Membedah Akar Ketakutan Bangkitnya PKI - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sejumlah aktivis Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) memberikan keteranganpers di Jakarta, 21 Agustus 2015. Acara musikal tersebut untuk merefleksikan kembali 50 tahun peristiwa pembunuhan dan pembantaian jutawan jiwa rakyat Indonesia

Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Membedah Akar Ketakutan Bangkitnya PKI

    Dibaca : 37.273 kali

    Dalam sejarah politik dunia, komunisme sudah Bangkit. Berbagai kekuasaannya sudah di berbagai negara. Tetapi, di negeri ini, ketakutan terhadap bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) selalu menggema di setiap 30 September.

    Membongkar akar ketakutan terhadap kebangkitan komunisme sangat menarik. Sebab akar ketakutan ini pula yang selalu memunculkan tindakan reaksinoer dari berbagai kalangan. Lihat saja, bagaimana Abdurrahman Wahid, di sesalkan sebagian NU, saat memiliki gagasan meminta maaf kepada PKI. Manakala terdengar kabar, Jokowi akan meminta maaf reaksi itu menguat kembali.

    Jika melihat dari tindakan kejam dan pembunuhan, hampir setiap rezim berkuasa dan hendak mempertahankan kekuasaannya, selalu saja melakukan kekerasan, penculikan, pembunuhan, penghilangan orang, penahanan tanpa proses pengadilan. Tetapi terhadap kejahatan rezim ini tak mendapatkan respons reaktif seperti terjadi kepada PKI.

    Kejahatan Belanda yang tak hanya menguras habis kekayaan negeri, Jepang tak kalah kejamnya, dengan menjadikan perempuan-perempuan bangsa ini menjadi budak nafsu, tak juga mampu menimbulkan tindakan reaktif seperti terhadap PKI?

    Ketakutan terhadap bangkitnya komunisme, patut diduga berakar pada pemahaman, PKI itu ateis, tak memercayai adanya Tuhan. Kebangkitan PKI menjadi sangat menakutkan, dan membiarkannya sama dengan membolehkan ateisme di negeri ini. Jadi tak semata-mata soal tindak pembantaiannya.

    Jika menilik ulang gagasan dasar komunisme bukanlah pada soal agama. Melainkan pemikiran kritis terhadap kapitalisme yang dalam pemikiran Marx, sangat menghisap kelompok jelata, kaum miskin papa. Secara ideologis, komunisme sedang melawan ideologi kapitalisme itu. Sama sekali tak sedang melawan pemikiran agama, apalagi soal ketiadaan Tuhan.

    Kalau kemudian, muncul gagasan lanjutan, agama dinilai sebagai penjinak kritisisme kaum jelata, bisa jadi sebagiannya benar. Sebab, ketika kaum jelata itu begitu kuatnya ditindas dan dieksploitasi secara ekonomi, mereka tak ada jalan lain menyerah pasrah, seperti yang diajarkan agama, mengenai kesadaran, setelah susah akan datang gembira. Bagi komunisme, ajaran semacam ini menghalangi orang untuk melawan ketidakadilan akibat ulah manusia.

    Penilaian agama seperti ini tak cukup alasan untuk mengatakan gagasan komunisme sebagai ateis. Sebab, akar gagasannya memang bukan pada pemikiran agama-agama, melainkan pada ranah ekonomi dan sumber daya.

    Lantas kenapa pikuk itu selalu saja terjadi? Mari kita semua merenung kembali dan secara jernih memikirkannya.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.