memang sudah lama dipelihara. Keramaian orang lalu lalang sama sekali tak membuatnya takut. Ia begitu santainya, tetap mematuk pisang segar-matang. Kadang memakan makanan voor, dan beberapa patukan ia meminum air di wadah yang tergantung di sebelah gantungan pisang.

    Burung jalak uren itu sangatlah cerewet. Ia terus mengeluarkan suaranya yang melengking panjang, tak henti-henti. Saya menduga burung itu piaran si pedagang. Sebab setiap kali, pedagang itu memetikkan jari dengan ibu jarinya, burung itu akan manggut-manggut, lalu menengadahkan kepalanya, dan membuka paruhnya lebar-lebar, seruan indah dari rongga mulutnya mengalun tak henti-henti.

    Di sudut timur, barisan sangkar burung, selalu saja saya melihat laki-laki usia 60-an tahun. Seperti biasanya, ia menggelar lapak dari karung plastik bekas beras. Beberapa karung ia sobek, dan dijahit untuk menyambungkannya. Tak terlalu lebar, kira-kira ia memiliki lapak seukuran 3 meter persegi.

    Baju-baju bekas dan celana bekas ia tawarkan di atas lapak itu. Hampir tak ada yang memerhatikan keberadaannya. Orang-orang berseliweran di hdapan lapaknya. Tetapi tak ada pula yang menoleh atau berhenti barang sejenak melihat dagangannya. Kalau toh ada yang duduk dan memegang barang dagangan itu, ia bukanlah hendfak membeli. Tetapi orang-orang yang sudah mengenalnya, dan biasanya berbaik hati menawarkan sebatang rokok atau sebotol air mineral.

    Saya, siang itu, tak seperti biasanya, tertarik juga mengobrol dengannya. Setelah berbasa-basi, dan bertanya hal-hal yang ringan, saya iseng mengajukan pertanyaan. Sebenarnya agak sedikit khawatir, kalau pedagang itu tersinggung dengan pertanyaanku.

    Dengan senyum melebar, lalu menenggak sedikit air mineral, tampak ia mau memulai menjawab pertanyaanku. Saya terkejut dengan jawaban yang sangat mendalam dari laki-laki itu. Menurutnya, sebagai pedagang, tugasnya membeli barang dagangan, memperkirakan keuntungan yang hendak didapatkan, lalu membuka lapak, dan menungguinya. Itulah pekerjaan pokok seorang pedagang.

    "Soal ada pembeli atau tidak, itu urusan yang ada di sana," katanya sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah langit.***


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.