Hari Santri Nasional, Seberapa Penting? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama) membuat barikade di panggung saat pembahasan Tata Tertib Muktamar NU ke 33 di Alun-alun Jombang, Jawa Timur, Minggu malam, 2 Agustus 2015. ANTARA/Zabur Karuru

Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Hari Santri Nasional, Seberapa Penting?

    Dibaca : 9.471 kali

    NU akhirnya menagih janji Jokowi yang akan menetapkan Hari Santri National (HSN) sebagai hari besar nasional. Menurut NU Jokowi sudah berjanji pada saat kampanye Pilihan Presiden 2014 lalu.

    Usulan penetapan HSN tanggal 22 Oktober berdasarkan peristiwa sejarah perlawanan santri terhadap masuknya sekutu di Surabaya tahun 1945. Saat itu dikumandangkan Resolusi Jihad yang difatwakan Hadratusysyaikh Kiai Hasyim Asy'ari.

    Resolusi Jihad diserukan Kiai Hasyim Asy'ari dalam sebuah Rapat Konsul-konsul NU se Jawa dan Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945. Semangat Resolusi Jihad mengatakan pernah melawan penjajah sebagai pernah suci, kematian para pejuang dijamin masuk surga.

    Berdasarkan seruan itu Kiai dan Santri dari pesantren-pesantren tampil di depan melakukan perlawanan. Tak ada lagi rasa takut di hati mereka. Resolusi Jihad membangkitkan tak hanya semangat juang, melainkan keberanian mengorbankan jiwa untuk kemerdekaan Negeri ini.

    Bahkan dalam naskah Resolusi Jihad dengan jelas disebutkan menegakkan NKRI sebagai fardlu 'Ain (kewajiban bagi setiap orang). Dalam dokumen Resolusi Jihad dinyatakan dengan jelas dituliskan, "Untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum agama Islam, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam."

    Selanjutnya dalam bagian lain, disebutkan, "Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam."

    Persoalannya kemudian, seberapa penting peristiwa besar ini ditetapkan sebagai HSN? Jawaban paling konservatif penetapan HSN sebagai bentuk-bentuk pengenangan jasa masa lalu. Tentu saja jika ini kepentingannya bisa dibilang kurang menarik gagasan menjadikan HSN.

    NU akan sangat menarik manakala mampu membangun argumentasi yang memiliki orientasi ke masa depan. Misalnya, dengan HSN akan menjadi inspirasi gerakan multiculturalism di Indonesia. Mampu mengembangkan Islam Nusantara yang akan menjadi benih-benih penyebaran Islam yang ramah terhadap nilai budaya lokal.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    2 hari lalu

    Bangun Jutaan Tandon Air Hujan-Padat Karya Tunai, untuk Menambah Cadangan Air Kemarau dan Mengurangi Banjir, serta Dampak Covid 19

    Dibaca : 121 kali

    Pembangunan yang terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi berakibat terjadinya alih fungsi hutan dan ruang terbuka hijau secara masif menjadi: perkotaan, permukiman, areal industri, perkebunan sawit, kawasan pertambangan minerba dan galian C, berbagai sarana transportasi, perladangan berpindah dan lahan gundul kritis terlantar; telah berujung terjadinya banjir-banjir besar di musim hujan,diikuti kekeringan dan kelangkaan air di musim kemarau, serta air kotor / tercemar oleh limbah cair dan sampah yang menyumbat sungai dan drainase sepanjang tahun. Mengatasi masalah ini sekarang pemerintah sedang giat-giatnya membangun banyak bendungan/waduk banjir dan serbaguna bersamaan dengan merehabilitasi hutan dan konservasi lahan (gerhan). Namun upaya gerhan dan bangun waduk-waduk tersebut belum optimal menurunkan debit puncak banjir DPB) yang membesar/meningkat menjadi 5 (lima) kali debit (Q) sebelum alih fungsi tata guna tanah. Untuk mengantisipasi dampak alih fungsi tata guna lahan ini peraturan perundang-undangan terkait Penataan Ruang telah memuat persyaratan prinsip Zero Delta Q (Pertambahan Debit Nol). Tulisan ini menguraikan pentingya menerapkan prinsip Pertambahan Debit Nol ini dengan membuat/membangun jutaan tandon-tandon air hujan di seluruh nusantara; untuk melengkapi dan mengoptilakan upaya yang sedang berjalan tersebut di atas, namun sekaligus dapat menyerap tenaga kerja secara padat karya bagi penduduk yang terdampak pandemi Covid 19.